Permainan Lokal yang Tergerus Zaman-4
Congklak, Permainan Murah yang Mendidik
Sabtu, 20 Juli 2013 09:00:00 Congklak, Permainan Murah yang Mendidik

Reporter: Riska Irdiana

blokBojonegoro.com - Masih ingatkah dengan berbagai dolanan (permainan) tradisional yang dulu seringkali dimainkan bocah? Kini permainan seperti betengan, congklak, dan permainan lain sudah jarang diminati. Padahal, permainan itu memiliki nilai edukasi tinggi.

Permainan tradisional memiliki banyak manfaat bagi anak-anak. Selain tidak mengeluarkan banyak biaya, permainan tradisional juga dinilai baik untuk melatih fisik dan mental anak. Secara tidak langsung, anak-anak dirangsang kreativitas, ketangkasan, jiwa kepemimpinan, kecerdasan, dan keluasan wawasannya melalui permainan tradisional.

Salah satu permainan yang mampu membentuk motorik anak adalah permainan congklak. Motorik halus lebih digunakan dalam permainan ini. Pada permainan ini pemain dituntut untuk memegang biji secara utuh sembari meletakkannya satu-satu di kotakkannya dengan satu tangan.

Permainan congklak atau biasa disebut dengan dakon adalah suatu permainan tradisional yang dikenal dengan berbagai macam nama di seluruh Indonesia. Biasanya dalam permainan, sejenis cangkang kerang digunakan sebagai biji congklak dan jika tidak ada, kadangkala digunakan juga biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan dan batu-batu kecil. Kini, biji-bijian digantikan dengan biji plastik buatan pabrik.

Congklak dimainkan oleh dua orang. Dalam permainan mereka menggunakan papan yang dinamakan papan congklak dan 98 (14 x 7) buah biji yang dinamakan biji congklak atau buah congklak. Umumnya papan congklak terbuat dari kayu atau plastik. Pada papan congklak terdapat 16 buah lobang yang terdiri atas 14 lobang kecil yang saling berhadapan dan 2 lobang besar di kedua sisinya. Setiap 7 lobang kecil di sisi pemain dan lobang besar di sisi kananya dianggap sebagai milik sang pemain.

Permainan dianggap selesai bila sudah tidak ada biji lagi yang dapat dimabil (seluruh biji ada di lobang besar kedua pemain). Pemenangnya adalah yang mendapatkan biji terbanyak.

Permainan ini masih bisa ditemui di daerah pedesaan. Meski sudah sangat jarang. Seperti yang dilakukan anak-anak di Desa Kenep Kecamatan Balen Bojonegoro. Dua anak perempuan tampak duduk berhadapan dengan beberapa batu kerikil di depannya. Ternyata mereka sedang asyik bermain dakon. "Biasanya sering main boneka, tapi pengen nyoba obak (main) dakon,” kata salah satu anak, Silva. [ana/ang]

Ilustrasi foto: net

Komentar Pembaca
    Nama Anda :
    Email :
    Komentar :
    Masukkan 6 kode keamanan diatas
    Video bB
    Kamis, 24 Juli 2014 04:01:21 Festival Oklik di Bojonegoro
    Berbagai tampilan unik disajikan peserta Festival Oklik di Kabupaten Bojonegoro. Tampak pejuang Hamas membawa kentongan dan berdoa untuk warga jalur Gaza.
    Redaksi
    Kamis, 26 Juni 2014 17:00:27 Open Office Tandai Syukuran Ultah bB Media Ketiga Open Office Tandai Syukuran Ultah bB Media Ketiga
    Hari ini, Kamis (26/6/2014), blokBojonegoro Media (www.blokBojonegoro.com dan Tabloid blokBojonegoro) tepat berusia tiga tahun.
    Suara Pembaca & Citizen Jurnalism
    Minggu, 27 Juli 2014 23:30:13 Malam Takbiran, Remaja Langgar Nyate Bareng Malam Takbiran, Remaja Langgar Nyate Bareng
    Ada banyak cara yang dilakukan untuk merayakan hari raya Idul Fitri. Salah satunya seperti yang dilakukan warga di Dukuh Sanggrahan, Desa Sekaran, Kecamatan Balen. Para remaja langgar Al-Azhar mengadakan acara bakar sate (nyate) bersama di malam takbiran.
    Info Tabloid bB
    Kamis, 05 Juni 2014 10:06:41 Edisi Migas di Juni 2014
    Jelang masa produksi puncak minyak dan gas bumi (Migas) Blok Cepu, ternyata masih menyisakan sejumlah polemik mengenai pembebasan lahan. Dengan tema rubrik Investigasi "Sengketa Lahan Migas" redaksi Tabloid blokBojonegoro ingin mengetengahkan liputan ekslusif mengenai perjalanan proses pembebasan lahan. ...