13:00 . Pekan Madaris Kecamatan Kanor Sukses Digelar   |   12:00 . Muslimat-Fatayat NU Kanor Santuni Ratusan Yatim Piatu dan Dhuafa   |   11:00 . Entas Kemiskinan, Pembangunan 856 RTLH Digenjot   |   08:00 . Virginia dan Jawa Tetap Jadi Pilihan Petani Tembakau Bojonegoro   |   07:00 . Bolehkah Ibu Hamil Mengunyah Permen Karet?   |   20:30 . Meriahnya Pensi Pekan Madaris di Kanor   |   20:00 . UNUGIRI Bertekad Ciptakan SDM Terampil   |   19:00 . Dewan Pendidikan: Kekerasan di Lingkungan Sekolah Masih Kerap Terjadi   |   18:00 . Komitmen Ciptakan SRA di Bojonegoro Masih Minim?   |   17:00 . Bantu Pantau Lalu Lintas, Dishub Tambah Empat CCTV Rp360 Juta   |   16:00 . Lazisnu Bojonegoro Bantu Korban Kebakaran di Kedungadem   |   15:00 . Persibo Fokus Buru Pemain Tengah dan Belakang   |   14:00 . Diduga Selang Regulator LPG Bocor, Rumah di Desa Deru Hangus   |   13:00 . Tantangan Makin Berat, Wisudawan Harus Tetap di Jalan Amar Ma'ruf Nahi Munkar   |   12:00 . Pers Mahasiswa se-Madura ikuti Pelatihan Cek Fakta AJI   |  
Sun, 22 September 2019
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Wednesday, 01 August 2018 11:00

Suka Duka Pedagang Bendera, Bahasa Jadi Kendala

Suka Duka Pedagang Bendera, Bahasa Jadi Kendala

Kontributor: Apriani

blokBojonegoro.com - Di bulan Agustus ada momen yang tentunya tidak dapat terlupakan oleh penduduk Indonesia, karena bulan ini menjadi saksi kemerdekaan Bangsa Indonesia yang diproklamirkan tepat pada tanggal 17 Agustus 1945.

Tentunya sebagai penduduk yang cinta tanah air dan juga mengahargai para jasa pahlawan yang mana telah gugur kala itu. Salah satu peringatan yang biasa dilakukan saat Bulan Agustus yakni mengibarkan Sang Saka Merah Putih selama satu bulan penuh.

Uniknya, di saat momen seperti ini dimanfaatkan oleh masyarakat yang berasal dari kawasan Jawa Barat untuk dapat berkeliling Indonesia dengan cara berjualan Bendara Merah Putih, dan umbul-umbul yang biasa dipasang saat bulan Agustus datang.

Kabupaten Garut Jawa Barat merupakan kota yang memproduksi bendera, kemudian akan didistribusikan mulai tanggal 20 Juli-17 Agustus dari Sabang sampai Merauke oleh masyarakat yang berasal dari Kabupaten Garut, Tasikmalaya, dan Bandung.

Seperti halnya salah satu penjual bendera yang berada di Jalan MH. Thamrin Bojonegoro, Ahmad. Karena memiliki keinginan untuk berkeliling Indonesia, dia menikmati bisnis sebagai penjual bendara.

Pria yang berusia sekitar 22 tahun ini sudah dua kali ikut berjualan bendera di Kota Ledre dan berharap untuk tahun depan bisa berjualan di kota yang berbeda.

"Awalnya diajak teman, kalau dari kampung saya ada tujuh orang satu rombongan. Laki-laki di desa saya waktu seperti sekarang ini pada merantau semua ikut jualan bendera, paling ada yang sudah tua," tutur pria yang akrab disapa Dedek dari Cipeundeuy, Bandung Barat itu.

Ada sekitar tujuh rombongan yang berjualan menyebar di pinggir-pinggir jalan di Kota Ledre, yang mana empat berasal dari Kabupaten Bandung dan tiga berasal dari Kabupaten Garut. Di Bojonegoro mereka menginap di salah satu hotel yang berada di Jalan Panglima Sudirman.

Pedagang lain, Makmun Muliyana berusia sekitar 51 tahun, sudah 9 tahun berjualan bendera, dan ia juga sudah pernah merasakan berjualan di Luar Jawa.

"Di Sumatera 1 kali, Solo 1 kali, Semarang 1 Kali, Jambi 1 kali, dan yang paling lama di Bojonegoro ini sudah 4 kali sekarang ini," terang pria empat anak yang berasal dari Bandung itu.

Lelaki yang akrab disapa Babe, kesehariannya berjualan di warung miliknya. Dan Ia mengatakan senang berjualan di Bojonegoro karena merasa tidak pernah dibuat kecewa dan masyarakatnya ramah serta baik-baik.

"Di sini enak, tempatnya juga enak beda lah pokoknya dengan kota-kota lain, pembelinya juga banyak, malah ada juga orang sini yang ikut jualan belinya dari kita," jelas pria kelahiran Purwakarta itu.

Sama halnya dengan pedagang di pinggir-pinggir jalan lainnya, yang sering kali didatangi oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), akan tetapi hal tersebut dianggap sudah biasa, karena begitulah risiko ketika berjualan di pinggir-pinggir jalan.

"Habis didatangi Satpol PP, dikasih pengarahan tidak boleh jualan di sini, tapi mereka tidak berani ambil barang jualan karena kan yang kita jual kan bendera," jelas Dedek.

Selain itu untuk dapat berkomunikasi dengan pembeli mereka menggunakan bahasa nasional yakni Bahasa Indonesia, tidak jarang mereka merasa sedikit kesulitan untuk memahaminya karena berlatar belakang bahasa daerah yang berbeda.

"Pernah waktu masih jualan di Jalan Panglima Polim ada nenek-nenek yang mau beli bendera, pakai Bahasa Jawa ngobrol hampir setengah jam tidak tahu permintaanya bagaimana, kemudian saya minta tolong sama tukang becak yang agak muda untuk menerjemahkannya," jelasnya saat mengingat pertama kali ia datang ke Bojonegoro. [ani/lis]

Tag : bendera, suka

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

  • Wednesday, 07 August 2019 15:00

    26 Peserta UKW PWI Jatim Dinyatakan Kompeten

    26 Peserta UKW PWI Jatim Dinyatakan Kompeten Sebanyak 29 wartawan telah bekerja keras melewati Ujian Kompetensi Wartawan (UKW) angkatan ke-27 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, yang bekerjasama dengan SKK Migas dan KKKS. Selama dua hari 6-7...

    read more

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat