Reporter: Joel Joko
blokBojonegoro.com - Panas terik kian menyengat saat kaki menapaki bumi Migas Blok Cepu di Desa Mojodelik, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro. Sederetan rumah-rumah model joglo kuno mengelompok menyapa perjalanan sejumlah kuli tinta. Di balik pintu kayu berdinding pelepah jati, keluar sosok Supini (70), ibu rumah tangga yang kesehariannya bekerja sebagai buruh tani.
Senyum ramah Supini tak hentinya mempersilahkan masuk awak media ke rumahnya yang berdebu. Ditambah lagi aroma khas peternakan karena berdekatan langsung dengan kandang sapi di belakang rumah. Rumah Supini kerap tertutup agar tak banyak debu bertamu. Lantai tanah dengan perabotan minimalis semakin memperjelas tak selamanya warga di sekitar Migas sudah lebih baik kehidupannya. "Seperti inilah hari-hari kami disini yang hanya punya secuil tanah dan nyawa," ungkap Supini memelas.
Sebagai buruh tani setiap hari ini ia dan suaminya pergi mengerjakan sawah orang lain. Anak-anak mereka sudah jauh merantau meninggalkan keduanya dalam keterbatasan. Musim tanam kali ini menjadi hari-hari yang berat seiring musim panas mulai tiba. Tak hanya di sawah, kondisi di rumah juga membutuhkan air sebagai sumber kehidupan.
Namun, ada yang menarik di dalam rumah Supini. Di lantai tanah dekat dinding kayu terlihat pompa penyedot air berukuran kecil. Satu pipa yang tersambung dengan pompa itu ditanam di tanah, dan satu pipa lainnya menjalar berakhir di bilik sederhana yang dipakai sebagai kamar mandi.
Begitulah cara warga mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-harinya. Sudah dua tahun terakhir ini warga memakai pompa untuk menyedot air di perut bumi. Warga mulai bangkit dan mencari inspirasi agar bisa memenuhi kebutuhan air. “Mencari air bersih sulit saat musim kemarau. Makanya, kami pakai pompa penyedot air,” ucap Supini.
Untuk mendapatkan air, pipa ditancapkan ke perut bumi hingga kedalaman sekitar sepuluh meter. Air lalu disedot dan ditampung di bak atau jeriken. Persediaan air itulah yang dipakai untuk kebutuhan minum, menanak nasi, memberi minum ternak, dan mandi cuci.
Bukan hanya Supini saja yang memasang pompa penyedot air itu. Ratusan rumah di Dukuh Mojodelik, Keket, Dawung, dan Rambitan juga memakai pompa penyedot air untuk mendapatkan air bersih.
Pada musim kemarau, warga yang tinggal di daerah tadah hujan selalu dibayang-bayangi kesulitan mendapatkan air bersih. Kepala Dukuh Sogo, Suyono mengungkapkan, saat musim kemarau warga juga selalu dibayangi paceklik.
Sebab, sawah tadah hujan selalu gersang dan kerontang saat musim kemarau lantaran tidak mendapatkan pengairan. Letak Dukuh Sogo misalnya di daerah tandus perbukitan yang dikelilingi hutan jati yang gundul. Sebetulnya ada sebuah sungai di bawah perbukitan itu tetapi sulit untuk mengambil dan mengalirkan ke persawahan atau perkampungan penduduk.
Saat musim kemarau, warga Dukuh Sogo biasanya menanam tanaman palawija seperti jagung, kacang tanah, kedelai, singkong, dan kacang hijau. Sebetulnya daerah itu diberkahi dengan kandungan minyak mentah yang melimpah di perut buminya, namun warga kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan minum dan pengairan sawah. [oel/lis]
Teks foto/Joel Joko:Dari pompa penyedot air inilah, Supini memenuhi kebutuhan sehari-hari






