Nama Blok Cepu Dirubah?
Jumat, 24 Juni 2011 20:17:00 Nama Blok Cepu Dirubah?

Oleh: M Abdul Qohhar*

Belakangan ini masyarakat di Kabupaten Bojonegoro, khususnya dan Jawa Timur mulai disadarkan oleh pentingnya sebuah nama. Disaat banyak orang menyebut Mobil Cepu Limited (MCL) yang menjadi anak perusahaan ExxonMobil Indonesia, wilayah operasinya Blok Cepu, pemahaman tidak langsung tertuju pada Kabupaten Bojonegoro.

Tetapi, lebih pada nama Cepu, yang sebenarnya masih di wilayah Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Atau tepat di sebelah barat Kabupaten Bojonegoro. Kondisi tersebut sangat berbeda jauh dengan wilayah kerja MCL yang berada di Kecamatan Ngasem, sebagai tapak sumur Lapangan Banyuurip, maupun Kecamatan Kalitidu yang menjadi wilayah penyangga eksplorasi dan eksploitasi.

Kedua kecamatan tersebut jelas-jelas berada di Kabupaten Bojonegoro, bukan di Cepu, Jawa Tengah. Dari produksi yang sudah dilakukan saat ini sekitar 20.000 barel per hari, semuanya dihasilkan dari sumur-sumur yang berada di Lapangan Banyuurip dan tidak ada satupun yang bertempat di Cepu. Wilayah pengangga, mulai dari lapangan penunjang di Kedungkeris, Atas Tuwo Barat dan Alas Tuwo Timur, semuanya masih di lokasi Bojonegoro.

Lantas kenapa masih dinamakan Blok Cepu?
Penggunaan nama Cepu itulah yang belakangan ini dianggap oleh para pemangku kebijakan, baik di kalangan eksekutif dan legislatif, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), maupun Forum 15 Desa Sekitar Eksplorasi, kurang tepat dan tidak berpihak kepada Kota Ledre, sebutan lain Bojonegoro. Bahkan, dengan tegas mereka akan tetap memperjuangkan perubahan nama dari Blok Cepu menjadi Blok Bojonegoro hingga benar-benar terwujud.

Menyikapi tuntutan masyarakat yang semakin menguat, Bupati Bojonegoro Suyoto langsung merespons dengan mengirim surat usulan perubahan nama blok migas kepada pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) RI di Jakarta. (Beritajatim.com, 13 Maret 2011)

Dalam surat tersebut, Bupati Suyoto menjelaskan,  jika usulan tersebut didasari oleh adanya pertimbangan tentang area pertambangan migas Blok Cepu yang 90 % lebih berada di wilayah administrasi Pemkab Bojonegoro. Tidak hanya surat, dalam usulan tersebut juga disertakan peta dan potensi wilayah di Bojonegoro yang masuk area migas Blok Cepu. Mulai dari tempat tapak sumur di Lapangan Banyuurip, tiga lapangan penyangga, yakni Lapangan Kedungkeris, Lapangan Alas Tuwo Barat dan Alas Tuwo Timur, sampai jalur distribusi minyak.

Alasan lain yang dipakai juga cukup beralasan. Mulai dari perubahan nama yang bisa menghindarkan kesalahpahaman para pemangku kepentingan dan siapa saja yang berkepentingan dengan kegiatan ekslporasi-eskploitasi migas di blok tersebut, sampai dengan investor yang akan masuk ke lokasi tempat migas Blok Cepu. Jangan sampai ada salah alamat, jika masuk ke Blok Cepu bukan di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, melainkan di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Harapan lain yang diinginkan oleh Pemkab Bojonegoro dari perubahan nama tersebut, masyarakat di sekitar eksplorasi dan eksploitasi lebih merasa memiliki. Selama ini, yang tertanam dibenak masyarakat luas adalah operasi masih dibawah Cepu yang termasuk bagian Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Padahal, semua proses pengambilan minyak melalui sumur-sumur di Lapangan Banyuurip, Desa Mojodelik, Kecamatan Ngasem, hingga pengangkutan keluar berada di Bojonegoro.

Image Blok Migas

Nama Blok Cepu sudah ada sejak lama. Mulai saat dikuasai oleh Humpus, hingga berpindah tangan pengoperasiannya ke MCL. Termasuk ketika  Kontrak Kerjasama (KKS) Cepu ditandatangani 17 September 2005 dan melibatkan empat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), baik dari Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Kabupaten Blora dan BUMD Provinsi Jawa Tengah.

