Reporter: Joel Joko
blokBojonegoro.com - Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, Suismoyo membantah jika sejumlah situs dan benda purbakala tidak terurus. Justru sekarang ini instansinya tengah melakukan pendataan lebih detail. Hanya persoalannya, minimnya anggaran sehingga tidak seluruhnya benda-benda purbakala itu, dirawat dengan baik. "Terus terang, kami terkendala biaya,”ujarnya.
Dia mencontohkan, di areal Kahyangan Api, Kecamatan Ngasem sudah dua kali dilakukan penelitian dari arkeolog Universitas Indonesia. Dan diproyeksikan akan ada penelitian lanjutan. Selain itu, juga perawatan untuk stalagtit dan stalagmit di Goa Gondel Desa Soko, Kecamatan Temayang, juga akan dilakukan perawatan.
Sebelumnya, pengamat benda purbakala Bojonegoro Hary Nugroho menyebutkan, sejumlah situs bersejarah yang tersebar di sejumlah tempat di Kabupaten Bojonegoro rusak dan tidak terurus. Ironisnya lagi, sejumlah situs berumur ratusan tahun diduga dijual ke luar Bojonegoro oleh oknum dengan harga tinggi.
Situs bersejarah tersebut, tersebar di Kecamatan Dander, Ngraho, Tambakrejo, Purwosari, Kasiman, Temayang, Malo, Trucuk dan Kedewan. Sejumlah pegiat benda purbakala di Bojonegoro menyebutkan, kerusakan benda peninggalan purbakala dan areal situs sudah parah. Namun, belum ada tindakan riil dari Pemerintah Bojonegoro untuk menyelamatan benda bernilai historis tinggi tersebut. “Saya sangat prihatin dengan lenyapnya benda-benda bernilai tinggi dari Bojonegoro,” tegas Hary Nugroho. [oel/lis]






