Reporter : Khoirul Muhsinin
blokBojonegoro - Suara serak Pardi masih sangat terasa. Banyak tetangga dan famili yang datang untuk menenangkan dari tangisan yang semakin pecah.
Dari enam korban asal Dusun Batang, Desa/Kecamatan Margomulyo, Bojonegoro, yang meninggal dunia, hanya rumah Budi Riyanto yang banyak orang.
Belasan tetangga yang merasa kasihan dengan kondisi Pardi, datang berduyun-duyun. Salah satunya dilakukan Rosmani (30). "Kasihan kang Pardi, dia yang menemukan jasad anaknya sendiri di bawah gundukan semen," katanya dengan mengusap air mata yang mulai meleleh.
Makanya sampai sekarang ini ia sangat shock. Ia selalu teringat anaknya tertimbun semen dengan kondisi berlumuran darah dan sudah tidak bernafas.
"Padahal Mas Budi ini, bukan anak kandungnya. Melainkan anak pungut dari adiknya, pasangan Warijan dan Sutini," jelas Rosman, panggilan akrabnya di masyarakat.
Berbeda dengan Wariyem (35), ibu yang sejak di rumah sakit Kabupaten Ngawi mendampingi jenazah Budi tampak tabah. Walaupun air matanya terkadang masih keluar, dengan nada memelas, ia selalu meminta kepada suaminya untuk tabah.
blokBojonegoro.com yang sempat berbincang-bincang dengan Wariyem disela-sela takziyah ke rumahnya mendengar secara langsung bagaimana kedekatan ayah angkat dengan anaknya.
"Budi itu anak pemberian dari adik ipar saya semenjak bayi. Oleh karena itu, kami sangat menyayanginya," sambungnya dengan sesenggukan.
Sehingga, saat ia ikut menjadi korban dalam kecelakaan Selasa (12/7/2011) malam, ia serasa kehilangan orang yang sangat dicinta. "Semoga saja ia tenang di sana," lanjutnya sambil tak kuasa menahan derasnya air mata. [nin/mad]
Teks Foto/Khoirul Muhsinin : Keluarga almarhum Budi Riyanto tampak sangat kehilangan hingga kini. Mereka tak henti-henti menitikan air mata.






