Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Sunday, 20 January 2019 15:00

Potensi Konflik, Posisikan Media jadi Jurnalisme Kebergaman

Potensi Konflik, Posisikan Media jadi Jurnalisme Kebergaman

Reporter: M. Yazid

blokBojonegoro.com - Maraknya kasus keberagaman dibeberapa daerah menjadi fenomena, apalagi memasuki tahun politik menjadi potensi konflik. Sehingga Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman (Sejuk), berama AJI Surabaya, Kedutaan Besar Kanada dan Gusdurian memposisikan media menjadi jurnalisme kebergamaan.

Acara workshop bertema 'Jurnalisme keberagaman kawal proses politik' berlangsung Sabtu-Minggu (19-20/1/2019) di salah satu hotel di Surabaya, diikuti puluhan jurnalis dari beberapa daerah. "Melalui workshop ini ingin lebih menyemaikan ide jurnalisme beragaman," kata direktur Sejuk, Ahmad Junaidi kepada blokBojonegoro.com.

Jurnalis yang akrab dipanggil Alex Juanidi menuturkan, jurnalis damai itu harus dilakukan karena melihat banyak peliputan wartawan maupun media yang memojokan minoritas. Bahkan setahun terakhir memasuki proses tahun politik, adanya berita hoax, persekusi dan yang lainnya itu menjadikan perpecahan kelompok. Dipungkiri ataupun tidak, itu kontribusi dari wartawan yang membuat berita satu sumber saja.

"Permasalahan di akar rumput, ada tujuan politik diangkat media dan kemudian menyebar di medsos (media sosial). Sejuk bersama AJI, Gusdurian dan kedubes Canada mengingatkan bahaya ini, mengingat mendekati pilpres di tahun politik," tuturnya.

Alex Junaidi yang juga redaktur Jakarta Post menambahkan, Sejuk keliling Indonesia untuk menggelorakan jurnalisme keberagaman, Desember kemarin ke Ambon dan sebelumnya juga di Kalimantan Barat. "Yang paling mengkhawatirkan terutama media cyber, karena mengejar kecepatan dan klik tapi mengabaikan verifikasi," imbuhnya.

Padahal seharusnya berita yang ditulis harus seimbang, berpihak pada korban dan jangan menulis satu sumber, misalkan polisi dan yang lain dan menyerang saja. "Media cyber tidak hanya mengejar klik saja, tapi juga akurasi. Tapi ada media cyber yang menyejukkan tapi hitsnya tinggi sesuai penelitian," pungkas dosen salah satu kampus di Jakarta itu.

Beberapa materi workshop dua hari tersebut diantarajya prinsip kebebasan beragama, yang disampaikan Saidiman Ahmad selaku peneliti Saiful Munjani Research dan Consulting (SMRC) dan pernah menjadi host KBR60H/Tempo TV. Serta media dan perempuan : fakta dan tantangan, oleh Devi Asmarini selaku pimpinan redaksi Magdalene.co dan juga HAM, kebebasan beragama yang dipaparkan Daniel Awigra selaku manajer program advokasi HAM ASEAN Human Raights Working Group (HRWG).

Termasuk materi tentang jurnalisme keberagaman melawan politisasi SARA di Media sosial, diisi Andy Budiman selaku pendiri Sejuk yang sekaligus mantan editor Deutsche Welle, jurnalis SCTV dan pendiri KBR 68H. Materi terakhir, terkait dosa-dosa media dalam melaporkan isu agama dan panduan meliput isu keberagamana oleh Ahmad Junaidi yang juga editor The Jakarta Post dan Direktur Sejuk. [zid/ito]

Tag : media, jurnalisme, surabaya, sejuk

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.



Berita Terkini