Reporter: Joel Joko
blokBojonegoro.com - Diabetes mellitus (DM) yang dikenal awam sebagai kencing manis, adalah kelainan metabolik. Indikasinya kadar glukosa darah meningkat (hiperglikemia).
Penderita DM mudah haus, mudah lapar, sering makan, dan sering buang air kecil. Diabetes mellitus merupakan salah satu faktor utama penyebab kematian, dan penurunan kualitas hidup yang pada akhirnya memengaruhi status ekonomi seseorang di seluruh dunia.
Dokter Spesialis Mata, Agung Pambudi mengatakan, diabetes mellitus dibagi menjadi dua, yakni tipe I yang umumnya terjadi pada usia kurang dari 40 tahun, sedangkan tipe II pada usia 40 tahun atau lebih.
Pada DM tipe I gejalanya jelas dan penderita tampak sakit sehingga segera memeriksakan diri dan penyakit cepat diketahui, tetapi pada tipe II gejala tidak jelas yang menyebabkan penderita tidak menyadari bahwa sebenarnya ia mengidap DM.
Keadaan ini menyebabkan penderita memeriksakan diri dalam keadaan terlambat dan telah terjadi komplikasi pada organ tubuh. Komplikasi terjadi pada berbagai organ tubuh terutama mata, jantung, dan ginjal.
Komplikasi DM pada mata dapat berupa kelainan anatomis hingga kelainan fungsi, diantaranya gangguan refraksi, kekeruhan lensa (katarak), glaukoma dan kelainan pada retina (retinopati diabetika).
Dapat pula terjadi gangguan persarafan kelenjar air mata dan otot penggerak mata yang akan menyebabkan gangguan produksi air mata dan gerakan mata.
"Diabetes mellitus menyebabkan terjadi peningkatan kadar glukosa lensa mata. Kadar glukosa yang berlebih pada lensa menyebabkan daya serap terhadap cairan sekitar meningkat, sehingga bentuk lensa menjadi lebih cembung dan terjadi miopisasi," ungkapnya.
Pada miopisasi, mata yang semula tak berkacamata menjadi berukuran minus, yang semula berukuran plus menyebabkan ukuran berkurang.
Sebaliknya bila kadar gula terlalu rendah maka lensa akan menjadi lebih pipih karena cairan dalam lensa keluar dan menyebabkan hipermetropisasi.
Pada hipermetropisasi mata yang semula tidak berkacamata plus akan membutuhkan kacamata berukuran plus agar menjadi lebih jelas atau pada yang semula berkacamata minus akan berkurang minusnya.
Selain terjadi miopisasi atau hipermetropisasi mata dapat mengalami rabun dekat sebelum waktunya. Pada orang normal memerlukan kacamata baca pada usia 40 tahun.
Sedangkan pada penderita akan kesulitan membaca atau melihat dekat meski usia belum mencapai 40 tahun.
Bila ada penderita berusia kurang dari 40 tahun telah memerlukan kaca mata baca, maka sebaiknya dilakukan pemeriksaan kadar gula lebih dulu sebelum memberikan resep kaca mata. Keadaan ini bersifat sementara dan berubah-ubah seiring perubahan kadar glukosa, sehingga penderita akan sering merasa kabur dan berganti ukuran kacamata.
Sedangkan glaukoma adalah penyakit mata yang ditandai dengan kelainan saraf penglihatan yang diakibatkan meningkatnya tekanan dalam bola mata.
Di dalam bola mata terdapat cairan mata yang bening yang disebut sebagai akuos humor. Pada keadaan normal akuos humor (humor aqueous) ini diproduksi dan dikeluarkan secara periodik.
Agung menyarankan agar penderita diabetes rajin memeriksakan diri dan menjaga pola makan. Dengan demikian bisa diketahui kadar gula dan indikasi penyakit lain. Karena penyakit gula rentan menimbulkan penyakit lain.[oel/lis]
Ilustrasi: .net