Karena masih dalam lingkup satu blok, maka Kabupaten Blora dan Provinsi Jawa Tengah yang diwakili oleh masing-masing BUMD tetap memiliki hak ikut menyertakan modal (Participating Interest/PI), walaupun jumlahnya masih kalah besar dibandingkan Kabupaten Bojonegoro.

Dengan begitu, sudah puluhan tahun nama Blok Cepu tersemat dan rasanya cukup sulit merubah sesuatu yang sudah menggurita. Selain itu, proses Memorandum of Understanding (MoU) yang dilakukan pemerintah dengan kontraktor, semuanya menggunakan nama Blok Cepu. Belum lagi perjanjian lain, termasuk projec pengembangan blok sampai dengan design Engineering, Procurement, and Construction (EPC) 1 sampai 5 yang saat ini tengah proses tender di BP-Migas.

Sulit atau tidaknya nama blok bisa dirubah, tetapi seiring dengan waktu, eksistensi Kabupaten Bojonegoro perlu dijunjung tinggi. Karena, dengan bisa dirubahnya nama wilayah penghasil menjadi simbol blok, akan menambah rasa percaya diri bagi masyarakat setempat.

Juga, penghargaan kepada penerima dampak pertama kali, jika terdapat kesalahan pengeboran maupun proses di wilayah operasi. Sejauh ini ada 15 desa di Kecamatan Ngasem dan Kalitidu yang ikut getol memperjuangkan perubahan blok tersebut. Sebab, 15 desa tersebut termasuk berada di garis terdepan operasi Blok Cepu.

Selama ini image operasi migas yang diperkirakan pada produksi puncaknya bisa mencapai 165.000 barel per hari itu telah menguntungkan Kabupaten Blora, melalui perwakilan Cepu. Padahal, Cepu merupakan nama sebuah kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bojonegoro yang juga terkenal dengan Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Migas tersebut.

Saat orang mencari nama migas yang dioperatori oleh MCL, pasti akan menyebut nama Cepu, bukan Kabupaten Bojonegoro. Dampaknya cukup terasa, dengan semakin meriahnya Kecamatan Cepu, dibandingkan dengan kecamatan di Bojonegoro yang dekat dengan wilayah operasi migas. Terlepas dari segala kekurangan dan kelebihannya, namun itu bisa menyakitkan masyarakat terdekat.

Blok Bojonegoro?

Jika memang nantinya Blok Bojonegoro sukses dikukuhkan oleh pemerintah dan mengganti Blok Cepu, maka akan menjadi simbol baru kebangkitan nama kota di bantaran Bengawan Solo tersebut.  Sebab, Bojonegoro akan semakin dikenal oleh masyarakat luas, tidak hanya tingkat regional dan nasional, melainkan sampai di tingkat internasional. Karena, objek migas masih menjadi tema kekinian selain globar warming. Khususnya saat harga minyak mentah dunia tengah melonjak dan negara-negara asing sibuk mencari ladang-ladang minyak baru di wilayah kaya sumber daya alam.

Simbol tersebut sangat dibutuhkan oleh Bojonegoro yang memang kurang mempunyai daya tarik pariwisata, dibandingkan dengan Kabupaten Tuban, Lamongan, Kota Surabaya, Pasuruan, maupun Malang. Seperti dalam teori simbol yang diciptakan oleh Susanne Langer, melalui simbolisme dalam tulisan Philosophy in a Ney Kay.
Langer berasumsi, jika proses manusia secara utuh cenderung abstrak. Manusia lebih menyukai simbol-simbol tertentu dibandingkan dengan pemaknaan secara langsung. Walaupun terkadang simbol pada manusia dirumitkan oleh fakta bahwa tidak ada hubungan secara langsung antara simbol dan objek sebenarnya. (Littlejohn : 2009)

Saat simbol Bojonegoro tergabung dalam nama blok migas, maka secara tidak langsung dampaknya bisa dirasakan oleh masyarakat. Mulai dari image kabupaten yang terangkat, juga tempat-tempat pariwisata yang selama ini kurang tersosialisasikan, perhotelan, makanan khas, hingga kearifan lokal penduduknya, akan lebih dikenal. Bisa dibilang, saat ekspatriat akan mengunjungi objek migas yang dioperasikan MCL, akan langsung menuju ke Bojonegoro dan hal itu bisa menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Bukan seperti sebelumnya menuju ke kabupaten tetangga yang sebenarnya cukup jauh dari letupan dampak secara langsung.
Oleh karena itu, Pemkab Bojonegoro bersama dengan masyarakat lokal harus lebih intens lagi mendesak kepada pemerintah pusat untuk segera melegalkan nama Blok Bojonegoro mengganti Blok Cepu. Dengan segala pertimbangan yang ada, mulai aspek dampak lingkungan, sosial, budaya hingga relegi yang tergerus akibat industrialisasi.

