09:00 . Dakwah Islam Indonesia: Merangkul Bukan Memukul (Munas X MUI 2020)   |   08:00 . Indonesia Berpengalaman dan Siap Distribusi Vaksin Sampai ke Pelosok   |   07:00 . Nyeri Haid Hilang Setelah Menikah, Mitos atau Fakta?   |   06:00 . Ayo Warga Jatim Jangan Lengah Lur.....   |   20:00 . UPDATE Perkembangan Penanganan Covid-19 Indonesia   |   19:00 . Optimisme Pendidik di Tengah Tantangan Pandemi Covid-19   |   18:00 . Pembelajaran di Tengah Pandemi Covid, Pemkab Semangati Guru   |   17:00 . Vaksin Upaya Serius Negara Melindungi Masyarakat   |   16:00 . 36 Pelanggar Prokes di Ngasem Diberikan Sanksi Sosial   |   15:00 . Selamat, Kak Bibin Resmi Lepas Lajang   |   14:00 . Masih Muda, Mahasiswi Ini Semangat Berwirausaha   |   13:00 . Kapan Anak Harus Pakai Masker?   |   12:00 . Hari Guru Nasional: Garda Guru Perangi Covid-19   |   11:00 . Peran Remaja Masjid Era Milenial   |   10:00 . 5 Hal yang Harus Dihindari saat Pakai Masker   |  
Fri, 27 November 2020
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Wednesday, 02 August 2017 12:00

Serpihan Agresi Militer II di Tuban-Bojonegoro (1)

Pengintai Kapal Belanda di Tuban

Pengintai Kapal Belanda di Tuban

Tiga kapal berbendera Belanda terlihat Kopral Karmono di jarak 10 mil dari lepas pantai Glondonggede, pada 18 Desember 1948 silam. Sebuah peristiwa yang menjadi titik mula berlangsungnya agresi militer Belanda ke-II di Kabupaten Tuban dan Kabupaten Bojonegoro.

Reporter: Edy Purnomo, Tim Investigasi


blokBojonegoro.com –
Pantai Glondonggede berjarak sekitar 30 kilometer di sisi barat pusat pemerintahan Kabupaten Tuban, dan masuk wilayah administratif Wedana Tambakboyo (sekarang Kecamatan Tambakboyo). Bentang pantai yang cukup panjang dengan kondisi yang relatif sepi dibanding pantai yang berada di pusat kota, lebih memungkinkan pasukan marinir Belanda mendarat tanpa mendapat gangguan dari pasukan gerilya.

“Pantai Glondonggede memang pernah menjadi tempat pendaratan pasukan Belanda,” kata Kepala Desa Glondonggede, Kastur.

Pendaratan ratusan pasukan Belanda itu demi menuju sejumlah wilayah di Kabupaten Tuban, Kabupaten Bojonegoro, dan beberapa wilayah lain di Jawa Timur. Di Tuban dan Bojonegoro, keberadaan pasukan kompeni ingin menguasai sumur-sumur minyak mentah yang tersebar di Tuban, Bojonegoro, ataupun Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Selanjutnya menurut catatan DHC 45, melihat ada yang tidak beres di pantai Glondonggede, Kopral Karmono yang tak lain adalah anggota Order Distrik Militer/ODM (sekarang Koramil) langsung mengambil sepeda pancal dan mengayuhnya sejauh lima kilometer menuju markas ODM Tambakboyo. Dia melaporkan apa yang dilihatnya ke Komandan ODM setempat, Letnan Dua B.K. Nardi.

Baca juga [Agresi Militer II dari Tuban Sampai Bojonegoro]

Yang terjadi adalah koordinasi beberapa orang penting di wilayah Tambakboyo. Diantaranya: Komandan ODM Letnan Dua B.K. Nardi dan seorang anggotanya, Sersan Mayor Lasiban, Asisten Wedana (pembantu Bupati) Tambakboyo, Dwidjosoemarto, juga Dansek Kepolisian (sekarang Polsek) Tambakboyo, Brigadir Polisi Martodihardjo.

Rapat kilat antara tokoh militer dan pemerintahan itu menyepakati tindakan awal: Asisten Wedana Tambakboyo dibantu kepala desa memberitahu penduduk agar sesegera mungkin mengungsi ke wilayah Desa Belikanget yang berjarak sekitar 4 kilometer ke arah selatan Tambakboyo, sementara komandan ODM dan anggotanya, Serma Lasiban dan Kopral Karmono, serta Dansek Tambakboyo kembali ke Glondonggede untuk membuktikan kebenaran laporan.

