Reporter: Riska Irdiana
blokBojonegoro.com - Baru beberapa waktu dibangun, atau belum genap 6 bulan, tanggul di Desa Sarangan, Kecamatan Kanor, Bojonegoro, retak dan bahkan ada yang telah longsor. Kondisi tersebut cukup mengkhawatirkan warga setempat.
Data yang dihimpun blokBojonegoro.com, Sabtu (14/1/2012) menyebutkan, tanggul dari tanah tepi bengawan itu terkena hantaman air sungai yang tepat di samping bengawan. Sehingga, tanggul yang hanya terbuat dari tanah, tanpa ada bronjong tersebut tidak kuat.
Panjang retakan mencapai kurang lebih 50 meter, dengan lebar tepi dengan badan tanggul sekitar 1 meter. Jika dibiarkan, maka kondisinya akan semakin parah, karena terkikis air bengawan.
Kepala Desa Sarangan, Abdus Salam menjelaskan, kalau retaknya tanggul tersebut baru beberapa waktu belakangan ini. Pihaknya telah melapor ke Bupati Bojonegoro dan ditembuskan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Bojonegoro.
"Memang belum mengkhawatirkan, tetapi ke depannya harus segera diperhatikan. Kalau tidak, maka akan berbahaya dan terus terkikis," jelas Salam.
Diterangkan, kalau panjang tanggul yang terkikis kurang lebih memang sekitar 50 meter. Sebab, aliran sungai yang langsung terhubung ke Bengawan Solo tersebut menghantam tanggul yang belum benar-benar kokoh.
Seperti diketahui, tanggul baru tersebut tanahnya diambilkan dari tanggul lama yang memanjang dari ujung utara desa hingga di bagian selatan. Panjang tanggul sekitar 1,9 kilometer dengan lebar sekitar 20 hingga 24 meter untuk di bagian tapak.
Warga di desa setempat masih cukup khawatir dengan banjir yang selama ini selalu menggenangi bantaran sekitar desa. Bahkan, pada banjir yang cukup besar di akhir tahun 2007 lalu, beberapa titik tanggul semi permanen yang hanya terbuat dari tanah tersebut porak poranda diterjang air. Ada yang jebol sampai 25 meter, 30 meter, bahkan ada yang hingga mencapai 50 meter. [ana/ad]






