23:00 . Seleksi Bojonegoro FC, Dikerucutkan Jadi 30 Pemain   |   22:00 . Era Industri, Pemkab Optimalkan Peran Pemuda dalam Pembangunan Daerah   |   21:00 . BPBD Bojonegoro Minta Warga Waspadai Fenomena La Nina   |   20:30 . KPC PEN Gelar Webinar Kolaborasi dengan Pemkab Bahas Vaksin Covid-19   |   20:00 . Ademos Latih Timlak Patra Daya Program 2020   |   19:30 . Infrastruktur Publik di Bandungrejo Rampung, Warga Lancar Beraktifitas   |   19:00 . Setelah Vaksin Tiba, Harus Masyarakat Tetap Disiplin 3M   |   18:30 . Satgas Sayangkan Sikap Habib Rizieq yang Tak Mau Telurus Kontak   |   18:00 . Jumlah Kasus Meningkat, Menjadi Pembelajaran Serius   |   17:30 . Diterjang Banjir, Jembatan di Kuniran Ambruk   |   17:00 . Menyambut HPN 2021, PWI Bojonegoro Siapkan Beberapa Kegiatan   |   16:30 . Detik-detik Jembatan Bambu Hanyu Terbawa Banjir Sungai   |   16:00 . Jaga Kamtibmas, Kapolres Bojonegoro Ajak Terus Lawan Covid-19   |   15:00 . Bahas 15 Raperda, DPRD Bojonegoro Utamakan Raperda RTRW   |   14:00 . Gandeng Yayasan PESAT, EMCL Sosialisasikan Progam Bronjong   |  
Thu, 03 December 2020
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Wednesday, 16 September 2020 07:00

Kasus Ibu Bunuh Anak karena Susah Belajar Online, Apa Kata Psikolog?

Kasus Ibu Bunuh Anak karena Susah Belajar Online, Apa Kata Psikolog?

Reporter: -

blokBojonegoro.com - Kasus kekerasan terhadap anak yang berujung pada hilangnya nyawa, belum lama ini terjadi di Lebak, Banten.

Jasad bocah delapan tahun ditemukan terkubur dengan pakaian lengkap di TPU Gunung Kendeng, Kecamatan Cijaku, Lebak.

Setelah ditelusuri, rupanya anak yang masih duduk di bangku kelas 1 Sekolah Dasar itu dianiaya sang ibu berinisial LH (26).

Konon, LH tega membunuh anaknya karena kesal lantaran korban susah diajari saat belajar online.

Terlepas dari kebenaran pengakuan itu, namun kesabaran orangtua memang kerap diuji di masa-masa proses belajar online.

Tentang kasus ini, Psikolog Mario Manuhutu, M. Si, mengaku yakin pemicu dari kejadian ini tak hanya soal masalah anak yang susah diajari saat belajar online.

Stres karena masa pandemi dan faktor lain bisa juga menjadi latar belakang kekerasan tersebut.

Di sisi lain, tak semua orang mampu mengatasi stres yang mendera.

“Orang punya toleransi terhadap situasi yang menekan itu beda-beda,” kata Mario kepada Kompas.com saat dihubungi, Selasa (15/9/2020).

Sehingga, dalam konteks perkara ini, Mario sesunguhnya mengimbau agar para orangtua mengatasi stresnya terlebih dahulu, sebelum turun tangan mengajar atau berinteraksi dengan anak.

“Jadi memang yang perlu penangnan stres adalah orangtuanya dulu. Ketika orangtua sudah bisa menangangi stres dan tekanan, dia bisa mengajar anaknya,” kata Mario lagi.

Selain itu, lanjut Mario, orangtua juga harus selalu mampu mengolah emosi sendiri, sebelum bisa mengolah emosi anak.

Saat mengajari anak belajar, wajar orangtua merasakan perasaan kesal dan marah. Belum lagi bila materi pelajaran terbilang sulit, dan anak susah untuk memahaminya.

“Anak kan lihat kita, anak juga belajar dari apa yang dia lihat,”ujar dia.

“Kita suruh anak tenang, belajar, dan bilang jangan cengeng, tapi kita ngasih tahunya sambil marah-marah juga,” imbuh dia.

Menurut Mario, emosi yang tak bisa dikelola dengan dengan baik, akan membuat orangtua lepas kendali.

Selanjutnya, hal-hal buruk bisa terjadi, seperti mengeluarkan kata-kata kasar yang akan berpengaruh pada psikologis anak, hingga yang terburuk, kekerasan fisik.

Seperti yang disebutkan di awal, mengelola emosi bisa dilakukan orangtua sebelum berinteraksi dengan anak.

Orangtua dihimbau untuk berhenti sejenak, melepaskan stres dengan cara-cara sederhana.

“Tarik nafas dulu, cuci muka misalkan, habis meeting satu jam misalnya, jangan langsung ketemu anak, minum teh dulu, melihat luar dulu, baru kembali lagi,” ujar dia.

Hal ini dilakukan untuk melindungi anak dari kekerasan verbal maupun fisik yang bisa saja terjadi karena orangtua tak bisa mengelola emosi dengan baik.

“Bahwa ketika kita bentak, kita sudah marah, menghardik atau dengan kata-kata yang volumenya keras, nada tinggi, pasti dia kaget,” ujar Mario.

“Anak jadi stres, dibawa dalam situasi yang selalu siaga. Kalau enggak, responnya nangis atau kabur, atau dia ikutan marah juga,” imbuh Mario.

*Sumber: kompas.com

Tag : pendidikan, kesehatan


* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

  • Sunday, 29 November 2020 00:00

    Selamat Jalan Mas Safuan

    Selamat Jalan Mas Safuan Innalillahi wainna ilaihi roojiuun. Reporter blokBojonegoro.com, Mochamad Safuan meninggal dunia, Sabtu (28/11/2020) petang....

    read more

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat