Esai Minggu: Buku dan Dunia yang Diburu
Minggu, 17 Februari 2013 06:00:34

Oleh Nanang Fahrudin

Maaf. Sekali lagi saya hendak berbincang tentang buku. Tentu, ini masih ada kaitannya dengan tiga buku yang diluncukan GusRis Foundation pada Sabtu (16/2/2013) kemarin.  Tiga buku karya penulis asli Bojonegoro. Tapi saya bukan hendak mengampanyekan tiga buku tersebut. Bukan. Melainkan sekadar hendak berbincang sebentar, tentang betapa “cantik” nya sebuah buku.

Seseorang memiliki setumpuk alasan, kenapa menyukai sebuah buku. Saya pernah mencoba survei kecil-kecilan. Hasilnya, ada yang menyukai buku karena isinya bagus, ada yang menyukai buku karena gambar sampulnya  menarik, dan ada pula menyukai buku yang disukai oleh temannya. Selain tiga alasan itu,  masih ada setumpuk alasan lain kenapa seseorang menyukai buku. Saya tidak tahu persis, bagaimana dengan anda.

Pun juga ada seabrek alasan kenapa seseorang menulis sebuah buku, membeli buku, memburu buku, mengoleksi buku, membuang buku, memberikan buku kepada orang lain, membincangkan buku, mengutuki buku, menyanjung buku, membakar buku dan me me me lainnya. Buku pada akhirnya bukan sekadar setumpuk kertas berisi tulisan. Karena buku memiliki “jiwa” yang meneguhkan ke “ada” annya di dunia ini.

Kalau anda memandang buku sebagai sesuatu yang “hidup”, maka anda akan bisa selalu berbincang dengannya, kapan saja. Buku tak lagi melekat pada penulisnya. Ia sudah melepaskan diri dari sang penulis, ketika ia sudah hadir menjadi sebuah tulisan. Dan tulisan itu akan ikut menentukan arah kebudayaan, dalam porsi besar ataupun kecil.

Pramoedya Ananta Toer menulis buku-bukunya dalam keterbatasan. Fasilitas terbatas, kebebasan terbatas, bahan terbatas. Buku Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca ditulis dengan sebuah keterbatasan yang dimiliki Pram ketika diasingkan di Pulau Buru. Pram harus menyembunyikan tulisan-tulisannya hingga pada akhirnya tulisan menjadi sebuah buku.

Saya pernah berbincang dengan Oie Hiem Hwie. Usianya tak muda lagi, sekitar 70 tahun. Dia pernah satu unit bersama Pram di Pulau Buru. Pram selalu meminta tolong kepadanya untuk mengumpulkan informasi sebagai  bahan cerita yang akan ditulis Pram. Sebut saja buku Arok Dedes. Sebelum menulis Arok Dedes, menurut cerita Pak Hiem, Pram memintanya menemui seorang profesor (sesama tawanan politik) untuk mendapatkan cerita tentang Ken Arok dan Ken Dedes. Cerita itu lalu diceritakan kembali kepada Pram.

Pak Hiem juga menyelamatkan naskah Bumi Manusia yang ditulis tangan oleh Pram. Sampai sekarang, tulisan tangan Pram itu masih tersimpan di rumah Pak Hiem di Surabaya. Setelah keluar dari Pulau Buru, Pram pernah meminta tulisan tangan itu, tapi oleh Pram tulisan tangan itu difoto copy, dan aslinya tetap diberikan kepada Pak Hiem, yang tersimpan rapi di rumahnya yang menjadi perpustakaan. Dan puluhan tahun kemudian, buku itu diburu banyak orang.

Cerita Pram berbeda dengan cerita Iwan Simatupang. Iwan adalah penulis yang sezaman dengan Pram. Iwan hidup tidak lama, pada usia 42 meninggal dunia. Iwan menulis buku-bukunya setelah blusukan di kampung-kampung, menangis melihat petani yang berkeringat, geram melihat politisi-politisi yang suka bersolek. Buku-buku novel karya Iwan tidak banyak, tapi selalu mendapat penghargaan. Ada satu buku yang ketika diterbitkan, Iwan sudah tak melihatnya yakni buku berjudul Kooong. Buku itu terbit tahun 1975, setelah 5 tahun Iwan tutup usia (1970).

