"Sang Penari", Potret Buram Pasca Tragedi
Kamis, 10 November 2011 17:30:34 "Sang Penari", Potret Buram Pasca Tragedi

Reporter: --

blokBojonegoro.com - Tragedi nasional yang menimpa republik ini pada tahun 1965 atau yang dikenal dengan G30S (Gerakan 30 September) hingga kini masih menyisakan sisi-sisi buram bagi bangsa Indonesia.

Sebuah gerakan pemberontakan yang "didalangi" Partai Komunis Indonesia (PKI) itu tidak saja merenggut nyawa tujuh perwira tinggi yang kemudian dikenal sebagai Pahlawa Revolusi, namun juga mengorbankan nyawa jutaan anak bangsa.

Pasca G30S tahun 1965, pemerintah dibawah rezim orde baru melakukan gerakan pembersihan terhadap semua unsur yang dinyatakan terlibat dalam tragedi berdarah tersebut, tak terkecuali para pekerja seni dari rakyat bawah.

Melalui "Sang Penari" sutradara muda Ifa Ifansyah sepertinya ingin menunjukkan sebuah potret buram pasca tragedi 1965 yang hingga kini dinilai sebagai salah satu sisi kelam kehidupan berkebangsaan di Indonesia.

Film Sang Penari yang terinspirasi dari trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari tersebut mengisahkan kehidupan Srintil ronggeng dari Dukuh Paruk pada era 1960an.

Bertahun-tahun Dukuh Paruk kehilangan "kehidupannya" setelah kejadian keracunan massal tempe bongkrek yang menewaskan warga Dukuh Paruk dan salah satunya korbannya adalah Surti, seorang ronggeng  dukuh tersebut.

Srintil (Prisia Nasution), yang sejak kecil suka menari diyakini memiliki indang atau roh ronggeng, kemudian oleh kakeknya, Sakarya (Landung Simatupang) gadis itu dibawa ke dukun ronggeng, Kertareja (Slamet Raharjo) agar "dipoles" menjadi ronggeng yang sesungguhnya.

Kehidupan Dukuh Paruk pun kembali bergairah setelah memiliki ronggeng yang baru, terlebih lagi pesona Srintil mampu membuat dirinya menjadi ronggeng yang terkenal.

Namun ketenaran Srintil sebagai seorang ronggeng justru membuat tidak senang Rasus (Oka Antara) teman sepermainannya sejak kecil -yang ternyata mencintainya. Terlebih lagi seorang ronggeng tidak hanya dituntut mampu membawakan tarian namun juga melayani lelaki.

Rasus akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Dukuh Paruk dengan  cintanya kepada Srintil dan kemudian masuk menjadi tentara.

Sepeninggalan Rasus, ronggeng Dukuh Paruk semakin berkibar hingga kesenian tersebut akhirnya direkrut oleh sebuah partai untuk menarik massa dalam setiap aksi propagandanya.

Angin ternyata berbalik, kegagalan Gerakan 30 September di Jakarta, akhirnya merembet hingga ke Dukuh Paruk yang harus menerima akibatnya karena "keterlibatannya" dalam tragedi tersebut.

Sebagai film yang memotret pasca tragedi 1965, Sang Penari bisa dibilang cukup berani, karena sang sutradara menampilkan adegan pembantaian massal yang dilakukan TNI terhadap masyarakat yang diindikasikan terlibat ataupun anggota partai komunis.

Seperti yang diakui oleh penulisnya, Ahmad Tohari, bahwa dia tidak seberani Ifa Ifansyah dalam melukiskan pembunuhan massal tersebut.

"Novel ini saya tulis tahun 1980an. Saya takut jika menulis terlalu vulgar bisa-bisa peluru menembus kepala saya," kata pria kelahiran Kabupaten Banyumas 1948 itu.

Keberanian Ifa yang juga sutradara Garuda Di Dadaku, mengangkat novel Ronggeng Dukuh Paruk dari sudut pandang politik dalam negeri era 1960an bisa jadi menjadi selling point Sang Penari.

Ia mengakui, hingga saat ini masih minim film nasional yang mengambil tema pemberontakan PKI, kalaupun ada baru tiga yakni "Pemberontakan G30S/PKI" yang menjadi tontonan wajib pada masa orde baru, kemudian "Gie" serta "Sang Penari".

Sebenarnya bukan baru kali ini Ronggeng Dukuh Paruk diangkat ke layar lebar. Pada era 1980an sutradara Yasman Yazid memfilmkannya dengan judul "Darah dan Mahkota Ronggeng".

Namun saat itu, film yang dibintangi Eny Beatrice sebagai Srintil dan Ray Sahetapy sebagai Rasus, hanya mengambil sudut pandang kehidupan ronggengnya dan menonjolkan sisi erotis dan seks. "Karena itu saya tidak pernah menonton film tersebut hingga saat ini," kata Ahmad Tohari yang mengaku kecewa.

