Jumat, 15 Desember 2017
Jl. Brigjen Sutoyo Gg. Langgar No. 5 Desa Sukorejo, Bojonegoro, Telp 0353-3412093, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Berkhayal Bisa Mengurangi Kebahagiaan

Senin, 20 Maret 2017 07:00
Berkhayal Bisa Mengurangi Kebahagiaan

Reporter:-

blokBojonegoro.com - Penelitian menemukan, orang yang sering melamun dan berkhayal cenderung kurang bahagia ketimbang orang yang fokus pada realitas.

Di bus, di tempat kerja, di kamar mandi, melamun bisa terjadi kapan pun dan di manapun. Sayangnya, bila pikiran Anda terus-menerus berkeliaran dalam dunia khayalan, peneliti menyarankan untuk mengurangi kebiasaan tersebut.

Peneliti kebahagiaan Dr Matt Killingsworth dari Harvard University sempat merancang sebuah aplikasi ponsel yang ditujukan kepada responden untuk mengetahui sebesar apa dampak berkhayal pada jangka panjang.

Aplikasi tersebut berisi pertanyaan harian seperti bagaimana perasaan Anda, apa yang Anda lakukan, apakah Anda memikirkan hal lain dari apa yang sedang Anda lakukan?

Setelah aplikasi diuji pada ribuan responden, disimpulkan bahwa berkhayal tentang sesuatu yang netral atau negative, ternyata mampu membuat seseorang merasa kurang bahagia dengan cara merusak suasana hati.

Namun, berkhayal yang indah-indah, juga tidak meningkatkan suasana hati sedikit pun.

Killingsworth mengatakan, "Ketika pikiran kita mengembara, saya pikir itu benar-benar menumpulkan kenikmatan dari apa yang kita lakukan.”

“Ini berarti bahwa, tidak peduli seberapa brilian pikiran kita untuk membayangkan skenario yang paling membahagiakan, imajinasi kita tidak akan pernah bisa menyamakan kebahagiaan dari sesuatu yang nyata,” lanjutnya.

Kesimpulanya, melamun dan berkhayal sebenarnya tidak berbahaya dan bahwa 96% dari seluruh orang dewasa melakukannya secara teratur.

Hanya saja, terlalu banyak berkhayal dan menjadi kurang menikmati “saat ini” telah terbukti memiliki konsekuensi. Misalnya, fenomena melamun maladaptif di mana seorang bisa lamunan hingga 15-30 menit, sehingga mengganggu aktivitas kehidupan sehari-hari.

Kondisi tersebut telah diklasifikasikan sebagai kondisi kesehatan mental karena adiktif dan merugikan.

 

Sumber: http://health.kompas.com/read/2017/03/17/211700323/

berkhayal.bisa.mengurangi.kebahagiaan

Share: Twitter | Facebook | Email
Show Comments [+]
Baca Juga: Biopsi Memperparah Kanker, Mitos atau Fakta?Ingin Sehat? Menghindari Gorengan Saja Tak CukupMenangis Saat Nonton Film Menyehatkan MentalLakukan Metode Ini untuk Pertajam IngatanAmankah Ibu Menyusui Konsumsi Kopi?Hubungan Monogami Lebih Baik untuk KesehatanSMPN 1 Ngasem Produksi Pupuk Organik Dari Daun KeringMengapa Kita Perlu Mengetahui Golongan DarahSengit, Otak-atik Rumus Matematika, Ini Juaranya186 Siswa Adu Ketangkasan Rumus Matematika

Berita Terpopuler: Polsuska Gadungan Dituntut 2 TahunPersibo Usung 18 Pemain Lawan PersemaKPUD Rekrut 135 Petugas Pemilihan KecamatanGay Pencuri Sepeda Pancal Meringkuk 25 BulanPeminat Meningkat, Gadget Alami Lonjakan PenjualanAda Proyek Migas, Kebutuhan Listrik BertambahTak Taat Perda, Baliho Dibongkar TotalDiintimidasi, Bus Bojonegoro-Surabaya Masih MogokKe Jerman, 11 Anggota DPR Habiskan Rp1 M Hedupi Keluarga Dengan Batu Bata