07:00 . Waspada, Pemberian MPASI Kurang Tepat Bisa Berisiko Stunting   |   19:00 . 3 Orang Sembuh, Tambahan 2 Positif Covid-19   |   18:00 . Hadirkan Hotspot Area Untuk Akses Jangkauan Informasi yang Luas   |   17:00 . Gotong Royong Masyarakat Samin yang Masih Terjaga   |   16:00 . Pandemi, Apakah Pentol Sejati Terdampak?   |   15:00 . Siap Jaga Kyai Dan NKRI, Santri IPSPN-NU Dikukuhkan   |   13:00 . 852 Modin Wanita Dapat Insentif Rp125 Ribu Tiap Bulan   |   12:00 . MTQ di Bojonegoro Dilaksanakan 15 Oktober Mendatang   |   10:00 . Perlancar Aliran Sungai, Pemkab dan Koramil Kerja Bakti   |   08:00 . Angin Kencang Akibatkan Rumah Rusak dan Pohon Tumbang   |   07:00 . Berikut Ciri-Ciri Sakit Jantung   |   23:00 . Makin Maju, Pesantren Mahasiswa Attanwir Diresmikan   |   22:00 . Intip Museum Pertanian di Wisata Edukasi Pejambon   |   21:00 . Wisata Edukasi Pejambon Diresmikan Menteri Desa   |   20:00 . 2 Sembuh, Tambahan 2 Positif   |  
Mon, 28 September 2020
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Wednesday, 17 June 2020 12:00

#TokohBojonegoro (6)

Titie Said Sadikun Penulis Senior dan Ketua Lembaga Sensor Film Indonesia

Titie Said Sadikun Penulis Senior dan Ketua Lembaga Sensor Film Indonesia

Reporter: Parto Sasmito

blokBojonegoro.com - Kabupaten Bojonegoro sempat memiliki tokoh perempuan yang luar biasa,Titie Said Sadikun (Almh) yang merupakan penulis senior dan juga Ketua Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia.

Pemilik nama asli Sitti Raya  Kusumowardani ini lahir di Bojonegoro, 11 Juli 1935, tepatnya di Desa Kauman. Sitti Rayya memulai pendidikan formalnya di sekolah dasar tahun 1948 di Bojonegoro. Kemudian melanjutkan pendidikannya ke SMP tahun 1955 di Bojonegoro, dan tamat SMA tahun 1959 di Kota Malang. Seelanjutnya, dia pindah ke Jakarta dan melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Sastra, Jurusan Purbakala, Universitas Indonesia, namun tidak sampai menamatkan pendidikannya tersebut.

[Baca juga: Marsekal (Purn) Soekardi Penerbang yang Mencetuskan Call Sign Jupiter TNI AU ]

Hidup di keluarga yang gemar menulis, yakni ayahnya bernama Muhammad Said, seorang guru, tentara, dan penulis di zaman Belanda dan ibunya bernama Hastuti Suwanti, membuat Sitti Rayya juga suka menulis.

Bahkan, sejak di SMPP, Titie Said tertarik dengan sasatra. Sehingga, dia menulis puisi-puisi cengeng yang dimuat dalam majalah Brawijaya. Tak cukup puas menulis puisi, Titie juga menulis cerpen. Tulisan-tulisannya itu pertama-tama dipublikasikan dalam berbagai majalah, antara lain dalam majalah Roman, Widjaja, Indonesia, Berita Minggu, Star Weekly, Varia, dan Sastra. Kemudian, cerpen-cerpen tersebut diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen yang berjudul Perjuangan dan Hati Perempuan (Nusantara,1962).

Mengawali karirnya di bidang jurnalistik, bekerja sebagai redaktur majalah mingguan Hidup (1957—1959) di Malang. Kemudian dia bekerja di majalah Wanita (1959—1960). Dia juga pernah menjabat anggota DPRD dari fraksi Golkar di Bali.

Setelah tak lagi di Bali, dia  bersama Drs. Lukman Umar mendirikan majalah Kartini dan ia menjabat pemimpin redaksi (1973). Selain itu, pada t ahun 1973—1980 dia bertugas sebagai staf ahli majalah Putri Indonesia dan Ananda.

