Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro

Wednesday, 10 October 2018 21:00

Dinas P3AKB Berharap Angka Perkawinan Anak Turun

Dinas P3AKB Berharap Angka Perkawinan Anak Turun

Kontributor : Apriani

blokBojonegoro.com - Angka menikah usia di bawah 20 tahun 2018 ini mencapai 13,5 persen angka tersebut meningkat jika dibandingkan pada tahun 2017 lalu, yakni berada diangka 11,8 persen dari jumlah seluruh perkawinan.

Melihat adanya kasus demikian perlu adanya sinergitas dari berbagai stakeholder untuk itu Dinas P3AKB bekerjasama dengan Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) Kabupaten Bojonegoro, untuk mengurangi pernikahan anak dalam rangka kesehatan reproduksi perempuan.

"Sejak awal tahun 2018 sampai bulan ini ada sekitar 20 orang kematian Ibu," ungkap Kepala Dinas P3AKB, Adi Witjaksono kepada blokBojonegoro.com, Rabu (10/10/2018).

Pengadaan workshop yang digelar bersama dengan YKP diharapkan mampu mengurangi angka perkawinan anak. Ia juga berharap dikarenakan pada workshop tersebut seharusnya dihadiri oleh hakim agama bukan hanya dari KUA Se-Kabupaten Bojonegoro.

"Iya karena kami tidak dapat mengundang, yang bisa hanya dari Mahkamah Agung. Semoga dapat bertemu didiskusi lainnya. Karena ini sangat diperlukan," harap lelaki yang akrab disapa Adi tersebut.

Pasalnya Pengadilan Agama (PA) yang telah memberikan dispensasi terhadap pengajuan perkawinan anak, sehingga diharapkan PA lebih selektif lagi supaya tidak ada peningkatan perkawinan anak.

Ia menjelaskan ada berbagai macam penyebab kasus perkawinan anak, yakni karena faktor ekonomi, seks pra nikah, serta tidak dipungkiri karena era digital atau karema dampak buruk konten-konten di media sosial. 

Sedangkan ada tiga aspek yang nantinya akan timbul jika perkawinan anak tersebut dilaksanakan. Pertama dari sisi psikis atau mental yang mana dapat menimbulkan ketidak harmonisan keluarga, perceraian, bahkan kekerasan dalam rumah tangga.

Kedua sisi fisik dapat berdampak timbulnya penyakit jadi kesehatan anak juga perlu dijaga. Ketiga dari sisi ekonomi dapat menimbulkan kemiskinan karena anak yang putus sekolah perlu memancari nafkah terelebih anak laki-laki untuk memenuhi biaya hidup yang selalu meningkat.

Ia juga berencana untuk pembentukan satgas  pencegahan kekerasan perempuan dan anak di seluruh desa yang ada di Kabupaten Bojonegoro. Ia juga mengharapkan perlunya ruang atau tempat ramah perempuan dan anak.

"Pengadaan tempat penitipan anak sepertinya juga perlu. Selain itu daya berharap angka perkawinan anak bisa di bawah 10 persen," pungkasnya. [ani/lis]

Tag : kdrt, perempuan, anak

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.



Berita Terkini