Di tengah film nasional bertema hantu dan erotisme, Sang Penari bisa menjadi tontonan yang bermutu, terlebih lagi dari sisi sinematrografi gambar-gambar yang disuguhkan cukup bagus dan nyaman untuk dinikmati.

Yang juga patut diapresiasi dari Sang Penari yakni terlihat sekali unsur ke-Indonesiaan, bahasa Banyumas sangat mendominasi dialog-dialognya, tidak sekedar tempelan satu dua kata, sehingga warna lokal begitu kental.

Pemain utama Prisia Nasution yang pasti dari namanya dari Batak dan Oka Nyoman Antara yang orang Bali begitu masuk memerankan Srintil dan Rasus yang merupakan penduduk Banyumas dengan bahasa Jawa yang ngapak-ngapak.

Jika ada sedikit kelemahan, karena film ini merupakan interpretasi sang sutradara terhadap novel, bagi yang belum membaca versi bukunya akan sedikit bingung mengikuti adegan yang terlalu cepat melompat-lompat tanpa ada adegan penjelasan.

Sedangkan bagi mereka yang sudah membaca bisa jadi akan "protes" karena Ifa melakukan perubahan-perubahan dalam karyanya sehingga sedikit melenceng dari novelnya.

"Dalam bagian akhir film ini tertulis ’terinspirasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk’, jadi saya tidak sedang memfilmkan novel itu tapi mengambil inspirasi," kata Ifa memberikan alasannya.[mad]

sumber: kompas.com

Komentar Pembaca
  • Sabtu, 12 November 2011 08:10:03 Yudi Sulistyo
  • Sebuah saduran tentang sastra dan budaya yang cukup baik...Akan menjadi sebuah tulisan sastra dan budaya yang sangat baik jika bB menambahinya dengan kutipan dari beberapa budayawan lokal Bojonegoro.

  • Selasa, 15 November 2011 07:22:20 Istiqamah
  • Tulisan menarik yang memberi tambahan informasi tentang fragmen huru-hara budaya. Smg bB bs terus menyajikan tulisan2 yang bermutu. Congratulations blok Bojonegoro!

Nama Anda :
Email :
Komentar :
Masukkan 6 kode keamanan diatas
Video bB
Rabu, 16 Maret 2016 06:28:41 Lezatnya Kuliner Kepiting Sawah
Berbicara tentang kepiting, yang muncul dipikiran Anda pasti hewan laut bercangkang keras dan banyak disajikan di warung-warung seafood tepi jalan. Namun apakah Anda pernah mencoba menu kuliner kepiting sawah atau biasa disebut yuyu?
Redaksi
Minggu, 15 Mei 2016 10:00:13 Gerakan Bojonegoro Menulis Gerakan Bojonegoro Menulis
Perkembangan ekonomi Kabupaten Bojonegoro cukup pesat. Hal itu tak lepas dari produksi minyak di Blok Cepu yang mencapai puncak 165.000 barel perhari (bph). Ladang Blok Cepu berada di wilayah selatan Bojonegoro. Industri migas itupun berdampak di bidang lain, mulai sosial, politik, pariwisata, dan pendidikan.
Suara Pembaca & Citizen Jurnalism
Sabtu, 28 Mei 2016 16:00:11 Lestarikan Budaya Islam, IPNU Kasiman Dukung Hadrah Rutinan Lestarikan Budaya Islam, IPNU Kasiman Dukung Hadrah Rutinan
Seni hadrah sudah dikenal sebagai salah satu bentuk kesenian yang menjadi bagian dalam melakukan penyebaran ajaran agama Islam. Seni inipun diketahui sudah digunakan oleh para ulama sejak jaman dahulu dalam berdakwah. Dengan melestarikan seni ini, diharapkan nilai dari ajaran Islam semakin dapat dirasakan-melalui pendekatan budaya-oleh seluruh masyarakat. Hal tersebut juga menjadi ihtiyar yang dilakukan oleh Pengurus Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PAC IPNU) Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro.
Info Tabloid bB
Jumat, 31 Juli 2015 13:16:10 Tabloid bB Edisi Juli 2015
Untuk Edisi Juli 2015, redaksi Tabloid blokBojonegoro ingin menyajikan beberapa hal yang baru, terutama di halaman Investigasi. Dengan tema besar “Awasi Air Saat Musim Kering” dikupas secara mendalam mengenai kekeringan yang melanda hampir sebagian wilayah Kabupaten Bojonegoro, terutama yang berada jauh dari aliran sungai bengawan solo. Waduk pacal yang menjadi primadona, sekarang ini ...