Keluar dari majalah Kartini, Titie Said bersama dengan adiknya, Dra. Lies Said, mendirikan majalah Famili (1981). Tahun 1993 ia menjabat penanggung jawab Kelompok Kerja Peranan Wanita dalam kepengurusan Persatuan Wartawan Indonesia Pusat.

Dari profesinya sebagai wartawan itu, mulai taahun 1973 Titie Said Sadikun mulai menulis novel, dengan materi langsung mewawancarai tokoh ceritanya. Salah satu novelnya, Jangan Ambil Nyawaku (1976), diterbitkan oleh Variasi Jaya-Kartini, Jakarta. Bahkan, novel yang menceritakan tentang seorang wanita menderita kanker di rumah sakit itu, difilmkan oleh Syumanjaya dan diedarkan oleh PT Garuda Film. Novel berikutnya, adalah Lembah Duka (1975) diterbitkan oleh Team Group, Jakarta.

Tak hanya itu, Titie Said kian produktif menulis novel. Hingga tahun 2008, total ada 25 novel yang ditulisnya, beberpa di antaranya adalah Fatima (Alam Budaya, Jakarta, tahun 1981), Bayang-Bayang Kehidupan (Alam Budaya, Jakarta, tahun 1982), Langit Hitam di Atas Ambarawa (Media Guna, Jakarta, tahun 1983), Selamat Tinggal Jeanette (Alam Budaya, Jakarta, Tahun 1986), Reinkarnasi, Fatima, Ke Ujung Dunia, dan Prahara Cinta (2008).

Pada tahun 1997, Titie Sadi menjadi anggota Dewan Juri Sinetron Cerita pada FSI. Kemudian, tahun 2003-2006 dan 2006-2009, selama dua periode Titie Said juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Sensor Film (LSF). Dengan posisi sebagai ketua LSF, sering diundang sebagai pembicara di seminar-seminar dalam dan luar negeri, terakhir di Perth, Australia. Pada hari Senin 24 Oktober 2011 Titie Said  meninggal dunia dalam usia 76 tahun di Rumah Sakit Medistra, Jakarta lantaran terkena stroke dan tidak sadar diri.

Data diri:
Nama: Sitti Raya  Kusumowardani / Titie Said Sadikun
Tempat, Tanggal Lahir: Bojonegoro, 11 Juli 1935
Bapak: Muhammad Said
Ibu: Hastuti Suwanti
Suami: Drs. H. Sadikun Sugihwaras
Anak:- Dita Duhita Hayuningtyas, Yudo Dwinanda Pria Adi, Okky Trinanda Musyakti, dan Eddy Caturnanda Luhurbudi.

Karir:
- Redaktur majalah mingguan Hidup (1957—1959)
- Majalah Wanita (1959—1960)
- Pendiri dan Pemred Majalah Kartini (1973)
- Staf ahli majalah Putri Indonesia dan Ananda (1973—1980)
- Pendiri Majalah Famili (1981)
- Ketua Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia 2003-2006 dan 2006-2009

Karya:
Kumpulan cerpen, Perjuangan dan Hati Perempuan (Nusantara,1962)
Fatima (Alam Budaya, Jakarta, tahun 1981)
Bayang-Bayang Kehidupan (Alam Budaya, Jakarta, tahun 1982)
Langit Hitam di Atas Ambarawa (Media Guna, Jakarta, tahun 1983)
Selamat Tinggal Jeanette (Alam Budaya, Jakarta, Tahun 1986)
Reinkarnasi, Fatima, Ke Ujung Dunia, dan Prahara Cinta (2008).

Tag : titie said sadikun, bojonegoro, novel, karya, lsfi, lembaga, sensor, film


* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

  • Saturday, 22 August 2020 20:00

    Duet Wens-Komang Nahkodai AMSI 2020-2023

    Duet Wens-Komang Nahkodai AMSI 2020-2023 Asosiasi Media Siber Indonesa (AMSI) kembali mempercayakan tampuk kepemimpinan kepada Wensesleus Manggut (Pemred Merdeka.com), sebagai Ketua Umum dan Wahyu Dhyatmika/Komang (Pemred Tempo), sebagai Sekretaris Jenderal periode 2020-2023 pada kongres kedua...

    read more

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat