13:00 . Yummy...! Nasi Bakar Aneka Isi Ada di Kafe Ini   |   12:00 . Berkeliaran dan Masuk Rumah Warga, Ular Pyton Ditangkap   |   07:00 . 5 Cara Agar Lekas Move On dari Seseorang yang Ghosting Kamu   |   23:00 . Ibu-ibu di Lokasi TMMD Imbangan Diberikan Pelatihan Pembuatan Jamu   |   22:00 . 8 Orang Dinyatakan Sembuh dari Covid-19   |   21:30 . Pemkab Bojonegoro Kembali Berikan Layanan Rapid Tes Gratis   |   21:00 . PMI Bojonegoro Edukasi Santri Cara Hindari Covid   |   20:30 . Sakit Jantung, Seminggu Lalu Dirujuk ke Surabaya   |   20:00 . Agar Berjalan Sesuai Target, 3 Hal ini Tidak Sampai Terulang   |   19:30 . Turut Berduka, Ramai Ucapan Pak Santoso Wafat   |   19:00 . Warga di Kota ini Gunakan Pertalite, ini Alasannnya...   |   18:00 . Danrem 082/CPYJ Bersama Wartawan Komitmen Perangi Hoax   |   17:00 . Kemenag Jadwalkan Rukyatul Hilal 21 Juli, Guna Tentukan 1 Zulhijjah 1441 H   |   16:00 . Masih Kurang Pagu, Disdik Bojonegoro Belum Tentukan Buka PPDB Lagi   |   15:30 . Media Pop-up dan Movable Book Dikenalkan ke Guru dengan Aplikasi Zoom   |  
Thu, 09 July 2020
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Wednesday, 01 August 2018 11:00

Suka Duka Pedagang Bendera, Bahasa Jadi Kendala

Suka Duka Pedagang Bendera, Bahasa Jadi Kendala

Kontributor: Apriani

blokBojonegoro.com - Di bulan Agustus ada momen yang tentunya tidak dapat terlupakan oleh penduduk Indonesia, karena bulan ini menjadi saksi kemerdekaan Bangsa Indonesia yang diproklamirkan tepat pada tanggal 17 Agustus 1945.

Tentunya sebagai penduduk yang cinta tanah air dan juga mengahargai para jasa pahlawan yang mana telah gugur kala itu. Salah satu peringatan yang biasa dilakukan saat Bulan Agustus yakni mengibarkan Sang Saka Merah Putih selama satu bulan penuh.

Uniknya, di saat momen seperti ini dimanfaatkan oleh masyarakat yang berasal dari kawasan Jawa Barat untuk dapat berkeliling Indonesia dengan cara berjualan Bendara Merah Putih, dan umbul-umbul yang biasa dipasang saat bulan Agustus datang.

Kabupaten Garut Jawa Barat merupakan kota yang memproduksi bendera, kemudian akan didistribusikan mulai tanggal 20 Juli-17 Agustus dari Sabang sampai Merauke oleh masyarakat yang berasal dari Kabupaten Garut, Tasikmalaya, dan Bandung.

Seperti halnya salah satu penjual bendera yang berada di Jalan MH. Thamrin Bojonegoro, Ahmad. Karena memiliki keinginan untuk berkeliling Indonesia, dia menikmati bisnis sebagai penjual bendara.

Pria yang berusia sekitar 22 tahun ini sudah dua kali ikut berjualan bendera di Kota Ledre dan berharap untuk tahun depan bisa berjualan di kota yang berbeda.

"Awalnya diajak teman, kalau dari kampung saya ada tujuh orang satu rombongan. Laki-laki di desa saya waktu seperti sekarang ini pada merantau semua ikut jualan bendera, paling ada yang sudah tua," tutur pria yang akrab disapa Dedek dari Cipeundeuy, Bandung Barat itu.

Ada sekitar tujuh rombongan yang berjualan menyebar di pinggir-pinggir jalan di Kota Ledre, yang mana empat berasal dari Kabupaten Bandung dan tiga berasal dari Kabupaten Garut. Di Bojonegoro mereka menginap di salah satu hotel yang berada di Jalan Panglima Sudirman.

Pedagang lain, Makmun Muliyana berusia sekitar 51 tahun, sudah 9 tahun berjualan bendera, dan ia juga sudah pernah merasakan berjualan di Luar Jawa.

"Di Sumatera 1 kali, Solo 1 kali, Semarang 1 Kali, Jambi 1 kali, dan yang paling lama di Bojonegoro ini sudah 4 kali sekarang ini," terang pria empat anak yang berasal dari Bandung itu.

Lelaki yang akrab disapa Babe, kesehariannya berjualan di warung miliknya. Dan Ia mengatakan senang berjualan di Bojonegoro karena merasa tidak pernah dibuat kecewa dan masyarakatnya ramah serta baik-baik.

"Di sini enak, tempatnya juga enak beda lah pokoknya dengan kota-kota lain, pembelinya juga banyak, malah ada juga orang sini yang ikut jualan belinya dari kita," jelas pria kelahiran Purwakarta itu.

Sama halnya dengan pedagang di pinggir-pinggir jalan lainnya, yang sering kali didatangi oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), akan tetapi hal tersebut dianggap sudah biasa, karena begitulah risiko ketika berjualan di pinggir-pinggir jalan.

"Habis didatangi Satpol PP, dikasih pengarahan tidak boleh jualan di sini, tapi mereka tidak berani ambil barang jualan karena kan yang kita jual kan bendera," jelas Dedek.

Selain itu untuk dapat berkomunikasi dengan pembeli mereka menggunakan bahasa nasional yakni Bahasa Indonesia, tidak jarang mereka merasa sedikit kesulitan untuk memahaminya karena berlatar belakang bahasa daerah yang berbeda.

"Pernah waktu masih jualan di Jalan Panglima Polim ada nenek-nenek yang mau beli bendera, pakai Bahasa Jawa ngobrol hampir setengah jam tidak tahu permintaanya bagaimana, kemudian saya minta tolong sama tukang becak yang agak muda untuk menerjemahkannya," jelasnya saat mengingat pertama kali ia datang ke Bojonegoro. [ani/lis]

Tag : bendera, suka


* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

  • Tuesday, 16 June 2020 19:00

    Dampingi Petani, Disperta Bojonegoro Adakan SL-PTT Tembakau

    Dampingi Petani, Disperta Bojonegoro Adakan SL-PTT Tembakau Guna meningkatkan SDM petani, khususnya petani tembakau, Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro mengadakan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) tembakau di kelompok tani Sumber Rejeki, Desa Bulu, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro,...

    read more

Lowongan Kerja & Iklan Hemat