14:00 . Model Baru Buku Nikah Tunggu dari Kementrian Pusat   |   13:00 . SDN MT Ikuti Lomba Budaya Mutu   |   12:00 . Musim Hujan, 50 Embung Bakal Ditabur Benih Ikan Tawes dan Nila   |   11:00 . Dugaan Pungutan di SMAN 1 Bojonegoro, ini Kata Kepala Cabdindik   |   10:00 . Staf Ahli Bidang Pendidikan APKASI Kunjungi Bojonegoro   |   09:00 . Gebyar Si Joni Heroik, Senyap untuk Krisna   |   08:00 . Lebih Dekat dengan SKD saat Tes CPNS, Intip Yuk!   |   07:00 . 5 Adegan Sinetron yang Bertentangan dengan Logika dan Kenyataan   |   22:00 . UNUGIRI Kalahkan UNHASY 6-1 di Liga Futsal Mahasiswa   |   21:00 . Pengenalan Jurusan, Himagri Unigoro Gelar Makrab   |   20:30 . Haddad Alwi Sihir Masyarakat Bojonegoro dengan Lagu Religinya   |   20:00 . SMK Diharap Jadi Sekolah Berbasis Akademis dan Produksi   |   19:30 . Sempat Diguyur Hujan, Ratusan Masyarakat Padati Peringatan HSN   |   18:00 . 9 Kota di Jatim, Ikuti Pelatihan Lukis Kain di Bojonegoro   |   17:00 . Memprihatinkan, 71 Desa Ini Alami Kekeringan   |  
Tue, 23 October 2018
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Thursday, 04 October 2018 08:00

Menjadi Guru Sekaligus Penulis

Menjadi Guru Sekaligus Penulis

Oleh: Usman Roin

Menjadi guru tentu bukan semata-mata sekadar nama maupun status saja. Justru menjadi guru adalah profesi mulia yang hari ini sudah terlihat sisi kesejahteraannya. Mulai dari tunjangan profesi, tunjangan khusus, dan tambahan penghasilan lainnya bagi guru dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

Hadirnya tunjangan sebagaimana penulis sebutkan tersebut adalah buah keprofesionalan yang dimilikinya. Hingga bila guru memiliki kompetensi tambahan semisal “Menulis" tentu secara martabat akan bertambah statusnya, dari guru biasa menjadi guru penulis. Meminjam bahasa Uhar Suharsaputra (2013:153) guru yang demikian memiliki skill mengorganisir pengetahuan (learning organization) dengan baik. Yakni, kemampuan menerjemahkan pengetahuan yang dipelajari, menjadi informasi sederhana yang bisa diaplikasikan kepada orang lain. Hanya saja, komitmen untuk menjadi seperti itu tidak banyak yang melakukannya. Yang ada hanya rutinitas kegiatan mendidik mulai dari berangkat, mengajar dan pulang.

Untuk menjadikan guru yang juga seorang penulis, ternyata masih banyak pertanyaan yang perlu jawaban bagi penulis. Utamanya adalah waktu luangnya menulis yang seakan-akan tidak ada. Hal itu ditambah dengan kepusingan guru-guru dengan administrasi  yang dibebankan kepadanya mulai dari RPP, Prota, Promes, serta membuat soal baik untuk ulangan harian, UTS, mapun UAS. Hal itu belum ditambah dengan penyiapan bahan ajar yang keseharian tentu membutuhkan variasi pembelajaran agar tidak monoton.

Melihat realitas di atas, akan menjadi indah, membanggakan bila seorang guru selain akan terakui secara profesi akan bertambah pula nilainya bila ia bisa menulis. Apalagi bila guru fasih menulis artikel mengutip I Ketut Suweca (2011:24-27) akan mendapatkan tiga manfaat. Diantaranya manfaat psikologis, akan tumbuh kepuasan oleh sebab artikelnya tayang di koran. Dari sisi sosiologis, akan mampu mengedukasi masyarakat, sedangkan manfaat secara material semakin banyak tulisan yang dimuat honor yang didapatkan juga akan melimpah.

Terlebih guru yang memiliki ragam kompetensi, keilmuan, posisioning akan menjadi menarik bila juga menekuni dunia menulis. Berbagai inovasi pembelajaran yang ia ciptakan akan bisa memberi manfaat bila ditulis. Ragam masalah siswa akan bisa terpecahkan dengan baik bila diagnosanya kemudian diurai sistematis berbentuk deskripsi. Agar guru bisa mendapat dua prediket (guru dan penulis) maka teknik agar bisa menulis perlu dipelajari. Jangan hanya ingin jadi penulis tetapi belajar menulis saja ogah, maka impian menjadi penulis akan sia-sia dan tidak akan pernah terlaksana.

Menjadi guru penulis secara fungsional akan menghasilkan buah berupa penajaman berpikir. Artinya, berbagai persoalan yang ada disekitar bisa dikaitkan dalam prespektif pendidikan, tidak apatis, melainkan ikut merenung mengapa hal itu bisa terjadi dan bagaimana solusinya. Selain itu, menjadi guru penulis juga akan merangsang daya nalar berpikir semakin berkembang ditengah kemalasan berpikir yang akhir-akhir ini terjadi. Terlebih, kemalasan berpikir para guru ditengarai akibat dari status profesi yang sudah didapat, seakan-akan tidak memerlukan status tambahan sebagaimana profesi penulis.

Oleh karena itu, untuk menjadi guru sekaligus penulis, bagi penulis ada beberapa hal yang perlu dilakukan:

Pertama, segera mencatat ide menulis. Ini memberi maksud, era medsos ini banyak persoalan yang terjadi dan mudah kita ketahui dari ruang privasi (android). Justru ide persoalan yang muncul dari medsos bisa dihubungkan dengan dimensi pedagogik. Untuk itu guru harus pandai menulis ide pokok pikirannya agar tidak terbuang sia-sia. Terlebih ide brilian yang selintas muncul dan dimiliki setiap manulis itu akan banyak bermanfaat bila dirangkai dengan indah. Caranya tidak lain harus ditulis dengan sistematis, bukan terpotong-potong, melainkan sesuai dengan kaidah ilmiah kepenulisan. Namun bila ide yang selitas itu bila dibiarkan, maka akan berakhir penyesalah karena ada orang lain yang telah menuturkan prihal ide tersebut.

Kedua, meluangkan waktu untuk menulis. Perihal meluangkan waktu, secara personal perlu dikompromikan sendiri oleh guru. Semisal, dipergantian jam mengajar adalah waktu jeda tepat bila ingin digunakan untuk menulis. Sebab waktu yang ada walau hanya sebentar dioptimalkan dengan menambah buah pikiran menulis yang muncul. Memang menulis (artikel) tidak harus selesai seketika ditengah tanggung jawab pekerjaan yang menumpuk sebagai guru. Melainkan bertahap dengan memanfaatkan luangnya waktu yang ada untuk menyelesaikan buah karya tulis.

Cara lainnya, bisa dengan meluangkan waktu ditengah malam. Pada porsi ini bila guru melakukan akan menjadi satu kontemplasi yang tanpa batas dan gangguan untuk menulis. Hanya saja, beban terberat ada pada rasa capeknya badan setelah seharian bekerja dan mengurus keluarga. Oleh karena itu, urgensi makna dari meluangkan waktu itu bagi penulis adalah ketika ada waktu sisihkanlah menulis. Karena, selain akan melatih fokus penyelesaian, kecepatan menulis lama kelamaan akan diperoleh sehingga predikat penulis produktif akan dimiliki.

Ketiga, berlatih menulis. Ini memberi maksud, kebiasaan berlatih menulis guru akan membuatnya pandai menulis, sebagaimana ungkapan ‘alah bisa karena biasa’. Guna melatih menulis guru hingga fasih di era milenial ini, media blog, facebook, instagram, website sangat cocok untuk digunakan para guru sebagai penulis pemula. Akhirnya, menjadi guru sekaligus penulis mari kita wujudkan.

*Koord. Devisi Komunikasi & Hubungan Media Majelis Alumni IPNU Bojonegoro dan Mahasiswa Magister PAI UIN Walisongo Semarang.

Tag : usman roi, tulisan usman, guru

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

  • Sunday, 14 October 2018 11:30

    3th blokTuban.com dan HJT ke-725

    AMSI Jatim Ajak Masyarakat Lebih Cerdas Konsumsi Berita

    AMSI Jatim Ajak Masyarakat Lebih Cerdas Konsumsi Berita Dalam kesempatannya menghadiri agenda Gowes 3 tahun blokTuban.com berkarya di Bumi Wali yang dibalut nuansa semarak menyambut Hari Jadi Tuban (HJT) ke-725, Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia Wilayah Jawa Timur...

    read more

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

  • Monday, 22 October 2018 21:00

    Pengenalan Jurusan, Himagri Unigoro Gelar Makrab

    Pengenalan Jurusan, Himagri Unigoro Gelar Makrab Sebagai bagian pengenalan jurusan serta menjalin keakraban sesama mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Agribisnis (Himagri) Universitas Bojonegoro (Unigoro) menggelar malam keakraban. Acara yang dilaksanakan selama dua hari mulai tanggal 21 Oktober hingga...

    read more

Lowongan Kerja & Iklan Hemat