17:00 . Live Ramadan Bersama Anwar Zahid   |   15:00 . Jelang Lebaran, Transaksi Tebus Barang di Pegadaian Bojonegoro Naik   |   13:00 . Penetapan Calon Kepala Desa Dilakukan Setelah Lebaran   |   12:00 . Dinas Perdagangan Pastikan Stok Elpiji 3 Kilogram Aman   |   10:00 . Medsos Eror, Pedagang Online Mengeluh   |   09:00 . Anak SD Jual Es Keliling Bantu Orang Tua   |   08:00 . Pilkades Pomahan Lanjut Dengan Catatan   |   07:00 . 4 Buah yang Ampuh Redakan Radang Tenggorokan   |   06:00 . Polres dan Kodim Bojonegoro Pengajian Bersama Masyarakat   |   22:00 . Silahturahmi Makin Erat, Elemen Masyarakat Gayam Buka Puasa Bersama   |   21:00 . STAI Attanwir Peringati Haul Abuya Al-Maliki di Halaman Kampus   |   20:00 . KKKS Pertamina Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama Media   |   19:00 . Dirjen Migas Pantau Sarfas Pengisian BBM di Ruas Tol Jatim   |   18:00 . DP3AKB Konsen Pendampingan Korban Kasus Korban Kekerasan   |   17:00 . Shaf Salat Makin Maju   |  
Thu, 23 May 2019
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Friday, 08 March 2019 21:00

Memilih Benih Padi yang Cocok Untuk 'Wali'an'

Memilih Benih Padi yang Cocok Untuk 'Wali'an'

Oleh: Iskak Riyanto, SP*

blokBojonegoro.com - Tanaman padi di Musim Hujan (MH) di Bojonegoro sebagian sudah memasuki panen. Di beberapa kawasan ada juga yang baru berumur sekitar 65 Hari Setelah Tanam (HST). Bagi yang belum panen, saat ini adalah saat yang tepat dilakukan petani  memilih dan menyiapkan benih yang cocok untuk Wali'an atau Musim Kemarau (MK), kususnya sawah tadah hujan. Setidaknya ada  dua (2) hal yang harus diperhatikan  untuk memilihya agar padi bisa tumbuh dan hasil panen  tetap maksimal, yaitu:

Memilih benih padi yang berumur pendek atau genjah. Ini berhubungan dengan ketersedian air saat padi melangsungkan kehidupanya. Padi sangat butuh air saat proses peranakan dan pengisian butir. Juga berhubungan erat dengan sawah dengan pola tanam padi-padi-palawija (kedele). Awal bulan Juni sebaiknya tanam kedele sudah selesai.
2. Memilih benih padi yang tahan atau toleren kekeringan. Ini berhubungan erat dengan karakter varietas padi yang tetap tumbuh maksimal walau kekurangan air.

Kementerian Pertanian lewat Badan Penelitian dan Pengembangan  Pertanian (Balibangtan) sudah sudah banyak merakit varietas padi yang didesain tahan atau toleran  kekeringan sekaligus tahan genangan yang disebut varietas amfibi. Keunggulan lain berumur genjah, rasa nasi pulen, dan produktifitas tinggi. Varietas-varietas itu diantaranya adalah:

1. Situ Bagendit, rata-rata hasil 5,5 ton/ha gkg, potensi hasil 6,0 ton/ha gkg.
2. Towuti, rata rata hasil 6,0 ton/ha gkg, potensi hasil 7,0 ton/ha gkg.
3. Inpari 10 Laeya, rata-rata hasil 5,08 ton/ha gkg, potensi hasil 7,0 ton/ha gkg.
4. Inpari 38 Tadah Hujan Agritan, rata-rata hasil 5,71 ton/ha gkp, potensi hasil 8,16 ton/ha gkg.
5. Inpari 39 Tadah Hujan Agritan, rata-rata hasil 5,89 ton/ha gkg, potensi hasil 8,45 ton/ha gkg.
6. Inpari 40 Tadah Hujan Agritan, rata-rata hasil 5,79 ton/ha gkg, potensi hasil 9,60 ton/ha gkg.
7. Inpari 41 Tadah Hujan Agritan, rata-rata hasil 5,57 ton/ha gkg, potensi hasil 7,83 ton/ha gkg.
8. Inpari 42 Agritan GSR,rata rata hasil 7,11 ton/ha gkg, potensi hasil 10,58 ton/ha gkg
9. Inpari 43 Agritan GSR,rata-rata hasil 6,96 ton/ha gkg, potensi hasil 9,02 ton/ha gkg.

Khusus Inpari 42 dan 43 Agritan GSR lebih istimewa lagi, selain varietas amfibi juga ada nama tambahan GSR yang kepanjanganya Green Super Rice. Green artinya kemampuan memberikan daya hasil tinggi miskipun kondisi input usaha tani yang rendah. Kedua varietas ini bisa  mengurangi input pemberian pestisida, pupuk kimia, dan air. Hasil lebih tinggi lagi dimungkinkan dengan pemberian kondisi lingkungan yang lebih optimal bagi tanaman. Diharapkan juga dapat mengatasi masalah akibat perubahan iklim global. Sedang Super diartikan kemampuan memberikan hasil panen yang tinggi.

Dari sembilan (9) varietas diatas  memang belum semua benihnya ada di Bojonegoro. Tetapi kedepan tidak mustahil juga akan tersedia di sini. Sedang Situ Bagendit, Towuti, Inpari 42 Agritan GSR sudah menjadi varietas eksistensi yang menyebar di penjuru Bojonegoro.

Setelah memilih benih yang pas, tehnis budidaya yang sesuai dengan  Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi harus juga diperhatikan. Olah tanah sempurna, pemberian pupuk organik yang maksimal agar tanah kembali subur, karena setelah satu (1) musim unsur hara terkuras terserap tanaman. Selain itu pupuk organik juga mempunyai peranan yang sangat penting untuk mengikat air. Satu (1) gram Bahan Organik (BO) mampu mengikat air sebanyak empat (4) mililiter dalam tanah, sehingga lahan awet basah.
Saat wali'an tanah sawah juga menjadi asem-asemen atau nyeren yang menyebabkan pertumbuhan tanaman padi terganggu. Ini disebabkan unsur hara tidak bisa diserap tanaman dengan sempurna. Untuk mengatasi hal ini diperlukan pemberian kapur pertanian (dolomit) untuk menetralkan PH tanah.

Lalu bagaimana dengan varietas eksistensi seperti Ciherang, Inpari 30, Inpari 32, Inpari 33, Mekongga, IR64 dan lain-lain apa bisa dan cocok ditanam saat wali'an seperti selama ini. Jawabnya bisa dan cocok-cocok saja, asal persediaan air mencukupi untuk kelangsungan hidupnya.
*gkg: gabah kering giling.

*Penulis adalah PPL Disperta Bojonegoro.   

 

Jangan Lupa Subcribe blokBojonegoroTV

Tag : tanam, walikan, musim, kemarau

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat