Kamis, 29 Juni 2017
Jl. Brigjen Sutoyo Gg. Salafiyah No. 5 Desa Sukorejo, Bojonegoro, Telp 0353-3412093, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Perempuan, Kesetaraan dan Kesenjangan yang Tak Disadari

Kamis, 09 Maret 2017 09:00
Perempuan, Kesetaraan dan Kesenjangan yang Tak Disadari

Oleh: Nidhomatum MR

Peringatan Hari Perempuan Internasional bagi sebagian perempuan menjadi momen untuk menyuarakan tuntutan akan hak mereka. Ya..bagi para aktivis feminis, 8 Maret menjadi wujud pengingat kebangkitan perempuan dari kungkungan budaya patriarki dan tahapan awal menuntut kesetaraan gender sehingga patut diperingati. Banyak hal dipersiapkan mereka menyambut  peringatan rutin tahunan ini.

Sementara, di sisi lain, pada momen Hari Perempuan Internasional kemarin, tak ada sambutan atau hal-hal khusus yang dilakukan ibu-ibu di lingkungan tempat saya tinggal. Mereka tetap melaksanakan aktivitas harian mereka, mulai momong anak, beli sayur, tak ketinggalan "ngrumpi" di forum rumpi pagi ngobrol sana-sini, tanpa membeber spanduk menyuarakan tuntutan. Bahkan mungkin mereka tak ingat kalau tanggal 8 Maret ditetapkan sebagai hari khusus bagi kaumnya.

Jika dulu feminis menyuarakan terkait kesetaraan kesempatan untuk eksis di ranah publik, saat ini sudah bergeser lebih pada masalah penanganan kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang dialami perempuan, masalah pendidikan dan hal lainnya. Maklum, saat ini peningkatan akses perempuan untuk bekerja di ranah publik sudah terbuka lebar sehingga banyak perempuan memilih berkarir dengan segala konsekuensinya.

Terbukanya akses perempuan untuk berkarir tak lantas meninggalkan masalah. Namun, memunculkan masalah-masalah baru pula, di antaranya soal pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) yang dirasa tak lebih baik dibandingkan perempuan berkarir.

Saya teringat, suatu hari, dalam sebuah obrolan di forum rumpi pagi, (biasa, ibu-ibu kompleks yang suka ikut ngrumpi) seorang ibu menceritakan kesehariannya sebagai IRT dengan segala aktivitasnya mulai bangun pagi, mengurus anak, masak, mencuci dan tetek bengek lainnya ala IRT.

"Aku mah apa, hanya seorang IRT yang pure IRT saja, nggak bisa bantu suami cari uang," ujarnya.

Dari apa yang dikatakan, secara tidak langsung dia menyatakan keminderannya sebagai IRT yang bekerja di ranah domestik dengan segala aktivitas hariannya. Dia merasa, peran sebagai IRT tak lebih baik dari perempuan-perempuan yang memilih bekerja sebagai wanita karir. Dan, diakui atau tidak perasaan seperti ini jamak dirasakan oleh mayoritas perempuan IRT di Indonesia.

Dari sini, masalah yang timbul yakni kenyataan konstruksi sosial yang bergeser dengan anggapan bekerja di ranah domestik sebagai IRT lebih inferior dibandingkan pekerjaan sebagai perempuan karir.  Atau, akhirnya muncul perdebatan mengenai pekerjaan yang lebih afdhol antara keduanya (IRT dan karir) yang berujung pada saling menjatuhkan dengan memaksakan ego atas pilihan masing-masing.

Dengan kata lain, realitas yang terjadi banyak perempuan di luar sana yang berijazah tinggi dan memandang remeh perempuan yang menyimpan ijazahnya untuk menjadi ibu rumah tangga? Begitu pula sebaliknya, menganggap mereka yang memilih berkarir berarti meninggalkan tanggung jawab domestik sebagai seorang Ibu.

Padahal, jika ditelaah, semua pekerjaan baik di ranah domestik maupun publik merupakan sebuah pilihan dengan konsekuensi masing-masing. Perempuan yang berkarir memilih meninggalkan anak dengan pengasuh demi meraih mimpinya, sementara perempuan yang memilih menyimpan ijazah mereka beranggapan anak adalah investasi termahal yang mereka miliki. Keduanya bukanlah suatu masalah.

Kesejajaran pekerjaan sebagai IRT dan karir menjadi masalah ketika konstruksi sosial menganggapnya tak sejajar. Apalagi, di Indonesia pemahaman bahwa perempuan karir lebih "wah" dibandingkan kaum hawa yang memilih sebagai IRT sudah menjadi pandangan umum. Sehingga, diakui atau tidak, jika diberi pilihan, tentu menjadi perempuan karir lebih jadi idaman.

Hal ini jelas berbeda dengan konstruksi sosial di Jepang. Di negeri sakura itu, perempuan lebih memilih sebagai IRT. Tak ayal, Pemerintah Jepang berusaha meningkatkan jumlah perempuan karir dengan alasan percepatan pertumbuhan ekonomi. Nyatanya, hal ini terhalang oleh pandangan umum tentang norma yang berlaku pada masyarakat Jepang.

Ruth Benedict dalam The Chrysanthemum and The Sword Patterns of Japanese Culture (1954) mengungkapkan dalam kebudayaan Jepang, status seorang Ibu tidak hanya terkait kepuasan emosi tapi juga mempengaruhi statusnya dalam keluarga dan di masyarakat.  Hal ini juga berlaku dengan bagaimana dia mengurus masalah rumah tangganya. Semakin sukses perempuan Jepang dalam hal kepengurusan rumah tangga, semakin dipandang "wah" oleh masyarakat di sana.

Norma ini masih berlaku, sehingga dari data yang ada pada 2013, sebanyak 41,6% perempuan berusia 20-an tahun yang telah menikah menilai perempuan seharusnya tinggal di rumah dan mengerjakan tugas-tugas rumah tangga. Persentase itu merupakan peningkatan jika dibandingkan 35,7% responden yang berpendapat sama pada 2003. Ditambahkan, dalam survei yang dilakukan diketahui 2/3 responden berpandangan bahwa selayaknya kaum Ibu cuti berkarir hingga Sang Buah Hati berumur tiga tahun. Stigma ini menunjukkan, tingginya tingkat pendidikan wanita Jepang, tidak menjamin mereka akan menekuni karirnya di dunia kerja.

 Peringatan Hari Perempuan Internasional bagi sebagian perempuan menjadi moment untuk menyuarakan tuntutan akan hak mereka. Ya..bagi para aktivis feminis, 8 Maret menjadi wujud pengingat kebangkitan perempuan dari kungkungan budaya patriarki dan tahapan awal menuntut kesetaraan gender sehingga patut diperingati. Banyak hal dipersiapkan mereka menyambut  peringatan rutin tahunan ini.

Sementara, di sisi lain, pada moment Hari Perempuan Internasional kemarin, tak ada sambutan atau hal-hal khusus yang dilakukan ibu-ibu di lingkungan tempat saya tinggal. Mereka tetap melaksanakan aktivitas harian mereka, mulai momong anak, beli sayur, tak ketinggalan "ngrumpi" di forum rumpi pagi ngobrol sana-sini, tanpa membeber spanduk menyuarakan tuntutan. Bahkan mungkin mereka tak ingat kalau tanggal 8 Maret ditetapkan sebagai hari khusus bagi kaumnya.

Jika dulu feminis menyuarakan terkait kesetaraan kesempatan untuk eksis di ranah publik, saat ini sudah bergeser lebih pada masalah penanganan kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang dialami perempuan, masalah pendidikan dan hal lainnya. Maklum, saat ini peningkatan akses perempuan untuk bekerja di ranah publik sudah terbuka lebar. Sehingga, banyak perempuan memilih berkarir dengan segala konsekuensinya.

Terbukanya akses perempuan untuk berkarir tak lantas meninggalkan masalah. Namun, memunculkan masalah-masalah baru pula, di antaranya soal pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) yang dirasa tak lebih baik dibandingkan perempuan berkarir.

Saya teringat, suatu hari, dalam sebuah obrolan di forum rumpi pagi, (biasa, ibu-ibu kompleks yang suka ikut ngrumpi) seorang ibu menceritakan kesehariannya sebagai IRT dengan segala aktivitasnya mulai bangun pagi, mengurus anak, masak, mencuci dan tetek bengek lainnya ala IRT.

"Aku mah apa, hanya seorang IRT yang pure IRT saja, nggak bisa bantu suami cari uang," ujarnya.

Dari apa yang dikatakan, secara tidak langsung dia menyatakan keminderannya sebagai IRT yang bekerja di ranah domestik dengan segala aktivitas hariannya. Dia merasa, peran sebagai IRT tak lebih baik dari perempuan-perempuan yang memilih bekerja sebagai wanita karir. Dan, diakui atau tidak perasaan seperti ini jamak, dirasakan oleh mayoritas perempuan IRT di Indonesia.

Dari sini, masalah yang timbul yakni kenyataan konstruksi sosial yang bergeser dengan anggapan bekerja di ranah domestik sebagai IRT lebih inferior dibandingkan pekerjaan sebagai perempuan karir.  Atau, akhirnya muncul perdebatan mengenai pekerjaan yang lebih afdhol antara keduanya (IRT dan karir) yang berujung pada saling menjatuhkan dengan memaksakan ego atas pilihan masing-masing.

Dengan kata lain, realitas yang terjadi banyak perempuan di luar sana yang berijazah tinggi dan memandang remeh perempuan yang menyimpan ijazahnya untuk menjadi ibu rumah tangga? Begitu pula sebaliknya, menganggap mereka yang memilih berkarir berarti meninggalkan tanggung jawab domestik sebagai seorang Ibu.

Padahal, jika ditelaah, semua pekerjaan baik di ranah domestik maupun publik merupakan sebuah pilihan dengan konsekuensi masing-masing. Perempuan yang berkarir memilih meninggalkan anak dengan pengasuh demi meraih mimpinya, sementara perempuan yang memilih menyimpan ijazah mereka beranggapan anak adalah investasi termahal yang mereka miliki. Keduanya bukanlah suatu masalah.

Kesejajaran pekerjaan sebagai IRT dan karir menjadi masalah ketika konstruksi sosial menganggapnya tak sejajar. Apalagi, di Indonesia pemahaman bahwa perempuan karir lebih "wah" dibandingkan kaum hawa yang memilih sebagai IRT sudah menjadi pandangan umum. Sehingga, diakui atau tidak, jika diberi pilihan, tentu menjadi perempuan karir lebih jadi idaman.

Hal ini jelas berbeda dengan konstruksi sosial di Jepang. Di negeri sakura itu, perempuan lebih memilih sebagai IRT. Tak ayal, Pemerintah Jepang berusaha meningkatkan jumlah perempuan karir dengan alasan percepatan pertumbuhan ekonomi. Nyatanya, hal ini terhalang oleh pandangan umum tentang norma yang berlaku pada masyarakat Jepang.

Ruth Benedict dalam The Chrysanthemum and The Sword Patterns of Japanese Culture (1954) mengungkapkan dalam kebudayaan Jepang, status seorang Ibu tidak hanya terkait kepuasan emosi tapi juga mempengaruhi statusnya dalam keluarga dan di masyarakat.  Hal ini juga berlaku dengan bagaimana dia mengurus masalah rumah tangganya. Semakin sukses perempuan Jepang dalam hal kepengurusan rumah tangga, semakin dipandang "wah" oleh masyarakat di sana.

Norma ini masih berlaku, sehingga dari data yang ada pada 2013, sebanyak 41,6% perempuan berusia 20-an tahun yang telah menikah menilai perempuan seharusnya tinggal di rumah dan mengerjakan tugas-tugas rumah tangga. Persentase itu merupakan peningkatan jika dibandingkan 35,7% responden yang berpendapat sama pada 2003. Ditambahkan, dalam survei yang dilakukan diketahui 2/3 responden berpandangan bahwa selayaknya kaum Ibu cuti berkarir hingga Sang Buah Hati berumur tiga tahun. Stigma ini menunjukkan, tingginya tingkat pendidikan wanita Jepang, tidak menjamin mereka akan menekuni karirnya di dunia kerja.

Terakhir, dengan perbandingan antara dua kebudayaan yang ada, sebenarnya masalah perdebatan terkait lebih baik mana antara perempuan IRT dan perempuan karir tergantung bagaimana stigma masyarakat melabeli keduanya. Yang jelas, jangan sampai perjuangan kesetaraan atas dominasi laki-laki, ternyata secara  tanpa disadari malah menciptakan kesenjangan atas kaumnya sendiri (dengan perdebatan yang berkepanjangan antara IRT dan karir). Salam.

Ilustrasi: futuready.com
 

Share: Twitter | Facebook | Email
Show Comments [+]
Baca Juga: Dilema Punk di BojonegoroMenunggu Pemimpin yang Pro Bengawan SoloSelalu Membangun BojonegoroSosiologi dan Eksistensi Hukum IslamPola Pikir Menempuh Pendidikan di Perguruan TinggiNatal: Membumikan ToleransiSelamat Tahun Baru, Bojonegoro!Selamat Datang di Fire Rooster YearBodjonegoro 1948 - 1949Belajar HAM dan Pancasila dari Bung Hatta

Berita Terpopuler: Polsuska Gadungan Dituntut 2 TahunPersibo Usung 18 Pemain Lawan PersemaKPUD Rekrut 135 Petugas Pemilihan KecamatanGay Pencuri Sepeda Pancal Meringkuk 25 BulanPeminat Meningkat, Gadget Alami Lonjakan PenjualanAda Proyek Migas, Kebutuhan Listrik BertambahTak Taat Perda, Baliho Dibongkar TotalDiintimidasi, Bus Bojonegoro-Surabaya Masih MogokKe Jerman, 11 Anggota DPR Habiskan Rp1 M Hedupi Keluarga Dengan Batu Bata