08:00 . Diduga Balapan Liar, Hantam Fortuner Tewas di TKP   |   07:00 . 3 Pertanyaan Selain 'Kapan nikah' Saat Reuni   |   06:00 . Pengemudi Warga Simbatan, Patah Kaki dan Tangan   |   21:00 . Pasca Pemilu, Kapolres Himbau Jangan Ada Pawai   |   20:00 . Ngeri...! Kecelakaan Margomulyo Balen Bojonegoro   |   19:00 . Jokowi-Amin Menang 67 Persen di Bojonegoro   |   18:30 . Datangi Polres, Kadishub Bojonegoro Laporkan Balik Istrinya   |   18:00 . Meski Surat Suara Tertukar, KPU Mengklaim Tidak Ada PSU   |   17:00 . Evakuasi Korban, Jalan Raya Macet Cukup Panjang   |   16:00 . Avanza Vs Truk di Margomulyo, 2 Mobil Ringsek   |   15:00 . Triwulan Pertama, Ada 850 Klaim Asuransi ke Jasa Raharja   |   14:00 . SMPN 1 Kapas Kembali Rebut Juara Pencak Silat O2SN   |   12:00 . Saat Pemungutan Suara, Tiga TPS Surat Suaranya Tertukar   |   09:00 . Panitia Gandeng Mahasiswa dan Komunitas, Ini Alasannya?   |   08:00 . Rayakan Hari Jadi, AMSI Gelar Kontes Jurnalistik dan Seminar Anti Hoax   |  
Fri, 19 April 2019
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Friday, 01 June 2018 23:00

Pancasila sebagai Moralitas Kepemimpinan

Pancasila sebagai Moralitas Kepemimpinan

Penulis: Imam Nafi'

Indonesia adalah Pancasila, 73 tahun Ideologi ini mengikat persatuan nurani Bangsa Indonesia. Pancasila sebagai dasar yang melandasi Persatuan bangsa, adalah hasil kerja keras dari keberanekaragaman pemimpin pada saat itu. Oleh karena itu, maka sudah sepatutnya kita harus memahami sekaligus memaknainya secara utuh dan sesuai.

Sejarah mencatat, bahwasanya Lahirnya Pancasila tidak lepas dari sebuah ide untuk memperjuangan kemerdekaan, yakni “Hak Berbangsa dan Bernegara tanpa Penindasan.” Sebagaimana saat kelahirannya, bahwa Pancasila bukan produk perenungan di ruang kosong, maka agar dapat menyelami kedalaman untuk memahami makna Pancasila, ia juga harus diletakkan dalam Perspektif Ruang, Waktu, dan Permasalahan Konkrit yang dihadapi Bangsa Indonesia (juga untuk saat ini).

Pancasila yang dicetuskan oleh para pemimpin terdahulu, merupakan jalan tengah dari semua unsur yang berbeda-beda. Berbagai usaha dari kelompok masyarakat yang ingin mengubahnya menjadi ideologi lain pasti akan gagal. Sejak dulu, mulai dari Islamisasi ala Kartosoewirjo, PKI oleh Aidit, dan lain sebagainya pada akhirnya menemui jalan buntu.

Panca Azimat ini digali oleh Founding Father Bangsa Indonesia, Ir. Soekarno mempunyai gagasan menyeluruh, Dalam pidato 1 Juni 1945 itu, Bung Karno mengajukan 5 prinsip, yakni (1) Kebangsaan Indonesia; (2) Internasionalisme atau perikemanusiaan; (3) Mufakat atau demokrasi; (4) Kesejahteraan sosial; dan (5) Ketuhanan yang Maha Esa.

Namun, Era modern saat ini Refleksi terhadap nilai-nilai Pancasila sudah menjadi hal yang sangat langka. Hal ini, dapat dilihat dalam contoh kehidupan sehari-hari. Yang paling ironis sekarang ini adalah menjadikan Pancasila hanya sebagai hiasan dinding yang tak memiliki makna. Nilai-nilai luhur Pancasila yang memuat segala aspek kehidupan berkebangsaan tak lagi menyentuh moralitas bangsa dan memengaruhi mentalitas para pemimpin bangsa. Dengan demikian, yang terjadi adalah mentahnya nilai-nilai Pancasila dalam sanubari para Pemimpin Bangsa.

Sebagai contoh, di setiap ruangan para pejabat tingi ada simbol Burung Garuda yang selalu mengawasi segala aktivitasnya, namun dengan tanpa merasa berdosa mereka berani manandatangani “perjanjian” korupsi yang jumlahnya milyaran rupiah. Di lain kesempatan ada yang dengan rajin membacakan Lima sila Pancasila secara lengkap dan tegas, baris berbaris didepan bawahannya.

Namun, Pancasila kini telah kehilangan eksistensinya sebagai perekat kekuatan moral dan pemersatu bangsa. Dan lagi, berbagai tantangan yang kembali muncul akhir - akhir ini, yakni isu Radikalisme, kasus - kasus Separatisme, yang menjadi pemicu munculnya tindakan Terorisme dapat menjadi catatan penting bahwa Bangsa ini perlu sosok seorang Pemimpin yang Pancasilais.

Para Pemimpin yang tidak terlalu berambisi mengejar jabatan demi kepentingan Pribadi. Pemimpin yang Pancasilais adalah sosok pemimpin yang selalu dengan teguh mengamalkan sila-sila Pancasila dengan sempurna. Ia adalah pemimpin yang memiliki jiwa Religiusitas sesuai dengan sila pertama Pancasila, selalu menanamkan jiwa-jiwa keadilan dalam setiap aspeknya, bersikap Toleran dan terbuka sebagai jalan untuk mempersatukan semua unsur perbedaan yang ada, dan selalu bijak dalam pengambilan keputusannya.

Maka, dalam momentum peringatan Hari lahir Pancasila ini, hendaknya kita semua mulai berbenah diri, meniti jalan baru kehidupan, merajut kembali tenun kebangsaan, dan tidak lagi mengabaikan nilai moralitas Pancasila sebagai pandangan hidup. Inilah yang kita harapkan kepada setiap calon pemimpin yang akan memimpin Bangsa ini ke depannya.

*Penulis adalah Wakabid Media dan Informasi DPC GMNI Bojonegoro

Tag : pancasila, hari, arti

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

  • Wednesday, 27 March 2019 21:00

    Petani di Balen Mulai Panen Kelengkeng

    Petani di Balen Mulai Panen Kelengkeng Seorang petani di Desa Kedungdowo, Kecamatan Balen, Abdul Mukarom merasa senang karena pohon Lengkeng yang ia tanam dua tahun yang lalu sekarang ini buahnya sudah bisa dinikmati. Setelah empat pohon...

    read more

Lowongan Kerja & Iklan Hemat

  • Tuesday, 16 April 2019 09:00

    Hilang STNK NoPol S-3761-DJ

    Hilang STNK NoPol S-3761-DJ Telah hilang Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK): No.Pol: S-3761-DJ Merk/Type: HONDA Warna: Hitam Tahaun pembuatan: 2012 Nomor Rangka: MH1JB8110CK809201 Nomor Mesin: JB81E1806215 Atas Nama: DASINAH Alamat: Dusun Kawis RT.01/RW.02 Desa Geger Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur....

    read more