Pemberdayaan Kandungan Lokal
Hak Tuan Rumah atau Belas Kasihan Investor?
Sabtu, 03 Maret 2012 22:00:54 Hak Tuan Rumah atau Belas Kasihan Investor?

Oleh: Deddy Afidick*

Akhir-akhir ini istilah "Konten Lokal" (istilah yang lebih tepat adalah Kandungan Lokal atau Local Content) menjadi akrab di telinga masyarakat Kabupaten Bojonegoro. Tulisan ini dimaksudkan untuk memastikan, bahwa semua pihak yang berkepentingan memiliki pengertian yang selaras tentang Kandungan Lokal --terutama pengertian diantara masyarakat Bojonegoro sebagai tuan rumah sebuah proyek migas andalan nasional dan para investor, operator migas serta perusahaan-perusahaan besar (yang pastinya berasal dari luar daerah, bahkan dari luar negeri) yang melakukan kegiatan operasi di wilayah Bojonegoro.

Tak kalah pentingnya, pengertian ini juga harus diselaraskan dengan "para wasit" --apakah itu Pemerintah atau Pejabat Pusat yang berkepentingan untuk mendongkrak tingkat produksi minyak bumi nasional secepatnya, ataupun pihak BPMIGAS yang merupakan badan pengawas industri hulu migas.

Ketidakselarasan dalam pengertian dan penerapan kebijakan kandungan lokal, seperti yang kita amati akhir-akhir ini, jelas telah menimbulkan hal-hal yang menghambat kelancaran proyek. Berlanjutnya ketidakselarasan ini tentunya berpotensi merugikan semua pihak. Tidak selarasnya harapan masyarakat tuan rumah dengan kenyataan --dengan manfaat yang (akan) diperoleh berdasarkan program kerja investor. Tidak selarasnya tujuan investor yang ingin menyelesaikan proyek sesegera mungkin dari sisi teknis dengan kepentingan masyarakat tuan rumah dari sisi sosial.

Ibarat adegan rally Paris-Dakkar, dimana fokus peserta adalah ngebut untuk segera mencapai garis finish, sedangkan masyarakat tuan rumah dipersilahkan menonton mobil-mobil yang lewat sekelebat di tengah-tengah debu yang ditimbulkan.  Bedanya, masyarakat Bojonegoro, sebagai tuan rumah proyek, sangat antusias untuk mendukung dan berpartisipasi aktif dalam proyek tersebut –-lebih dari sekadar menjadi penonton.

Apakah pemberdayaan sumber daya, tenaga kerja dan pengusaha lokal, atau optimalisasi Kandungan Lokal dapat terwujud hanya dengan mengibarkan slogan? Atau dengan mengundang pengusaha-pengusaha lokal mengikuti tender yang melebihi kaliber mereka (dan melihat mereka berguguran)? Atau dengan menggandengkan pengusaha lokal dengan pengusaha-pengusaha besar dari luar daerah?

Mungkin ketiga hal di atas memang merupakan hal-hal yang harus dilakukan, sebagai bagian dari upaya pemberdayaan sumber daya lokal dan optimalisasi kandungan lokal. Slogan, mencerminkan niat dan mengobar semangat. Peluang untuk ikut tender, walaupun diatas kaliber dan kemampuan, menimbulkan harapan.  Menggandeng atau digandeng pengusaha besar dari luar daerah memberi peluang alih kemampuan dan keterlibatan aktif di proyek ini. Kondisi tersebut yang sekarang ini tengah dilakukan beberapa rekanan lokal yang tengah aktif di proyek engineering, procurement and construction (EPC) 1 Banyuurip, Blok Cepu yang dioperatori Mobil Cepu Ltd. (MCL).

Apakah langkah di atas cukup? 

Mungkin ada yang menganggap cukup. Tapi yang jelas masyarakat tuan rumah akan menjawab tidak. Ada satu unsur penting yang harus menjadi perekat dari semua upaya optimalisasi kandungan lokal, yaitu “komunikasi transparan dan intensif” diantara para pemangku kepentingan. Dengan komunikasi yang transparan tentang apa yang dapat diberikan dan diperlukan oleh setiap pemangku kepentingan, atau tepatnya dengan komunikasi yang gencar dilakukan tanpa terikat hanya dengan jadwal rapat, mudah-mudahan dapat dicapai saling pengertian tentang harapan, kepentingan dan apa yang secara realistis dapat dilakukan oleh setiap pemangku kepentingan.

Dalam komunikasi transparan dan intensif tersebut, perlu dijawab satu pertanyaan penting: Pemberdayaan sumber daya lokal, hak masyarakat tuan rumah atau belas kasihan investor?  Kalau semua pemangku kepentingan sepakat, bahwa itu adalah hak masyarakat tuan rumah (mudah-mudahan), seyogianya jawaban tersebut diikuti dengan program-program yang bertujuan meningkatkan kemampuan dan daya saing sumber daya tuan rumah.  Program yang dirancang dengan sungguh-sungguh dengan tujuan-tujuan yang lebih sangat realistis.

