Reporter : Riska Irdiana
blokBojonegoro.com - Siang itu terik matahari kian menyengat kulit ari. Tampak sesosok pria setengah tua dengan pakaian taqwa berwarna biru, bermotif bordir di depannya. Pria yang diketahui bernama Sukimin (64) tersebut terlihat tengah sibuk membuat ketupat dengan daun kelapa (janur) ditangannya.
Matanya yang sayu mengisyaratkan letih yang tak tertahankan. Maklum dengan modal sepedah tua miliknya warga asal Desa Tanjungharjo, Kecamatan Kapas ini usai keliling menjual tempat ketupat hasil kretifitas tangan keriputnya.
Diketahui, bapak tiga anak ini memanfaatkan momen lebaran ketupat saat ini untuk menjual janur dan ia rangkai sendiri menjadi sebuat anyaman ketupat. Untuk sekadar berusaha mencari tambahan penghasilan agar dapur bisa tetap mengepul.
Saat ditanya terkait hasil usahanya, dengan nada lirih ia menjawab hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan harian istri dan anaknya. "Nggeh lumayan nduk (ya lumayan nak)," ujarnya sambil tangannya sibuk mengayam ketupat.
Semenjak empat hari lalu, sepedah onta yang terlihat usang dan karatan menemani dirinya menjajakan anyaman janur hasil produksinya.
Sesekali ketika lelah, ia pun beristirahat mangkal di barat pasar Tanjungharjo. Harga Tempat ketupat tersebut pun relatif murah, dipatok dengan harga 2.500 satu gombyo'an yang berisi sepuluh ketupat.
Meskipun begitu, terkadang penjual pun masih ada yang menawar, mencari keringanan sedikit harga darinya. "Ga' mesti, kadang yo enek sing ngenyang (ga mesti,kadang ya ada yang nawar) Rp 2.000," katanya.
Meskipun begitu,lebaran ketupat ini sangat ia syukuri, sebab dagangannya banyak dicari orang. Laki-laki renta itu mengaku jika sejak dirinya terjatuh dari pohon setinggi 15 meter, kini tubuhnya serasa tidak sekuat dahulu. Tak kuasa lagi bekerja berat.
"Awak'e ga mampu,ga kuat perjalannane niki (tubuhnya ga mampu,ga kuat perjalannya ini)" jelasnya.
Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, terpaksa istrinya bekerja sebagai buruh srabutan. "Rayatan kulo nggeh buroh tandur, sak renane (istri saya ya buruh tani, seadanya pekerjaan) ," imbuhnya.
Selain itu, ia juga menggarap lahan milik orang untuk tetap bisa melangsungkan hidup. "Nggarap sawahe tiang sugih-sugih niku ( menggarap sawah orang kaya-kaya itu)," terangnya. [ana/lis]
Teks foto/Riska Irdiana : Sukimin saat mangkal di barat pasar Desa Tanjungharjo






