Reporter: Joel Joko
blokBojonegoro.com - "Mulutmu harimau bagimu". Inilah sebuah ungkapan yang pernah kita pelajari dari dalam buku pelajaran bahasa Indonesia sejak di sekolah dasar dahulu. Tapi kini, mungkin ungkapan ini tidak banyak yang mengerti artinya, tetapi apabila dicerna, sangat dalam maknanya.
Di dalam ungkapan tersebut, kita diingatkan untuk selalu berhati-hati dalam bertutur kata dan dalam menulis, agar apa yang dikatakan atau ditulis itu tidak menjadi fitnah atau berita bohong yang akan memakan diri sendiri.
Dengan demikian, ungkapan itu pun menjadi pengingat (warning) bagi siapa saja. Hal itu sebagaimana disampaikan Kiai Sulhan Imron saat buka bersama puluhan wartawan Bojonegoro, Rabu(1/8/2012) sore.
"Para pekerja media yang menulis berita, jangan menyesatkan apalagi bohong. Bagi yang puasa, sama saja nggak ada artinya," kata pria yang juga mantan Ketua Dewan Pendidikan Bojonegoro itu.
Ungkapan itu memang harus dicamkan dalam-dalam agar tidak dicap wartawan bohong, media pembawa fitnah, atau berita dan tulisan yang merusak nama baik seseorang. Sungguh ini sangat berbahaya bukan?
Selama ini, seringkali terdengar di masyarakat soal ungkapan-ungkapan miris terhadap pemberitaan yang ditulis wartawan media, baik cetak maupun elektronik. Ungkapan-ungkapan itu terasa sangat melecehkan kerja wartawan atau media atas sebuah pemberitaan.
Ada ketidakpercayaan orang terhadap pemberitaan itu dan menuduhnya sebagai berita bohong, berita sampah, dan bahkan dianggap fitnah. Untuk itu, berita harus ditampilkan secara utuh agar tidak menjadi berita sepotong-potong. [oel/yud]






