09:00 . Rapid Test Gratis untuk Peserta UTBK Calon Mahasiswa   |   08:00 . Intip Desa Sentra Perikanan   |   07:00 . Selain WFH, Ini 6 Hal yang Bikin Sakit Punggung   |   22:00 . Tak Ada Tambahan Sembuh dan Positif, PDP Bertambah 1 Orang   |   19:00 . Menggelitik....!!! Arga Marvel Pernah Juara Berhadiah 1 Sak Gabah   |   18:00 . Sesosok Mayat Wanita Mengapung di Bengawan   |   17:00 . Semangati Milenial Teladani Bung Karno Lewat Lomba Vlog dan Puisi   |   16:00 . Diduga Korsleting Listrik, 4 Rumah Warga Kasiman Terbakar   |   15:00 . Ada Dua Mekanisme Daftar Ulang Siswa Baru Jenjang SMP   |   13:00 . Rapid Tes Peserta UTBK Membludak, Tetap Sesuai Protokol Kesehatan   |   12:00 . Ratusan Calon Mahasiswa Baru Antre Rapid Tes   |   11:00 . Seratusan Santri Lirboyo Asal Bojonegoro Mulai Balik Pondok   |   10:00 . Mayat Wanita Ditemukan Mengapung di Bengawan   |   09:00 . Bolang-baling dan Cakwe Camilan Lezat Khas Negeri Tirai Bambu   |   08:00 . Pasar Buah Banjarejo Mulai Dibongkar   |  
Sun, 05 July 2020
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Monday, 15 June 2020 13:00

Dari Edukasi Siswa Hingga Raup Omzet Belasan Juta dari Sistem Hidroponik

Dari Edukasi Siswa Hingga Raup Omzet Belasan Juta dari Sistem Hidroponik

Reporter: Muhammad Qomarudin

blokBojonegoro.com - Menghargai alam harus diperkenalkan sejak dini. Mulai memanfaatkan limbah hijau, menumbuhkan dan merawat tanaman, hingga kemudian memetik hasilnya.

Tidak adanya lahan bukan halangan. Sebab, teknik hidroponik bisa jadi jawaban karena tak membutuhkan lahan tanah luas. Karena itu, bercocok tanam bisa dilakukan di atas gedung sekolah sekalipun.

Seperti halnya yang diterapkan di Raudathul Athfal (RA) Plus Darussalam Bojonegoro. Dengan memanfaatkan gedung atas sekolah dengan luas 9x25 meter, sekolah yang terletak di Jalan Agus Salim, Kelurahan Kauman, Kecamatan Kota ini mampu menanam berbagai macam sayuran hingga buah-buahan.

Kepala Sekolah RA Plus Darussalam Bojonegoro, Siti Kholifah mengatakan, tujuan awal bertanam dengan konsep hidroponik sebenar untuk memberikan edukasi kepada para anak didiknya. Sebab, bertanam harus diperkenalkan sejak dini, apalagi di wilayah kota bisa dikatakan sudah minim lahan untuk bertani, lantaran di wilayah kota sudah banyak gedung yang berdiri.

"Awalnya kita sedikit kebingungan untuk memberikan edukasi kepada anak-anak terkait pembelajaran bercocok tanam, adapun biasanya harus pergi ke sawah dan disawah pun sedikit kurang aman, karena risiko terkena keong sawah ataupun lainnya cukup besar," ujarnya, Senin (15/6/2020).

Melihat hal tersebut, akhirnya pihak sekolah membuat tempat khusus untuk memberikan edukasi kepada para anak sekolah tentang bertani. Sehingga sistem hidroponik dengan memanfaatkan media air dirasa sangat cocok, selain tanpa menggunakan media tanah, sistem hidroponik juga tidak membutuhkan lahan yang begitu luas.

Pada awal dibangun pada tahun 2016 lalu, berbagai jenis macam sayuran hingga buah-buahan pernah ditanam, mulai dari Jagung manis, Cabai, Terong, Tomat, Paprika, Melon, Semangka. Namun, melihat permintaan pasar yang lebih banyak membutuhkan sayuran, akhirnya pihak sekolah lebih mengembangkan sistem sayuran lantaran lebih cepat panen dan juga lebih cepat laku.

"Kalau sekarang tinggal beberapa sayuran, seperti Selada, Sawi, Kaila, Dakota, Seledri, Kangkung hingga Brokoli," lanjut perempuan yang akrab disapa Bu Ifa ini.

Selain untuk edukasi anak didiknya mapun sekolah lain, hasil berkebun tersebut juga dijual kepada masyarakat. Bahkan, pada awal penjualan pihak sekolah mampu mendistribusikan hasil hidroponiknya ke Supermarket yang ada di Bojonegoro maupun Tuban.

Namun melihat sistem yang kurang begitu cepat untuk pembayaran, akhirnya pihak sekolah menjual memalui online dan juga memasarkan di depan sekolah. Dengan cara seperti ini, ternyata banyak masyarakat yang membeli.

"Dulu pernah ke Supermarket tetapi sudah kita hentikan, karena sistem pembelianya dua minggu setelahnya baru dikasih uang dan juga untuk sayur yang tidak laku juga dikembalikan, sehingga kita harus memutar otak kembali," imbuhnya.

Dengan cara tersebut, ternyata banyak masyarakat yang membelinya, baik untuk dikonsumsi sendiri maupun kembali dijual. Bahkan sebelum adanya pandemi covid-19, pihak sekolah mampu mendapatkan minimal Rp500 ribu setiap harinya.

"Kalau sekarang menurun, mungkin tinggal Rp300 ribu setiap harinya dan itupun kita kuwalahan meneima pesanan dari para pembeli," jelas Siti Kholifah.

Sementara itu, salah satu pembeli, Dwi Ratna Palupi mengaku, sudah berlangganan sayuran hidroponik sekitar 1 tahun. Untuk sayuran yang dibelinya, ia komsumsi sendiri dan ada juga yang kembali dijual kepada masyarakat.

"Saya memilih sayuran hidroponik karena lebih segar, awet dan tidak mengandung kimia," tukas perempuan asal Desa Mulyoagung tersebut. [din/mu]

Tag : Sekolah, hidroponik, kreatif, inovatif


* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

  • Tuesday, 16 June 2020 19:00

    Dampingi Petani, Disperta Bojonegoro Adakan SL-PTT Tembakau

    Dampingi Petani, Disperta Bojonegoro Adakan SL-PTT Tembakau Guna meningkatkan SDM petani, khususnya petani tembakau, Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro mengadakan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) tembakau di kelompok tani Sumber Rejeki, Desa Bulu, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro,...

    read more

Lowongan Kerja & Iklan Hemat