Bodjonegoro 1948 - 1949
Minggu, 25 Desember 2016 20:00:56 Bodjonegoro 1948  - 1949

Penulis: Nanang Fahrudin

Sejarah Bodjonegoro adalah bukan saja sejarah tentang kemiskinan pada era 1900-1945 sebagaimana dalam buku CLM Panders. Juga tidak saja soal pasukan Aru Palaka yang didatangkan Belanda dari Bugis untuk menumpas para pengikut Trunojoyo di Bodjonegoro. Tetapi Bodjonegoro juga sejarah kegigihan militer-rakyat dalam perang gerilya melawan agresi militer Belanda 1948.

Pada 19 Desember 1948, Belanda mencoba masuk lagi ke Indonesia yang dikenal dengan agresi militer II. Lalu selang tiga hari, yakni pada 22 Desember  1948 dikeluarkanlah Maklumat No 2/MBKD berisi pembentukan pemerintah darurat militer. Kolonel Sungkono adalah Gubernur Militer Jawa Timur. Letkol Umar Joy sebagai komandan STM, mengepalai pemerintah militer karesidenan Bodjonegoro. Sedang untuk wilayah Bodjonegoro dijabat Komandan Brigade I Letkol Sudirman.

Gempuran tentara Belanda yang sangat dahsyat dari udara dan darat membuat Bodjonegoro berhasil diduduki penjajah. Peralatan tempur yang lebih canggih membuat tentara di Bodjonegoro kocar-kacir. Dan pada 16 Januari 1949 Belanda berhasil menduduki Bodjonegoro. Satu-satunya cara melawan adalah dengan melancarkan perang gerilya.

Residen Bodjonegoro Tandiono Manu mengungsi ke luar kota dan menjalankan pemerintahan dari luar, di kawasan hutan lereng Gunung Pandan. Demikian juga Bupati Bodjonegoro Surowijono yang masuk hutan untuk menghindari penangkapan. Surowijono mengalami ujian yang cukup berat. Istri dan anak-anaknya berhasil ditangkap Belanda dan tidak pernah ada kabarnya lagi.

Apalagi, seorang pejabat Residen Bodjonegoro bernama Gondosudignyo berhasil tertangkap saat melarikan diri ke Blitar. Dia tak berani melawan menolak Belanda yang menjadikannya residen boneka. Perpecahan pejabat hingga tingkat desa pun tak bisa terhindarkan.

Pj Gubernur Jatim Samadikun dalam pelariannya ke hutan bersama sedikit pengikut berjalan dari Surabaya melewati hutan-hutan untuk menghindari tentara Belanda. Dia mencoba mencari informasi dimana keberadaan para pemimpiin daerah di Jawa Timur yang semuanya melarikan diri masuk hutan.

Hingga akhirnya Samadikun bertemu Surowijono  di desa lereng Gunung Pandan. Mereka bertemu dengan penuh haru. Kedua rombongan yang bertemu akhirnya menginap di sebuah rumah kayu jati bertingkat dua. Pj Gubernur dan Bupati menempati lantai atas untuk melindungi jika ada serangan mendadak dari Belanda. Para staf tidur di lantai bawah.

Keesokan harinya, dua pejabat ini berjalan guna mencari keberadaan Residen Bodjonegoro Tandiono Manu. Perjalanan dilakukan penuh kehati-hatian untuk menghindari serangan Belanda. Setelah lama menelusuri lereng Gunung Pandan, akhirnya Residen Bodjonegoro berhasil ditemukan. Pertemuan tiga pejabat itu terjadi di Desa Deling (Kecamatan Sekar).  Di desa itulah kemudian dilakukan sebuah konferensi untuk membahas kondisi terkini.

