Bojonegoro adalah daerah yang sedang bergeliat. Ekonomi merayap naik sedikit demi sedikit dan menyedot investor terus berdatangan. Bojonegoro pun tak hanya hidup pada siang hari, melainkan pada malam hari Bojonegoro semakin hidup.
Reporter: Nanang Fahrudin
blokBojonegoro.com - Jika sekitar dua tahun lalu Anda kesulitan menemukan tempat hiburan di Bojonegoro pada malam hari, maka tidak untuk saat ini. Sejumlah tempat bisa menjadi alternatif. Mulai yang menawarkan prestise dan privasi, atau yang bersifat terbuka.
Sebut saja pembangunan hotel dan restoran yang menjamur di Bojonegoro. Atau tempat-tempat karaoke yang menawarkan eksklusivitas bagi warga kota. Serta kafe-kafe yang memanjakan para anak muda.
Namun, geliat wajah malam di antaranya sangat terasa ketika berada di alun-alun kota pada malam hari, khususnya setiap Sabtu malam. Mulai pukul 16.00 WIB, puluhan pedagang "menyerbu" alun-alun. Mulai pusat mainan anak, pedagang makanan, dan paling banyak adalah warga yang mendirikan tenda lalu menjual wedang kopi.
"Saya buka mulai jam lima sore. Jam satu malam sudah tutup," kata Imam, salah satu penjual kopi tenda.
Sejumlah warung kopi dadakan yang berderet mengepung alun-alun itu memberi warna tersendiri bagi wajah malam di Bojonegoro. Pusat kota itu pun tak pernah sepi meski hanya sebentar saja.
Pemilik salah satu warung, Budi mengatakan bahwa setiap malam, warga yang duduk-duduk santai di warungnya selalu ada. Bahkan, pada Ramadan lalu, cukup membawa berkah bagi dagangannya. Ramadan lebih ramai daripada bulan-bulan biasanya.
“Kopi sengaja saya tambah. Kalu di bulan-bulan biasa habis sekitar 60 an cangkir, untuk bulan Ramadan bisa mencapai 100 cangkir. Bahkan kalau malam Minggu bisa mendekati 150 cangkir”, ujarnya.
Kebanyakan pengunjung alun-alun adalah para kalangan muda. Seperti Yon, warga Desa Kalisat, Kecamatan Sukosewu, yang datang bersama-sama lima teman sedesanya. Mereka datang ke alun-alun karena memang menurut mereka hanya itulah tempat berkumpul yang paling asyik di Bojonegoro.
“Kalau mau bersantai ya pasti ke alun-alun. Lha terus ke mana lagi di Bojonegoro ini ada tempat asyik lainnya?’ kata remaja yang setiap malam Minggu selalu ke alun-alun itu.
Rata-rata pengunjung datang ke alun-alun bersama teman, pacar, atau anggota keluarga. Jika usai maghrib, banyak warga kota yang bersantai bersama keluarganya. Namun, jika semakin malam, muda-mudi banyak yang datang berpasang-pasangan dan asyik duduk-duduk memesan secangkir kopi atau jagung bakar.
Banyaknya warga yang datang ke alun-alun ternyata membawa berkah bagi mereka yang kreatif. Salah satunya adalah Susilo, penjaja becak keliling dengan model yang artistik. Becak keliling itu seperti mobil namun dikayuh bersama-sama oleh para penumpang.
“Kalau sepur mini itu biasanya untuk anak-anak. Kalau becak keluarga ini memang sengaja untuk orang dewasa atau paling tidak sudah kuat mancal dan bisa mengendalikan setir,” katanya.
Dinamakan becak keluarga karena becak itu dapat dinikmati sampai empat atau lima orang sekaligus. Masing-masing tempat duduk disediakan pedal di bawahnya dengan satu setir kemudi di sebelah kanan depan laiknya mobil. Maing-masing penumpang harus mancal dan menjalankan becak itu sendiri tanpa bantuan mesin alias manual.
"Satu putaran kami tarif Rp10.000. Rutenya mengelilingi alun-alun saja. Kalau mau rute lain ada biaya tambahan," kata lelaki 40-an tahun yang juga berprofesi sebagai guru salah satu SD di kota Bojonegoro ini.
Alun-alun akan hidup hingga dini hari. Saat pedagang kopi tutup, maka pedagang serabi akan menggantikannya. Ketika pagi datang, giliran warga kota yang jalan-jalan jogging sambil menikmati segelas teh panas dan kue serabi. [ang]






