21:00 . Ketua FTBM Harap Pemkab Adakan Festival Hari Membaca   |   20:00 . Masih Lesu, Budaya Literasi di Bojonegoro Harus Digalakkan   |   19:00 . VIRAL..! PENTOL WAYAHE WAYAHE SAAT PEMILU   |   18:00 . Kampung Dekat Kali Brantas ini Menjadi Lebih Indah   |   17:00 . Kembangkan Pertanian Bojonegoro, Hara Gandeng Ponpes   |   16:00 . SKK MIGAS Jabanusa Gelar Forum Operasi 2019 Road to Giant Discovery   |   15:00 . AJI Bojonegoro Gelar Seminar Publik SJSN   |   14:00 . Zona Tengah Dominasi Kejahatan Hutan di Bojonegoro   |   13:00 . Kalianyar Ikut Lomba Desa Berseri Tingkat Provinsi   |   12:00 . KPUK: Baru 5 Kecamatan Setor Hasil Rekapitulasi   |   11:00 . Diduga Kelelahan, Anggota KPPS Meninggal, Satu Dirawat   |   09:00 . Ancaman Pemilu, Kecurangan dan Hoax   |   08:00 . Golkar Berharap 7 Kursi Bisa Dipertahankan   |   06:00 . Amankan Rekapitulasi Suara, Banser Jaga 17 Jam Sehari   |   21:00 . Kepala SKK Migas Jabanusa Buka Lokakarya Media   |  
Wed, 24 April 2019
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Thursday, 04 October 2018 08:00

Menjadi Guru Sekaligus Penulis

Menjadi Guru Sekaligus Penulis

Oleh: Usman Roin

Menjadi guru tentu bukan semata-mata sekadar nama maupun status saja. Justru menjadi guru adalah profesi mulia yang hari ini sudah terlihat sisi kesejahteraannya. Mulai dari tunjangan profesi, tunjangan khusus, dan tambahan penghasilan lainnya bagi guru dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

Hadirnya tunjangan sebagaimana penulis sebutkan tersebut adalah buah keprofesionalan yang dimilikinya. Hingga bila guru memiliki kompetensi tambahan semisal “Menulis" tentu secara martabat akan bertambah statusnya, dari guru biasa menjadi guru penulis. Meminjam bahasa Uhar Suharsaputra (2013:153) guru yang demikian memiliki skill mengorganisir pengetahuan (learning organization) dengan baik. Yakni, kemampuan menerjemahkan pengetahuan yang dipelajari, menjadi informasi sederhana yang bisa diaplikasikan kepada orang lain. Hanya saja, komitmen untuk menjadi seperti itu tidak banyak yang melakukannya. Yang ada hanya rutinitas kegiatan mendidik mulai dari berangkat, mengajar dan pulang.

Untuk menjadikan guru yang juga seorang penulis, ternyata masih banyak pertanyaan yang perlu jawaban bagi penulis. Utamanya adalah waktu luangnya menulis yang seakan-akan tidak ada. Hal itu ditambah dengan kepusingan guru-guru dengan administrasi  yang dibebankan kepadanya mulai dari RPP, Prota, Promes, serta membuat soal baik untuk ulangan harian, UTS, mapun UAS. Hal itu belum ditambah dengan penyiapan bahan ajar yang keseharian tentu membutuhkan variasi pembelajaran agar tidak monoton.

Melihat realitas di atas, akan menjadi indah, membanggakan bila seorang guru selain akan terakui secara profesi akan bertambah pula nilainya bila ia bisa menulis. Apalagi bila guru fasih menulis artikel mengutip I Ketut Suweca (2011:24-27) akan mendapatkan tiga manfaat. Diantaranya manfaat psikologis, akan tumbuh kepuasan oleh sebab artikelnya tayang di koran. Dari sisi sosiologis, akan mampu mengedukasi masyarakat, sedangkan manfaat secara material semakin banyak tulisan yang dimuat honor yang didapatkan juga akan melimpah.

Terlebih guru yang memiliki ragam kompetensi, keilmuan, posisioning akan menjadi menarik bila juga menekuni dunia menulis. Berbagai inovasi pembelajaran yang ia ciptakan akan bisa memberi manfaat bila ditulis. Ragam masalah siswa akan bisa terpecahkan dengan baik bila diagnosanya kemudian diurai sistematis berbentuk deskripsi. Agar guru bisa mendapat dua prediket (guru dan penulis) maka teknik agar bisa menulis perlu dipelajari. Jangan hanya ingin jadi penulis tetapi belajar menulis saja ogah, maka impian menjadi penulis akan sia-sia dan tidak akan pernah terlaksana.

Menjadi guru penulis secara fungsional akan menghasilkan buah berupa penajaman berpikir. Artinya, berbagai persoalan yang ada disekitar bisa dikaitkan dalam prespektif pendidikan, tidak apatis, melainkan ikut merenung mengapa hal itu bisa terjadi dan bagaimana solusinya. Selain itu, menjadi guru penulis juga akan merangsang daya nalar berpikir semakin berkembang ditengah kemalasan berpikir yang akhir-akhir ini terjadi. Terlebih, kemalasan berpikir para guru ditengarai akibat dari status profesi yang sudah didapat, seakan-akan tidak memerlukan status tambahan sebagaimana profesi penulis.

Oleh karena itu, untuk menjadi guru sekaligus penulis, bagi penulis ada beberapa hal yang perlu dilakukan:

Pertama, segera mencatat ide menulis. Ini memberi maksud, era medsos ini banyak persoalan yang terjadi dan mudah kita ketahui dari ruang privasi (android). Justru ide persoalan yang muncul dari medsos bisa dihubungkan dengan dimensi pedagogik. Untuk itu guru harus pandai menulis ide pokok pikirannya agar tidak terbuang sia-sia. Terlebih ide brilian yang selintas muncul dan dimiliki setiap manulis itu akan banyak bermanfaat bila dirangkai dengan indah. Caranya tidak lain harus ditulis dengan sistematis, bukan terpotong-potong, melainkan sesuai dengan kaidah ilmiah kepenulisan. Namun bila ide yang selitas itu bila dibiarkan, maka akan berakhir penyesalah karena ada orang lain yang telah menuturkan prihal ide tersebut.

Kedua, meluangkan waktu untuk menulis. Perihal meluangkan waktu, secara personal perlu dikompromikan sendiri oleh guru. Semisal, dipergantian jam mengajar adalah waktu jeda tepat bila ingin digunakan untuk menulis. Sebab waktu yang ada walau hanya sebentar dioptimalkan dengan menambah buah pikiran menulis yang muncul. Memang menulis (artikel) tidak harus selesai seketika ditengah tanggung jawab pekerjaan yang menumpuk sebagai guru. Melainkan bertahap dengan memanfaatkan luangnya waktu yang ada untuk menyelesaikan buah karya tulis.

Cara lainnya, bisa dengan meluangkan waktu ditengah malam. Pada porsi ini bila guru melakukan akan menjadi satu kontemplasi yang tanpa batas dan gangguan untuk menulis. Hanya saja, beban terberat ada pada rasa capeknya badan setelah seharian bekerja dan mengurus keluarga. Oleh karena itu, urgensi makna dari meluangkan waktu itu bagi penulis adalah ketika ada waktu sisihkanlah menulis. Karena, selain akan melatih fokus penyelesaian, kecepatan menulis lama kelamaan akan diperoleh sehingga predikat penulis produktif akan dimiliki.

Ketiga, berlatih menulis. Ini memberi maksud, kebiasaan berlatih menulis guru akan membuatnya pandai menulis, sebagaimana ungkapan ‘alah bisa karena biasa’. Guna melatih menulis guru hingga fasih di era milenial ini, media blog, facebook, instagram, website sangat cocok untuk digunakan para guru sebagai penulis pemula. Akhirnya, menjadi guru sekaligus penulis mari kita wujudkan.

*Koord. Devisi Komunikasi & Hubungan Media Majelis Alumni IPNU Bojonegoro dan Mahasiswa Magister PAI UIN Walisongo Semarang.

Tag : usman roi, tulisan usman, guru

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

  • Wednesday, 27 March 2019 21:00

    Petani di Balen Mulai Panen Kelengkeng

    Petani di Balen Mulai Panen Kelengkeng Seorang petani di Desa Kedungdowo, Kecamatan Balen, Abdul Mukarom merasa senang karena pohon Lengkeng yang ia tanam dua tahun yang lalu sekarang ini buahnya sudah bisa dinikmati. Setelah empat pohon...

    read more

Lowongan Kerja & Iklan Hemat

  • Tuesday, 16 April 2019 09:00

    Hilang STNK NoPol S-3761-DJ

    Hilang STNK NoPol S-3761-DJ Telah hilang Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK): No.Pol: S-3761-DJ Merk/Type: HONDA Warna: Hitam Tahaun pembuatan: 2012 Nomor Rangka: MH1JB8110CK809201 Nomor Mesin: JB81E1806215 Atas Nama: DASINAH Alamat: Dusun Kawis RT.01/RW.02 Desa Geger Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur....

    read more