Setelah memastikan informasi, mereka kembali berbagi tugas. Kopral Karmono dan Serma Lasiban tinggal di tempat untuk terus melakukan pemantauan pergerakan kapal belanda yang akan masuk wilayah Tuban. Komandan ODM dan Dansek kembali ke markas Tambakboyo untuk menghubungi instansi induknya melalui sambungan telepon di kantor Asisten Wedana.
 
Di catatan perjuangan DHC 45, Letda B.K Nardi langsung menelpon Komandan Distrik Militer/KDM (sekarang Kodim), Kapten R.E. Soeharto yang saat itu diterima staf piket Prajurit Dua, Noerfakih. Kemudian Dansek Tambakboyo, menelpon Danres (sekarang Polres) Ajun Komisaris Polisi R. Soesito yang diterima ajudannya, Brigadir Polisi Soekiman.

Asisten Wedana Tambakboyo, Dwidjosoemarto menelepon kantor Bupati yang diterima langsung Bupati Tuban yang saat itu dijabat KH. Mustain. Sore itu juga Bupati Tuban memerintahkan staf untuk mengamankan dokumen negara di Pendopo Kabupaten Tuban.

Suasana dirasa semakin genting, para petinggi militer di Tuban, Komandan KDM menyiapkan dan mengirim pasukan satu pleton yang dipimpin Letda Soetadi dengan satu kendaraan truck. Pasukan pertama ini langsung menyisir rute Tuban-Jenu-Tambakboyo (sekitar 30 kilometer) dan sampai sekitar pukul 17.00 WIB.

Mereka membagi tugas pengintaian di pesisir pantai Glondonggede dan sekitarnya dengan komando yang tegas kepada pasukan: tidak boleh mengadakan penyerangan terlebih dulu kecuali dalam keadaan terpaksa.

Kemudian Danres Kepolisian, R. Soesito mengirimkan Satuan Perintis yang dipimpin Inspektur Polisi Klas II Soemadi yang juga mengendarai satu truck dengan menyisir rute Tuban menuju ke arah Merakurak, kemudian melintas di Kerek dan berakhir di Tambakboyo.

Setelah melakukan penyisiran, Soemadi juga menurunkan beberapa anggotanya di beberapa tempat strategis untuk melakukan pengintaian. Dia sendiri sampai di Tambakboyo sekitar pukul 18.00 WIB, dan langusng melakukan pertemuan dengan Danres Tambakboyo guna membuat kantor distrik dengan IP Klas II Soemadi sendiri sebagai Komando Distrik Kepolisian.

Kopral Karmono yang melakukan pengintaian sejak awal melaporkan Belanda mendarat di pantai Tambakboyo sekitar pukul 20.00 WIB. Pasukan asing itu melepaskan tembakan secara membabi buta untuk membentengi diri. Sementara gerilyawan Tuban yang melakukan pengintaian sejak sore hari menunggu dengan sabar.

“Dulu memang pernah ada gubuk pengintaian yang berdiri di utara pertigaan Glondong, tapi sekarang sudah hilang karena rapuh,” jelas Kastur.

Kelak, para pasukan Belanda harus berkorban banyak menghadapi pasukan-pasukan pribumi yang bertempur secara gerilya, baik di Tuban ataupun Bojonegoro. Salah satu yang terkenal adalah keberadaan Brigade Ronggolawe, yang melakukan perlawanan dan gangguan kepada penjajah di wilayah Tuban dan Bojonegoro.

Wilayah pantai di sisi barat Tuban memang mempunyai nilai sejarah bagi perjalanan militer di Indonesia. Catatan blokTuban.com (blokMedia Group), hari Sabtu, 21 November tahun 2015 lalu, Korps Marinir meresmikan Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) yang berada di sisi barat Pantai Glondonggede, tepatnya di Desa Bancar, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban. [pur/mad/bersambung]

Tag : perjuangan kemerdekaan di bojonegoro, penjajahan di bojonegoro


* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

  • Thursday, 26 November 2020 15:00

    Selamat, Kak Bibin Resmi Lepas Lajang

    Selamat, Kak Bibin Resmi Lepas Lajang Momen bahagia kembali dirasakan Keluarga besar Blok Media Group (BMG). Personil dari Blok Multimedia (anak perusahaan BMG), M. Tholibin resmi melepas masa lajangnya setelah menyunting pujaan hatinya, Siti Muza'roah....

    read more

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat