Selamat Tahun Baru, Bojonegoro!
Minggu, 01 Januari 2017 20:00:56 Selamat Tahun Baru, Bojonegoro!

Oleh: Nanang Fahrudin

Mari mengucap selamat kepada Bojonegoro. Untuk apa? Tentu untuk prestasinya selama ini.  Betapa hebatnya daerah super kaya penghasil minyak ini. Besaran APBD nya berada di urutan ke-2 setelah Kota Surabaya. Dengan kantong tebal, tentu (idealnya) kesejahteraan masyarakat juga terkerek naik.

Pada tahun 2015 (data keluar tahun 2016) Bojonegoro berhasil naik kelas dalam hal urusan kemisikan. Sekarang, Bojonegoro menempati urutan ke-8 sebagai daerah termiskin se Jawa Timur. Bandingkan dengan posisi tahun 2009 lalu, Bojonegoro berada di urutan daerah termiskin nomor 5 se-Jawa Timur.  Pada tahun itu, Kecamatan Ngasem dan Kecamatan Kalitidu adalah kecamatan paling miskin. Padahal dua kecamatan itu adalah lokasi dimana minyak dikuras dari buminya.  Tahun 2009 jumlah rumah tangga miskin (RTM) di Bojonegoro sebanyak 128.981 RTM.

Di Kecamatan Kalitidu terdapat 6.064 keluarga miskin, yang 1.320 di antaranya masuk kategori sangat miskin. Sedang di Kecamatan Ngasem, di mana lapangan Banyuurip berada masih terdapat 1.376 keluarga sangat miskin, 4.342 keluarga miskin, dan 4.447 keluarga hampir miskin. Pada waktu itu, dana APBD tak sebesar sekarang. Jadi mohon maklumi saja jika menjadi daerah termiskin nomor 5 se-Jawa Timur.

Dan sekarang? Setelah tujuh tahun berkembang. Dana minyak naik sangat pesat. Pembangunan digenjot, fisik maupun non fisik (katanya). Gedung pemkab menjulang tinggi yang atapnya bisa asyik untuk berselfie. Batu besar diangkut dari pelosok desa menuju ke alun-alun sebagai bukti apapun bisa dilakukan pemkab. Hotel dan resto bermunculan, seperti jamur di musim hujan. Sungguh perkembangan pesat.

Dana APBD terus meningkat. Pada tahun 2015 besaran APBD mencapai Rp 2,9 triliun dan kemudian naik drastis pada tahun 2016 menjadi Rp 3,7 trilun. Besaran APBD ini hanya berada di bawah APBD Kota Surabaya, pusatnya Jawa Timur. Artinya, Bojonegoro memiliki dana besar nomor dua setelah Kota Surabaya. Lebih besar dari APBD Sidoarjo, Jember, ataupun Malang.

Tapi, dengan kantong tebal yang dipunyai, kenapa Bojonegoro tidak mampu melesat menjadi negara kaya dan mengurangi angka kemiskinannya? Kenapa masih berada di urutan ke-8 dari 38 kabupaten/kota se Jawa Timur? Apakah dana minyak yang begitu besar tak punya dampak besar pula untuk kemakmuran rakyat? Mungkinkah Bojonegoro bisa sehebat Surabaya yang sama-sama memiliki kantong tebal?

Duh, itulah masalahnya sekarang. Sebagai daerah terkaya kedua, Bojonegoro masih berada di 10 besar daerah miskin di Jawa Timur. Tapi pada saat yang sama, Bojonegoro mempunyai prestasi berskala internasional. Sebut saja status sebagai daerah percontohan dunia terkait Open Government Partnership (OGP).

Bupati Suyoto sangat bangga dengan prestasi ini. Bojonegoro bersama 15 kota-kota ternama di dunia mewakili daerah dalam urusan Pemerintahan Terbuka. Kota lain diantaranya Seoul, Korea Selatan dan Kota Tibilis mewakili Georgia. Dari kota-kota di Eropa, ada Paris, Madrid, Buenos Aires, Sao Paulo, dan sejumlah kota lain. Wow!

Kalau sudah begini, lalu bagaimana? Apakah anda  memilih menyukai Bojonegoro karena sejajar dengan kota-kota besar lain di dunia? Atau merasa prihatin dengan posisinya berada di 10 besar daerah miskin di Jawa Timur, tapi daerah terkaya nomor 2? Entahlah. Saya jadi bingung dibuatnya.

Mungkin lebih baik kita membaca fakta tersebut dengan kacamata sederhana. Begini. Subyek pemerintahan terbuka adalah pemkab, sedang subyek kemiskinan adalah rakyat. Maka, bisa jadi ada keterputusan standar dari dua subyek tersebut. Keduanya memiliki standar yang saling terputus. Pemerintahan terbuka ya pokoknya terbuka, tidak ada kaitannya dengan miskin atau tidaknya rakyat. Sebaliknya, kemiskinan rakyat tidak ada sangkut pautnya dengan keterbukaan atau ketertutupan pemerintah daerah.

Keterputusan-keterputusan itu sudah jamak terjadi. Dana pembangunan besar ya pokonya besar. Perkara itu mensejahterakan warga atau tidak itu bukan tujuan pembangunan. Pos-pos anggaran besar ya intinya besar, dana bisa terserap habis dan dibelanjakan dengan “benar”, tidak diselewengkan. Perkara anggaran besar itu tepat sasaran untuk kesejahteraan atau tidak, itu persoalan lain.

Tapi, apapun kondisi Bojonegoro saat ini, kita tetap perlu memberi ucapan selamat. Setidaknya Bojonegoro tidak menjadi daerah termiskin nomor satu. Jika anda tetap bertanya: kan ada minyak? Duh, apa jawabannya ya. Selamat tahun batu, eh tahun baru ding!
 

Komentar Pembaca
    Nama Anda :
    Email :
    Komentar :
    Masukkan 6 kode keamanan diatas
    Video bB
    Jumat, 10 Juni 2016 17:02:22 Ayo Ikut BPJS Kesehatan
    Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) BPJS Kesehatan meliputi : a. Pelayanan kesehatan tingkat pertama, yaitu pelayanan kesehatan non spesialistik mencakup: 1. Administrasi pelayanan 2. Pelayanan promotif dan preventif 3. Pemeriksaan, pengobatan dan konsultasi medis 4. Tindakan medis non spesialistik, baik operatif maupun non operatif 5. Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai 6. Transfusi darah sesuai kebutuhan medis 7. Pemeriksaan penunjang diagnosis laboratorium tingkat pertama 8. Rawat inap tingkat pertama sesuai indikasi
    Redaksi
    Sabtu, 17 Desember 2016 21:00:14 blokMedia Group Dominasi Lomba Tingkat Jatim GM bB dan bT: Terima Kasih Blokers yang Sudah Setia GM bB dan bT: Terima Kasih Blokers yang Sudah Setia
    Lomba karya tulis jurnalistik dan fotografi tahun 2016 se Jawa Timur, menyisakan hasil manis bagi blokMedia Group (blokBojonegoro.com dan blokTuban.com). Sebab, dari enam juara dan enam nominasi harapan, reporter bB dan bT, sapaan akrab dua media online terkemuka di eks karesidenan Bojonegoro, berhasil meraih tiga hadiah.
    Suara Pembaca & Citizen Jurnalism
    Jumat, 13 Januari 2017 08:00:33 Doa Kebangsaan Dalam Haul Manakib Ansor Gayam Doa Kebangsaan Dalam Haul Manakib Ansor Gayam
    Dalam rangka memperingati haul manakib Syech Abdul Qodir Al Jilani, pengurus Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Gayam mengadakan doa kebangsaan dan pembacaan manaqib di Masjid Ar - Rosyid, Desa Katur, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro.
    Info Tabloid bB
    Jumat, 31 Juli 2015 13:16:10 Tabloid bB Edisi Juli 2015
    Untuk Edisi Juli 2015, redaksi Tabloid blokBojonegoro ingin menyajikan beberapa hal yang baru, terutama di halaman Investigasi. Dengan tema besar “Awasi Air Saat Musim Kering” dikupas secara mendalam mengenai kekeringan yang melanda hampir sebagian wilayah Kabupaten Bojonegoro, terutama yang berada jauh dari aliran sungai bengawan solo. Waduk pacal yang menjadi primadona, sekarang ini ...