Sejauh ini, kegiatan atau lebih tepatnya program yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan daya saing kandungan lokal masih cukup minim. Padahal, dengan transformasi alih kemampuan yang tepat sasaran, maka masyarakat di Kabupaten Bojonegoro akan lebih meningkat keahliannya di masing-masing sektor. Mulai masyarakat sekitar operasi migas, hingga pengusaha lokal.

Sampai hari ini, Bojonegoro masih termasuk salah satu kabupaten miskin di Jawa Timur. Kemiskinan tersebut secara umum tentunya merupakan cerminan dari kemampuan, kapasitas dan daya saing sumber daya lokal, baik itu tenaga kerja maupun pengusaha. Tanpa adanya program yang bertujuan untuk memberdayakan dan mengoptimalkan sumber daya lokal, untuk meningkatkan daya saing, masyarakat Bojonegoro akan berpotensi hanya menjadi penonton di tengah gegap gempitanya proyek migas andalan nasional. Ibarat adegan rally Paris-Dakkar, dimana masyarakat tuan rumah dipersilahkan menonton mobil-mobil yang lewat sekelebat ditengah-tengah debu yang ditimbulkan.

Agar mimpi buruk ini tidak menjadi kenyataan, harapan tertumpu pada segera terjadinya komunikasi transparan dan intensif diantara para pemangku kepentingan utama dalam proyek ini. Bojonegoro sebagai tuan rumah proyek (mungkin dapat diwakili oleh pihak eksekutif dan legislatif), BPMIGAS sebagai wakil Pemerintah Pusat dalam pengawasan industri hulu migas, dan operator blok-blok migas di Bojonegoro sebagai pelaksana proyek. Tertumpu pada kesepakatan para pemangku kepentingan bahwa pemberdayaan sumber daya lokal adalah hak masyarakat tuan rumah.

Ayooo Bojonegoro.....

*Direktur Utama PT Bangkit Bangun Sarana (BBS), BUMD Bojonegoro, sebelumnya bekerja selama 29 tahun di perusahaan-perusahaan minyak multinasional.

Komentar Pembaca
  • Minggu, 04 Maret 2012 08:11:27 Fnu Suntawe
  • Kesalahan pertama yang dilakukan oleh mereka adalah karena mereka tidak melakukan observasi secara efektif terhadap kondisi atau keadaan local masyarakat Bojonegoro.

Nama Anda :
Email :
Komentar :
Masukkan 6 kode keamanan diatas
Video bB
Rabu, 16 Maret 2016 06:28:41 Lezatnya Kuliner Kepiting Sawah
Berbicara tentang kepiting, yang muncul dipikiran Anda pasti hewan laut bercangkang keras dan banyak disajikan di warung-warung seafood tepi jalan. Namun apakah Anda pernah mencoba menu kuliner kepiting sawah atau biasa disebut yuyu?
Redaksi
Minggu, 15 Mei 2016 10:00:13 Gerakan Bojonegoro Menulis Gerakan Bojonegoro Menulis
Perkembangan ekonomi Kabupaten Bojonegoro cukup pesat. Hal itu tak lepas dari produksi minyak di Blok Cepu yang mencapai puncak 165.000 barel perhari (bph). Ladang Blok Cepu berada di wilayah selatan Bojonegoro. Industri migas itupun berdampak di bidang lain, mulai sosial, politik, pariwisata, dan pendidikan.
Suara Pembaca & Citizen Jurnalism
Sabtu, 28 Mei 2016 16:00:11 Lestarikan Budaya Islam, IPNU Kasiman Dukung Hadrah Rutinan Lestarikan Budaya Islam, IPNU Kasiman Dukung Hadrah Rutinan
Seni hadrah sudah dikenal sebagai salah satu bentuk kesenian yang menjadi bagian dalam melakukan penyebaran ajaran agama Islam. Seni inipun diketahui sudah digunakan oleh para ulama sejak jaman dahulu dalam berdakwah. Dengan melestarikan seni ini, diharapkan nilai dari ajaran Islam semakin dapat dirasakan-melalui pendekatan budaya-oleh seluruh masyarakat. Hal tersebut juga menjadi ihtiyar yang dilakukan oleh Pengurus Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PAC IPNU) Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro.
Info Tabloid bB
Jumat, 31 Juli 2015 13:16:10 Tabloid bB Edisi Juli 2015
Untuk Edisi Juli 2015, redaksi Tabloid blokBojonegoro ingin menyajikan beberapa hal yang baru, terutama di halaman Investigasi. Dengan tema besar “Awasi Air Saat Musim Kering” dikupas secara mendalam mengenai kekeringan yang melanda hampir sebagian wilayah Kabupaten Bojonegoro, terutama yang berada jauh dari aliran sungai bengawan solo. Waduk pacal yang menjadi primadona, sekarang ini ...