22:00 . Bank Jatim Cabang Bojonegoro Siap Sukseskan Program Satu Rekening Satu Pelajar   |   21:00 . Nakes dan ASN Meninggal, Masih Bandel Langgar Protokol Kesehatan ?   |   20:00 . 6 Orang Sembuh, Tambahan 4 Positif Covid-19 di Bojonegoro   |   19:00 . Ditarget Selesai Akhir Tahun, Pembangunan Pasar Banjarejo Capai 55 Persen   |   18:00 . Bahagia, Seribuan Sertifikat Hak Tanah Diterima Warga Sarirejo   |   17:00 . Di Bawah Etalase Bengkel, Ular 1.5 Meter Berhasil Dievakuasi Damkar   |   16:00 . 1 ASN Meninggal Karena Covid-19, Pemkab Akan Terapkan Work From Home   |   15:00 . Sebelum Menyesal Ingat Ini   |   14:00 . Ajak Masyarakat Disiplin Protokol Kesehatan, Moeldoko Kenakan Kaos ini...   |   13:00 . 56 Personel Kodim Bojonegoro Naik Pangkat   |   12:00 . Ayo Ikut Kompetisi PFMuda Pertamina Foundation   |   11:30 . Ingat Pesan Ibu, 3M   |   11:00 . Rayakan Ultah Ke-20 Biznet Tawarkan Promo dan Bonus Menarik   |   10:00 . VF: Alhamdulillah Saya Sembuh dari Covid-19   |   09:00 . Cerita Pasien Saat Terkonfirmasi Positif Covid   |  
Thu, 01 October 2020
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Saturday, 04 May 2019 17:00

Faktor Cuaca Masih Jadi Kendala Produksi Bata Merah

Faktor Cuaca Masih Jadi Kendala Produksi Bata Merah

Kontributor: Mokhamad Arifin

blokBojonegoro.com - Kelurahan Ledok Kulon merupakan salah satu sentra produksi batu bata merah di Kabupaten Bojonegoro, yang masih eksis sampai sekarang. Meskipun ada pesaing baru batu bata putih yang harganya lebih murah, bata merah masih banyak memiliki peminat.

Suwito, salah satu pemilik tempat produksi bata merah di Ledok Kulon mengatakan, pembuatan bata masih bergantung pada cuaca. Ia mengaku terjadi penurunan produksi bata merah ketika musim penghujan.

"Kalau musim hujan, debit air di bengawan solo naik, sehingga menyulitkan saat mengambil tanah sebagai bahan baku utama bata merah," kata laki-laki asli ledok itu.

Saat musim kemarau, Suwito mejelaskan, pembuatan bata merah bisa mencapai 15.000 buah, dengan harga Rp450 ribu. Sedangkan saat musim penghujan hanya mampu membuat 10.000 bata dengan harga Rp600 ribu per seribu buah. Puncak pembuatan biasanya terjadi di bulan September.

"Saat musim penghujan itu susah, terutama dalam proses penjemuran. Kalau kemarau harga turun," keluhnya.

Usaha produksi batu bata merah banyak tersebar di kawasan Kelurahan Ledok Kulon. Sedikitnya ada 40 tempat usaha produksi bata merah.

Masyarakat mengambil endapan lumpur yang berada di tepian Sungai Bengawan Solo, selanjutnya mereka membuat produksi batu bata merah itu di bantaran sungai.

Sementara Ishaq, warga asli Desa Ngumpakdalem yang menyewa lahan untuk dijadikan tempat pembuatan bata ini mengatakan, kendala dalam proses produksi bata adalah saat musim hujan, lantaran proses pengeringan lama karena masih mengandalkan sinar matahari.

"Soal permintaan konsumen tidak ada masalah," tutupnya kepada blokBojonegoro. [fin/mu]

Tag : batu bata, produksi bata, ledok, pengusaha bata, bata merah


* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

  • Saturday, 22 August 2020 20:00

    Duet Wens-Komang Nahkodai AMSI 2020-2023

    Duet Wens-Komang Nahkodai AMSI 2020-2023 Asosiasi Media Siber Indonesa (AMSI) kembali mempercayakan tampuk kepemimpinan kepada Wensesleus Manggut (Pemred Merdeka.com), sebagai Ketua Umum dan Wahyu Dhyatmika/Komang (Pemred Tempo), sebagai Sekretaris Jenderal periode 2020-2023 pada kongres kedua...

    read more

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat