Mbah Masilah
Semangatku Keras Seperti Tempurung Gayam
Sabtu, 21 Januari 2012 21:30:00 Semangatku Keras Seperti Tempurung Gayam

Reporter: Joel Joko

blokBojonegoro.com - Gayam, bagi orang Bojonegoro adalah nama sebuah desa di Kecamatan Ngasem. Apalagi sejak adanya eksplorasi migas, desa ini semakin terkenal.

Tetapi, tahukah Anda kalau Gayam juga merupakan nama makanan dari pohon yang sama?

Karena pohon gayam masih terbatas, tanaman ini hanya tumbuh di pedesaan saja. Maka, masyarakat hanya bisa mengkomsumsinya secara musiman.

Salah seorang pedagang gayam asal Desa Tanjungharjo, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Masilah (60) mengatakan, berbuahnya pohon gayam mengikuti musim padi yang ada di pedesaan, baik pada musim hujan maupun kemarau.

"Rendeng-rendeng kados ngateniko nggih kathah (musim hujan seperti sekarang ya banyak)," ujar Masilah.

Gayam merupakan buah yang tumbuh seperti halnya tanaman liar. Hal itu karena masih banyak orang yang belum tahu bahwa buah ini dapat dimakan, bahkan dapat dibuat olahan yang bernilai.

Buah gayam ini bukan seperti umbi-umbian, tetapi buah ini tumbuh bergantungan di pohonnya seperti buah kelapa. Gayam mempunyai kulit yang sangat keras seperti kelapa. Sehingga, tidak akan bisa dikupas jika hanya menggunakan alat pengupas biasa, tetapi harus menggunakan pisau ataupun yang sejenisnya.

Buah gayam juga dapat juga diolah menjadi olahan makanan, seperti direndam air kemudian direbus. Olahan yang lain yaitu keripik gayam. Cara membuatnya seperti halnya keripik singkong. Bahkan, masyarakat di desa mengatakan, keripik gayam lebih enak daripada keripik singkong apabila diolah dengan benar.

Sebagai penjual gayam rebus, Mbah Masilah sudah lebih dari 25 tahun keliling desa hingga kota. Jika tidak musim gayam, ia tetap berjualan makanan seperti aneka gorengan, singkong rebus dan pisang rebus.

Tak ada pantangan baginya untuk menjual makanan yang laku dijual. Sehari-hari menyusuri jalanan hingga lebih dari 40 kilometer sudah menjadi hal biasa. Walaupun uang yang didapat tak sampai Rp 20 ribu.

"Njenengan itung piyambak pinten batine (Anda hitung sendiri berapa untungnya)," kata Masilah memelas.

Hidup sebagai janda dengan anak yang sudah berkeluarga seharusnya tidak menjadikan hidupnya banyak beban. Namun, semangat kerjanya dengan tidak mau merepotkan anak semata wayangnya, Malik (35) menjadikan ia tetap bertahan.

Perempuan yang gemar mengoleksi kain batik ini menceritakan bagaimana suka dukanya menjadi pedagang keliling. Anaknya sering mencemaskan dirinya saat berangkat berjualan.

Setiap hari, ia berangkat dari rumah dengan berjalan kaki. Panas dan hujan menemani hari-harinya. Keuntungan yang kecil membuat anaknya berusaha mencegah agar jangan berangkat berjualan. Sayangnya, usaha anak-anak Masilah tak merontokkan tekad kuatnya.

"Kulo niki perlu hiburan, sebab'e mboten sekeco teng nggriyo piyambak'an (saya itu perlu hiburan, sebab tidak enak di rumah sendirian)," tutur Masilah berkaca-kaca.

Sejak dirinya ditinggalkan suami sekitar 32 tahun lalu, tak pernah terbersit ingin menikah lagi. Hidupnya sudah damai menjadi pedagang keliling yang berteman dengan semua orang.

Belajar dari buah gayam, Masilah mengungkapkan kerasnya hidup seperti tempurung buah gayam. Tapi kalau diolah, bisa menjadi makanan yang nikmat. Semangat Mbah Masilah....!!! [oel/yud]

Teks foto/Joel Joko: Masilah senang saat gayam rebusnya dilahap Bupati

Komentar Pembaca
    Nama Anda :
    Email :
    Komentar :
    Masukkan 6 kode keamanan diatas
    Video bB
    Senin, 13 Mei 2013 18:46:42 Rumah Potong Hewan Banjarsari Ludes Terbakar
    Kebakaran hebat melahap Rumah Pemotong Hewan (RPH) di Desa Banjarsari
    Redaksi
    Sabtu, 25 Mei 2013 16:30:55 Mbak Ana FKB DPRD Tuban Hibah Buku Mbak Ana FKB DPRD Tuban Hibah Buku
    Hibah Sejuta Buku dalam rangkaian Ultah blokBojonegoro Media ke 2 masih dibuka lebar. Bahkan, kali ini anggota FKB DPRD Tuban, Khozanah Hidayati jauh-jauh datang ke kantor redaksi bB.
    Suara Pembaca & Citizen Jurnalism
    Senin, 20 Mei 2013 13:30:55 Siswa MINU Walisongo Praktik Penjernihan Air Siswa MINU Walisongo Praktik Penjernihan Air
    Banyaknya ragam kemasan air mineral yang dijual di pasaran dengan berbagai merek dan bentuk belakangan memunculkan rasa keingintahuan anak-anak didik Madrasah Ibtidaiyah Nahdatul Ulama (MINU) unggulan Walisongo Sumberrejo.
    Info Tabloid bB
    Minggu, 12 Mei 2013 21:46:11 Tabloid bB Edisi Mei 2013
    Menjelang ulang tahun ke dua blokBojonegoro Media (blokBojonegoro.com dan Tabloid blokBojonegoro), awak redaksi bB Media, panggilan akrab oleh Blokers, menyuguhkan sesuatu yang menarik dan unik di balik gemerlap industri minyak dan gas bumi (Migas) di Kota Ledre. Dengan tema besar Investigasi, âKampung Kreatif yang Galauâ, diketengahkan prospek ekonomi kerakyatan yang sebenarnya pa ...