Reporter: Athok Moch Nur Rozaqy
blokBojonegoro.com - Lantunan ayat suci terdengar serempak dari sekelompok anak yang sedang membaca Alquran. Sesekali tampak pula seorang pria yang sedang membimbingnya. Ayat demi ayat ia jelaskan, baik dari intonasi membaca, maupun makna di balik ayat tersebut.
Siapakah pria itu? Ia adalah Fathur Rohman, salah satu warga Dusun Sawen, Desa Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro. Sehari-hari ia hanya bekerja sebagai petani biasa. Namun siapa sangka, di balik rutinitasnya yang cukup melelahkan itu, pria tersebut masih menyempatkan diri mengajar ngaji kepada para santrinya.
Kebanyakan para santri yang diasuhnya itu adalah anak-anak dari warga sekitar. “Yang ngaji di sini semua anak Sawen, Mas,” ungkap pria yang akrab dipanggil Pak Kiai ini.
Selain bertani, Fathur Rahman juga memelihara seekor sapi sebagai tambahan penghasilan. Ia pun mengakui jika pekerjaan yang digelutinya memang amat melelahkan. Meski demikian, Pak Kiai juga tidak ingin menelantarkan para santrinya yang tengah bersemangat belajar mengaji. Sebab, di zaman sekarang cukup sulit ditemui santri yang haus akan ilmu agama.
”Saya rasa semua orang tahu, pekerjaan tani itu seperti apa. Tapi bagaimanapun saya harus menyempatkan menularkan ilmu agama ke mereka. Saya senang dengan semangat anak-anak,” kata pria yang juga dianggap sebagai salah satu tokoh agama oleh warga sekitar.
Ada sekitar 64 santri yang ia bimbing. Mereka belajar setelah bersekolah pada pagi hari. Waktu mengaji dibagi menjadi dua kelas. Kelas pertama adalah pelajaran iqra yang dimulai dari pukul 12.00 hingga 13.30 WIB. Kemudian dilanjutkan kelas kedua dengan pelajaran bacaan Alquran hingga pukul 15.30 WIB.
Yang mengesankan, Pak Kiai tak sekalipun pernah memungut iuran. Hanya saja, terkadang ia mendapat bantuan ala kadarnya dari beberapa orang tua santri. Itu pun ia pergunakan untuk kebutuhan proses pembelajaran. “Kalau pun ada orang tua santri yang memberi uang, saya gunakan untuk keperluan belajar seperti membeli kapur,” ujar bapak dua anak ini.
Ia memang tak banyak berharap penuh terkait masalah materi, meski ingar bingar industri Migas konon menjanjikan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. Bagi Fathur, yang terpenting santri yang dibimbingnya mampu menghadapi tantangan zaman dengan bermodalkan ilmu agama. [roz/yud]
Teks foto/Athok Moch Nur Rozaqy: Fathur Rahman






