17:00 . Terus Menurun, Total Ada 56 Orang ODP di Bojonegoro   |   16:00 . Masa Belajar di Rumah Siswa Diperpanjang   |   15:00 . Masyarakat Tolak Gedung Pusdiklat Jadi RS Sementara Corona   |   14:00 . Petugas Gabungan Semprot Disinfektan Hingga Pelosok Bojonegoro   |   13:00 . Timsar Perluas Pencarian Korban Hingga Bengawan Solo   |   12:00 . Gugus Tugas Tejo Rutin Semprot Disinfektan   |   11:00 . Selain Masker, Tempat Cuci Tangan Laris Terjual   |   10:00 . Cuci Kendaraan, Gratis Masker dan Handsanitizer   |   09:00 . Biasa Mangkal di Pasar dan Perempatan, 6 Anak Jalanan Diamankan   |   08:00 . Update Grafik Perkembangan Covid-19 di Jawa Timur dan Bojonegoro Per 3 April   |   07:00 . 6 Nasihat Terbaik untuk Sahabatmu yang Sedang Putus Cinta   |   06:00 . EMCL Berikan Alat Pencegahan Penyebaran Virus Corona   |   19:00 . Timsar Hentikan Pencarian Korban Tenggelam di Kedungbondo   |   18:00 . Sisir Sungai, Warga dan Tim SAR Cari Korban   |   17:00 . Total Ada 60 ODP dan 35 Orang Usai Pemantauan   |  
Sat, 04 April 2020
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Saturday, 04 May 2019 17:00

Faktor Cuaca Masih Jadi Kendala Produksi Bata Merah

Faktor Cuaca Masih Jadi Kendala Produksi Bata Merah

Kontributor: Mokhamad Arifin

blokBojonegoro.com - Kelurahan Ledok Kulon merupakan salah satu sentra produksi batu bata merah di Kabupaten Bojonegoro, yang masih eksis sampai sekarang. Meskipun ada pesaing baru batu bata putih yang harganya lebih murah, bata merah masih banyak memiliki peminat.

Suwito, salah satu pemilik tempat produksi bata merah di Ledok Kulon mengatakan, pembuatan bata masih bergantung pada cuaca. Ia mengaku terjadi penurunan produksi bata merah ketika musim penghujan.

"Kalau musim hujan, debit air di bengawan solo naik, sehingga menyulitkan saat mengambil tanah sebagai bahan baku utama bata merah," kata laki-laki asli ledok itu.

Saat musim kemarau, Suwito mejelaskan, pembuatan bata merah bisa mencapai 15.000 buah, dengan harga Rp450 ribu. Sedangkan saat musim penghujan hanya mampu membuat 10.000 bata dengan harga Rp600 ribu per seribu buah. Puncak pembuatan biasanya terjadi di bulan September.

"Saat musim penghujan itu susah, terutama dalam proses penjemuran. Kalau kemarau harga turun," keluhnya.

Usaha produksi batu bata merah banyak tersebar di kawasan Kelurahan Ledok Kulon. Sedikitnya ada 40 tempat usaha produksi bata merah.

Masyarakat mengambil endapan lumpur yang berada di tepian Sungai Bengawan Solo, selanjutnya mereka membuat produksi batu bata merah itu di bantaran sungai.

Sementara Ishaq, warga asli Desa Ngumpakdalem yang menyewa lahan untuk dijadikan tempat pembuatan bata ini mengatakan, kendala dalam proses produksi bata adalah saat musim hujan, lantaran proses pengeringan lama karena masih mengandalkan sinar matahari.

"Soal permintaan konsumen tidak ada masalah," tutupnya kepada blokBojonegoro. [fin/mu]

Tag : batu bata, produksi bata, ledok, pengusaha bata, bata merah


* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

  • Monday, 30 March 2020 12:00

    Menguntungkan, Warga Purwosari Panen Waluh

    Menguntungkan, Warga Purwosari Panen Waluh Petani Desa Tinumpuk, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro berhasil menanam waluh (labu kuning) tumpangsari dengan pohon pisang di tegalannya. Suparno bisa memanen waluh muda 40 buah setiap hari, karena sayuran...

    read more

Lowongan Kerja & Iklan Hemat