19:00 . Rakernas AMSI, Rumuskan Strategi Dorong Ekosistem Digital yang Adil bagi Media Siber   |   18:00 . Pemkab Peringatkan Modus Penipuan Mengatasnamakan Bupati Bojonegoro   |   17:00 . Peduli Korban Bencana Alam Indonesia, PGMI UNUGIRI Lakukan Penggalangan Dana   |   16:00 . Guna Atasi BOR, Daerah Diminta Berkoordinasi ke Pusat   |   15:00 . Stok Menipis, Harga Cabai rawit Merah Merangkak Naik   |   14:00 . Ranting Nahdlatul Ulama Mulyorejo dan Banom Tanam Seribu Pohon   |   13:00 . Musim Penghujan Tiba Penjualan Belimbing Ngringinrejo Turun Drastis   |   12:00 . Tenaga Ahli BNPB: Belum Divaksi, Ketua Satgas Terpapar Covid-19   |   11:00 . Begini Alur Pelayanan Vaksinasi di Fasilitas Kesehatan   |   10:00 . Ketua Satgas Covid-19 Terkonfirmasi Positif, Diduga Terpapar Saat Makan Bersama   |   09:00 . Pengaruh Cuaca, Harga Seafood Merangkak Naik   |   08:00 . Pasien Sembuh di Indonesia Terus Meningkat Menjadi 9.912 Orang   |   07:00 . 7 Tips Tampil Berkelas Tanpa Bikin Isi Dompet Amblas   |   05:00 . 21 Pasien di Bojonegoro Sembuh, Tambahan Kasus 17 Orang dan 1 Meninggal   |   20:00 . 172 Ribu Lebih Orang Sudah Divaksinasi Covid-19   |  
Mon, 25 January 2021
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Dari Ban Bekas, Mampu Pekerjakan 14 Tetangganya

blokbojonegoro.com | Sunday, 04 March 2018 18:00

Dari Ban Bekas, Mampu Pekerjakan 14 Tetangganya

Reporter : Muhammad Qomarudin

blokBojonegoro.com -
Ban-ban bekas yang kerap hanya menjadi penghuni tong sampah atau dibakar saat berunjuk rasa ternyata mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Di tangan Iswahyudi, ban bekas bisa disulap menjadi beragam produk mebel cantik dan unik, seperti kursi dan meja.

Bahkan, dengan ban bekas tersebut dirinya mampu meraup keuntungan mencapai 50 juta dalam satu bulannya dan juga pernah mendapatkan sampai Rp225,000.000 juta. Tak hanya itu saja, pria asal Dusun Gampeng, Desa Kedungbondo, Kecamatan Balen itu turut membantuk mengurangi angka pengangguran di lingkungnya.

"Saya mempunyai sekitar 14 pegawai untuk membuat kursi karet dan sekitar 8 sales," kata Iswahyudi.

Sebelum memilih menjadi pembuat kursi, dirinya juga seorang seles kursi karet hasil buatan tetangganya yang dijualnya di luar pulau Jawa, seperti Kalimantan, Flores, Sumbawa maupun kota-kota lainya. Pekerjaan seles tersebut, lanjut Yudi sudah ditekuninya sejak tahun 2003 sampai akhir tahun 2014.

"Saya bekerja jadi seorang seles setelah lulus sekolah SMA, namun sebelum menjadi seles saya pernah juga menjadi kuli bangunan selama 6 bulan," terang ayah satu anak ini.

Selama belasan tahun menjadi seles kursi, dirinya menimba ilmu dari pembuat kursi karet itu dan juga cara memasarkan yang baik sehingga dipercaya oleh pembeli. Pasalnya, menurut Yudi untuk menjelankan suatu bisnis harus dibarengi dengan manajemen yang bagus.

"Dulu Gampeng adalah sentra pembuat kursi karet, tetapi sekarang yang menjalankannya tinggal empat orang saja. Padahal, kursi yang dibuat oleh warga gampeng tidak terkenal di kota Ledre saja, tetapi juga di luar pulau Jawa," katanya.

Setelah mendirikan usahanya di akhir tahun 2014, produk kursi karet dari ban bekas buatan Yudi ternyata diminati banyak warga. Sejak itulah, pria 34 tahun ini terobsesi untuk merintis usaha kursi mebel dari ban bekas sebagai salah satu peluang usaha yang menjanjikan keuntungan.

Setelah berjalan beberapa tahun, banyak konsumen yang tertarik terhadap produk kursi karet karya Yudi dan menyebabkan dirinya maupun karyawannya kewalahan memenuhi permintaan pelangganya di berbagai daerah, khususnya luar pulau Jawa.Untuk kursi sendiri, dirinya menjual dengan harga Rp600 ribu satu setnya, kalau masih di pulau jawa.

Namun, berbeda lagi kalau berada di luar pulau Jawa yang ia bandrol sekitar 1,5 juta sampai 2,5 juta per-empat kursi dan 1 meja (Satu set) tersebut. Sebab, menurut pria lulusan SMA ini mengungkapkan, mahalnya harga di sana (Luar Jawa) disebabkan membutuhkan transpot yang banyak.

"Untuk bahan baku ring ban saya membelinya dari Klaten, Semarang, Solo, Sragen Jawa Tengah dan Mojokerto Jawa Timur dengan harga 20 juta satu truknya. Serta, kalau kainnya saya beli dari Cirebon," tuturnya kepada blokBojonegoro.com.

Tak hanya itu saja, selain menghasilkan sepasang kursi yang anti rayap itu, limbah dari ban bekas tersebut juga mampu ia olah menjadi barang-barang yang bisa ia jual lagi, seperti tali. Bahkan, potongan kecil dari limbah kayu ia jual lagi dengan harga 350 rupiah satu Kilogramnya.

"Untuk limbah yang kecil-kecil saya jual ke pabrik di Sidoarjo Jawa Timur yang kembali diolah menjadi karet-karet sepring bed," terangnya.

Namun, selama menjalankan usahanya Yudi mengaku tak selamanya mulus. Sebab, soal dana menurut Yudi menjadi hal yang utama dibanding dari transport untuk mengirim ke luar Jawa. Karena, pinjaman dana menjadi hal yang vital untuk terus melebarkan sayap usahanya.

"Saya berharap kepada pemerintah juga memperhatikan usaha kecil dari masyarakat, agar tetap bisa bertahan. Bahkan, untuk mengawali usaha dahulu ia hanya bondo nekat dan meminjam uang Rp20 juta dari bank untuk merintis usaha," pungkas Iswahyudi kepada blokBojonegoro.com.[din/ito]

Tag : ban, bekas, bojonegoro, kursi, meja, balen


* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat