Santri dan Upaya Pertahankan NKRI
Sabtu, 22 Oktober 2016 23:00:00 Santri dan Upaya Pertahankan NKRI

Oleh: Kang Heru Suroso*
 
Sebagai kelompok masyarakat yang keberadaanya tak bisa dipisahkan dari proses perjuangan kemerdekaan Negara Indonesia, nama santri memang tidak asing ditelinga bangsa Indonesia. Bahkan sejak bergulirnya era reformasi, peran santri kembali mengemuka hingga sekarang. Tak berlebihan jika Presiden Joko Widodo (Jokowi) di tahun pertama pemerintahannya meneguhkan pentingnya keberadaan santri melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 dengan menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Setidaknya dengan peneguhan Hari Santri Nasional, memberikan kepercayaan diri atas predikat, peran serta kewajiban-kewajibannya di tengah masyarakat. Karena bagaimanapun santri menjadi bagian sosial, ia memiliki peran keterlibatan yang lebih besar ketimbang masyarakat awam lainnya. Terutama dalam pembinaan moral, budi pekerti dan pendidikan keagamaan Islam di tengah masyarakat. Baik melalui lembaga pendidikan Madrasah Diniyah, Pondok Pesantren, Taman Pendidikan Al Quran maupun pengajaran mengaji di surau-surau kecil yang tersebar di pelosok-pelosok desa.

Tapi sayang, peran penyebaran, pembinaan, dan pengajaran keagamaan Islam yang begitu besar tersebut belum diimbangi dengan perhatian pemerintah' khususnya dalam pengalokasian anggaran pembiayaan pendidikan keagamaan Islam. Terlebih pada zaman pemerintahan Orde Baru, peran masyarakat santri dibatasi oleh penguasa. Baik untuk siar agama, pendidikan keagamaan Islam maupun berserikat mendapat pengawalan ketat dari pemerintah berkuasa saat itu.

Pada era tersebut, pemerintah hanya memberikan dukungan terhadap beberapa Pondok Pesantren tertentu yang pengelolanya memiliki kerjasama dengan pemerintah, baik melalui partai pemerintah maupun pemerintah secara langsung. Dengan catatan, santri dilarang melakukan kegiatan politik dan ulama sebagai pengasuh Pondok Pesantren menjadi corong pemerintah di masyakarat.

Masifnya tekanan dan ancaman yang dirasakan oleh kaum santri saat itu menjadikan mereka dirasuki kegelisahan dan keresahan. Santri menjadi tidak bebas mengekspresikan kreativitasnya dalam kegiatan siar agama. Sehingga memaksa sebagian kalangan santri yang memiliki keunggulan di bidang seni mengkritik dengan pertunjukkan yang dibingkat seni teater.

Dan ketika terjadi demo besar-besaran yang memprotes kepemimpinan Suharto oleh gerakan mahasiswa, kaum santripun turun gunung dengan kekuatan masif bersama gerakan mahasiswa mendorong lengsernya presiden saat itu.

Memasuki era reformasi, barulah kehidupan dunia santri kembali bergairah, atau lebih tepatnya bisa dikatakan seolah bangkit dari kelumpuhan. Hal ini ditandai dengan maraknya ulama dan santri berbondong-bondong memasuki dunia politik. Dengan mendirikan partai berbasis agama, merekapun mengekspresikan jiwa kenegarawanannya turut merancang dan melaksanakan pembangunan Indonesia baru.

Sejurus dengan lahirnya era reformasi yang membawa angin kebebasan berpendapat dan berserikat, lahirlah organisasi-organisasi yang bebasis agama, tak terkecuali Ormas Islam garis keras yang kemudian dikenal dengan istilah "radikal kanan". Mereka turut mewarnai dinamika kehidupan sosial dan demokrasi di Indonesia. Dan di era reformasi inilah peran santri kembali diuji dalam memperahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Meredam Kelompok Keras

Dalam sepuluh tahun terakhir, masyarakat cukup dikejutkan oleh kemunculan organisasi-organisasi massa yang cukup keras yang mendasarkan kegiatannya pada perjuangan syareat Islam. Tidak sedikit masyarakat yang mengecap, karena aksi kekerasannya. Bukan hanya itu, provokasi yang dilakukan berpotensi memecah belah persatuan kebangsaan bahkan persatuan umat Islam.

Yang lebih "berbahaya" lagi, keberadaan kelompok tersebut tidak mengakui Pancasila dan mengharamkan demokrasi di Indonesia. Tindakan aksi yang cenderung membawa kekerasan sepertinya sudah melekat pada Ormas yang ngotot ingin menjadikan negara Indonesia dengan sistem Islam. Lagi-lagi, santri yang sejak awal turut memperjuangkan kemedekaan dan mengawal negeri ini harus kembali turun gunung untuk menjaga "serangan-serangan" Ormas garis keras tersebut agar tidak menghancurkan bangsa Indonesia.

Bagaimana tidak, kelompok yang dengan keras menolak toleransi dan keberagaman agama di Indonesia semakin membahayakan belakangan. Padahal sejak awal negara ini diproklamirkan dengan asas kebhinekaan dan dipilih menjadi dasar pembentukkan bangsa dan nafas kehidupan yang berbasis banyak suku, agama, dan ras.

Hal inilah mendorong Nahdlatul Ulama menentang keras keberadaan kelompok radikal yang harus dilawan dan dibubarkan. Kasus terkini sengkarut di Pilkada DKI Jakarta juga "memaksa" kaum santri untuk turun tangan menengahi perdebatan sengit yang berpotensi memecah belah bangsa. Dengan sigap para ulama baik dari Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyah, segera meleraii dan meminta pihak yang berpolemik segera menyudahi konflik pendapat yang dapat merongrong kesatuan dan persatuan bansa Indonesia.

Mengingat betapa besar dan pentingnya peran kaum santri di kehidupan masyarakat Indonesia ini sudah selayaknya Pemerintah, baik pusat dan daerah, memberikan apresiasi alokasi anggaran yang cukup untuk membantu penyelenggaraan pendidikan kegamaan Islam, baik di Madrasah Diniyah maupun Pondok Pesantren. Karena, bagaimanapun kemampuan dan peran santri lulusan Madrasah dan Pondok Pesantren dibutuhkan negara dalam meredam keretakan dan merawat kerukunan umat beragama, serta mempertahankan keutuhan bangsa Indonesia.

Presiden Joko Widodo, pada saat masih menjadi calon presiden pernah berkampanye akan memperkuat pendidikan keagamaan Islam ( Pondok Pesantren/ Madrasah) dan ustad/ustadzahnya. Namun demikian hingga tahun kedua jalannya pemerintahan Presiden Jokowi dan Jusuf Kalla, janji kampanye tersebut tubuh belum merealisasikan janji kampanye tersebut.

Peran santri dalam mengawal negara dan membangun bangsa memang tidak akan terhenti hanya karena ada atau tidaknya kepedulian Pemerintah. Dari dulu mereka menyakini bahwa pemerintah hanya melihat keberadaan lembaga pendidikan mereka sebelah mata. Tetapi proses belajar mengajar di setiap lembaga Madrasah Diniyah dan Pondok Pesantren harus tetap berjalan tanpa alasan apapun. Karena inilah tradisi Islam di Indonesia yang harus tetap dijaga dan dipertahankan.

Sementara itu bagi Pemerintah, mereformasi sistem penganggaran alokasi pendidikan keagamaan Islam yang selama negara ini merdeka belum berpihak kepada mereka yang berjuang di surau-surau, di Madrasah-madrasah diniyah, dan Pondok-pondok Pesantren. Namun peran dan produktif para santri tidak kalah kualitasnya dengan lulusan pendidikan formal lainnya. Terutama peran untuk menjaga keutuhan NKRI. [mad]

Selamat Hari Santri 2016.

*Alumni Santri 1998 Pondok Pesantren Al Falah,
Desa Pacul, Kecamatan Kota Bojonegoro.

Komentar Pembaca
  • Minggu, 23 Oktober 2016 08:00:03 wijiono
  • Amiiiiiinn .... semoga kedepan semakin maju Bangsa ini kang heru ... khususnya Bojonegoro tercinta ini . amiiiiinnnnn..

Nama Anda :
Email :
Komentar :
Masukkan 6 kode keamanan diatas
Video bB
Jumat, 10 Juni 2016 17:02:22 Ayo Ikut BPJS Kesehatan
Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) BPJS Kesehatan meliputi : a. Pelayanan kesehatan tingkat pertama, yaitu pelayanan kesehatan non spesialistik mencakup: 1. Administrasi pelayanan 2. Pelayanan promotif dan preventif 3. Pemeriksaan, pengobatan dan konsultasi medis 4. Tindakan medis non spesialistik, baik operatif maupun non operatif 5. Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai 6. Transfusi darah sesuai kebutuhan medis 7. Pemeriksaan penunjang diagnosis laboratorium tingkat pertama 8. Rawat inap tingkat pertama sesuai indikasi
Redaksi
Sabtu, 17 Desember 2016 21:00:14 blokMedia Group Dominasi Lomba Tingkat Jatim GM bB dan bT: Terima Kasih Blokers yang Sudah Setia GM bB dan bT: Terima Kasih Blokers yang Sudah Setia
Lomba karya tulis jurnalistik dan fotografi tahun 2016 se Jawa Timur, menyisakan hasil manis bagi blokMedia Group (blokBojonegoro.com dan blokTuban.com). Sebab, dari enam juara dan enam nominasi harapan, reporter bB dan bT, sapaan akrab dua media online terkemuka di eks karesidenan Bojonegoro, berhasil meraih tiga hadiah.
Suara Pembaca & Citizen Jurnalism
Jumat, 13 Januari 2017 08:00:33 Doa Kebangsaan Dalam Haul Manakib Ansor Gayam Doa Kebangsaan Dalam Haul Manakib Ansor Gayam
Dalam rangka memperingati haul manakib Syech Abdul Qodir Al Jilani, pengurus Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Gayam mengadakan doa kebangsaan dan pembacaan manaqib di Masjid Ar - Rosyid, Desa Katur, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro.
Info Tabloid bB
Jumat, 31 Juli 2015 13:16:10 Tabloid bB Edisi Juli 2015
Untuk Edisi Juli 2015, redaksi Tabloid blokBojonegoro ingin menyajikan beberapa hal yang baru, terutama di halaman Investigasi. Dengan tema besar “Awasi Air Saat Musim Kering” dikupas secara mendalam mengenai kekeringan yang melanda hampir sebagian wilayah Kabupaten Bojonegoro, terutama yang berada jauh dari aliran sungai bengawan solo. Waduk pacal yang menjadi primadona, sekarang ini ...