Ceritanya, pada tahun 1968 IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) mengadakan sayembara mengarang novel. Salah satu syaratnya, penulis harus menggunakan nama samaran. Lalu ada salah satu karya yang diikutkan berjudul Kooong karya Kebo Kenanga.  Novel itu gagal mendapatkan juara, dan tidak diperhitungkan oleh juri. Lalu tahun 1973 ketika Ajip Rosidi diangkat menjadi ketua IKAPI, ia diwarisi naskah-naskah yang kalah dalam sayembara, tapi layak diterbitkan. Dan bertemulah Ajip dengan naskah Kooong. Setelah ditelisik siapa Kebo Kenanga, maka diketahui bahwa Kebo Kenanga adalah Iwan Simatupang. Lalu buku itupun diterbitkan oleh Pustaka Jaya. (Dami N. Toda, 1984).

Ya, buku selalu memiliki kisah. Buku selalu punya lika-liku cerita. Buku selalu mempunyai kehebatan masing-masing, sekaligus kekurangannya. Buku hadir untuk pembacanya. Dan buku akan menemukan dunianya.

Buku juga akan menjadi sesuatu yang sangat dibenci. Sebut saja buku Kebenaran yang Hilang karya Farag Fouda, seorang pemikir muslin asal Mesir. Karena bukunya tersebut, ia dibunuh oleh dua orang fundamentalis karena kritik-kritiknya yang pedas pada dunia politik Islam, terutama sistem khalifah. Bukunya juga sempat dilarang terbit.

Saya setuju bahwa buku punya dunianya. Dunia yang diburu, dibenci, disanjung dan seterusnya. Tak terkecuali buku-buku terbitan GusRis Foundation yang sekarang sudah 10 judul buku. Buku-buku itu pasti akan menemukan dunia sendiri, dunia pembaca. Dan keberadaannya akan mewarnai Boonegoro ke depan. Salam!

Penulis adalah reporter blokBojonegoro.com dan Koordinator GusRis Foundation

Komentar Pembaca
    Nama Anda :
    Email :
    Komentar :
    Masukkan 6 kode keamanan diatas
    Video bB
    Jumat, 22 Agustus 2014 14:29:32 50 Aggota DPRD Bojonegoro Dilantik
    Sebanyak 50 anggota DPRD yang terpilih dalam Pemilu Legislatif 9 April lalu akan dilantik dan diambil sumpahnya oleh Ketua Pengadilan Negeri Bojonegoro, Eko Supriyono di Ruang Paripurna DPRD.
    Redaksi
    Jumat, 07 November 2014 21:00:35 Reporter bB Juara 1 Lomba Jurnalis SKK Migas Reporter bB Juara 1 Lomba Jurnalis SKK Migas
    Lomba Karya Jurnalistik SKK Migas Jabamanusasi disabet reporter blokBojonegoro.com. Muhammad A. Qohhar yang memperoleh juara 1.
    Suara Pembaca & Citizen Jurnalism
    Sabtu, 15 November 2014 13:00:00 PKBM Handayani Intensifkan Pendidikan Ketrampilan Peserta KF PKBM Handayani Intensifkan Pendidikan Ketrampilan Peserta KF
    Tak kurang dari 50 orang peserta Keaksaraan Fungsional (KF) Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Handayani, Baureno mengikuti pelatihan kerajinan tangan berbahan dasar kulit jagung atau kelobot di Desa Kadungrejo, Baureno, Sabtu (15/11). Pelatihan tersebut merupakan program lanjutan dari keaksaraan dasar yang telah selesai dilaksanakan sebelumnya.
    Info Tabloid bB
    Selasa, 01 Juli 2014 09:51:00 Tabloid bB Edisi Juli 2014
    Pada Juli 2014 atau bertepatan bulan dimana koperasi berdiri, awak redaksi Tabloid blokBojonegoro ingin mengupas bagaimana koperasi menjadi penggerak ekonomi kerakyatan. Itu sesuai dengan prinsip yang ditanamkan sejak mulai digulirkan. Melalui tema besar di rubrik Investigasi “Koperasi atau Koper Isi” ingin digambarkan secara utuh bagaimana masyarakat disatu sisi terbantu dengan keber ...