Pemerintah pusat juga harus melihat greget dari masyarakat bawah dan kepentingan Kabupaten Bojonegoro secara umum. Sebagai kabupaten menengah, Bojonegoro membutuhkan publikasi image untuk pembangunan berkelanjutan. Apalagi, dengan keberadaan migas yang bisa mensupport kebutuhan migas secara nasional, apresiasi lebih seharusnya sudah sangat layak diterima. Bukannya bonus, tetapi bagian dari barter dampak yang diterima secara langsung. [mad]

*Dosen Komunikasi IAIN Sunan Ampel Surabaya

Komentar Pembaca
  • Minggu, 26 Juni 2011 01:04:49 PMI
  • majur terus pantang mundur

  • Minggu, 14 Agustus 2011 11:04:56 Cornelis
  • Pancen dan*** sing ngasih nama, akses menuju lokasi suatu saat akan ku blokir jika tdk diganti dgn nama daerah tercintaku. Lebih baik tdk ada eksplorasi drpada yg trkenal daerah lain, as**.

  • Jumat, 28 Oktober 2011 19:41:41 Cah Campurejo,BJN Asli
  • C**!!! ndang digenti dadi BLOCK BOJONEGORO... ojo sampek aku balik lo. AWASS!! tak orat-arit tnan lokasine.

  • Selasa, 31 Januari 2012 00:13:21 cholil
  • Betul;/..... Suatu Nama akan membawa hoki tersendiri, kita yg terkena dampak secara langsung dari pada Eksplorasi malah yg punya nama Cepu,... Beh gak setuju aq,.. lebih baik kita Reformasi Blok Cepu menjadi Blok BOJONEGORO. kita harus mendukung Pemerintah Kab.Bojonegoro untuk merubah nama Blok Cepu Menjadi Blok Bojonegoro. " HIDUP KABUPATEN BOJONEGORO " HIDUP BLOK BOJONEGORO " (SuaraRakyatBjn.Com)

Nama Anda :
Email :
Komentar :
Masukkan 6 kode keamanan diatas
Kolom Sebelumnya
Video bB
Senin, 16 Desember 2013 21:12:02 Banjir Menerjang Bojonegoro
Naiknya permukaan air Sungai Bengawan Solo membuat beberapa daerah di Kabupaten Bojonegoro mulai kebanjiran.
Redaksi
Kamis, 17 April 2014 19:00:55 Sekretaris Redaksi bB Menikah Selamat Menempuh Hidup Baru Ya! Selamat Menempuh Hidup Baru Ya!
Sekretaris Redaksi blokBojonegoro Media Nidhomatum Mukhlisotur Rohmah mengakiri masa lajangnya. Kamis (17/4/2014), dia dipersunting oleh Mahbib Khoiron.
Suara Pembaca & Citizen Jurnalism
Selasa, 22 April 2014 17:00:35 Akademi Kesehatan Rajekwesi Bojonegoro Pesta Demokrasi untuk Pilih Ketua Senat Pesta Demokrasi untuk Pilih Ketua Senat
Semarak demokrasi tak hanya ada di ajang pemilihan legeslatif (Pileg) saja. Di Senat Mahasiswa Akademi Kesehatan Rajekwesi
Info Tabloid bB
Sabtu, 15 Maret 2014 13:02:38 Ulasan HIV/AIDS di Edisi Maret 2014
Berita mendalam terus disajikan oleh redaksi Tabloid blokBojonegoro. Termasuk di edisi Maret Tahun 2014. Kabupaten Bojonegoro yang menurut data berada di peringkat delapan se Jawa Timur untuk kasus penyebaran HIV/AIDS menjadi tema utama. Disajikan dengan pola in depth interview dari berbagai perspektif membuat berita semakin lengkap. Untuk halaman fokus, tetap mengulas target minyak dan gas bumi ...