Dari catatan yang ada, konferensi yang sengaja dilakukan di tanah lapang dengan penjagaan ketat itu, dihadiri Samadikun, Tandiono Manu, dan Surowijono. Selain mereka juga hadir Pimpinan Militer Letkol Sudirman, Mayor Basuki Rakhmat seorang komandan Batalion dari Brigade Ronggolawe.  Basuki Rakhmat di kemudian hari berpangkat jenderal dan pernah menduduki jabatan Menteri Dalam Negeri.

Selama para pejabat sipil mengungsi di hutan, pemerintah darurat militer terus berjuang mengusir Belanda. Pada Maret 1949 pemerintah militer sudah terbentuk di seluruh wilayah kecamatan Bodjonegoro. Meski dengan persenjataan yang kalah canggih, para militer pejuang tak kenal kata menyerah.

Untuk pembekalan perang gerilya, Komandan STM/Pemerintah Militer Karesidenan Bodjonegoro pada 9 Juni 1949 mengeluarkan “Peraturan Fonds Perang” yang diantaranya berisi (pasal 3) sebagai pedoman guna menentukan jumlah tersebut, ditetapkan lima puluh rupiah untuk tiap-tiap keluarga sebulannya. Peraturan itu hanya ada di Bodjonegoro dan ditandatangai oleh Letkol Umar Joy.

Pada masa itu, rakyat Bojonegoro dalam kondisi miskin. Tapi hal itu tak menyurutkan niat membantu para pejuang militer. Warga yang tak memiliki uang Rp 50 tetap memberikan  sumbangan perang yakni dengan memberikan hasil bumi. Kebersamaan untuk mengusir penjajah ditunjukkan dengan memberikan harta benda. Sedang pemuda-pemuda ikut bergerilya.

Dalam peperangan itu beberapa tentara pejuang gugur. Diantaranya Letnan I RM Soejitno yang gugur dalam pertempuran di Desa Mulyoagung. Juga Letnan Muda Suwolo yang gugur dalam pertempuran di Dander. Dan pertempuran gerilya terus terjadi di wilayah Kecamatan Temayang.

Sepenggal kisah Bodjonegoro tempo doeloe ini menunjukkan betapa gigih masyarakat Bojonegoro mempertahankan wilayahnya. Banyak sejarah yang perlu diungkap untuk memberi pengayaan pada sejarah Bojonegoro. Seperti keberadaan Brigade TRIP di Bojonegoro dan lainnya.

Perang gerilya akhirnya berakhir dengan gencatan senjata pada 11 Agustus 1949 yang dilanjutkan dengan Konferensi Meja Bundar dan pendirian negara Republik Indonesia Serikat (RIS).

Mari mencintai sejarah daerah. Mari belajar dari Bodjonegoro tempo doeloe. Salam!
 

Komentar Pembaca
    Nama Anda :
    Email :
    Komentar :
    Masukkan 6 kode keamanan diatas
    Video bB
    Jumat, 10 Juni 2016 17:02:22 Ayo Ikut BPJS Kesehatan
    Manfaat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) BPJS Kesehatan meliputi : a. Pelayanan kesehatan tingkat pertama, yaitu pelayanan kesehatan non spesialistik mencakup: 1. Administrasi pelayanan 2. Pelayanan promotif dan preventif 3. Pemeriksaan, pengobatan dan konsultasi medis 4. Tindakan medis non spesialistik, baik operatif maupun non operatif 5. Pelayanan obat dan bahan medis habis pakai 6. Transfusi darah sesuai kebutuhan medis 7. Pemeriksaan penunjang diagnosis laboratorium tingkat pertama 8. Rawat inap tingkat pertama sesuai indikasi
    Redaksi
    Sabtu, 17 Desember 2016 21:00:14 blokMedia Group Dominasi Lomba Tingkat Jatim GM bB dan bT: Terima Kasih Blokers yang Sudah Setia GM bB dan bT: Terima Kasih Blokers yang Sudah Setia
    Lomba karya tulis jurnalistik dan fotografi tahun 2016 se Jawa Timur, menyisakan hasil manis bagi blokMedia Group (blokBojonegoro.com dan blokTuban.com). Sebab, dari enam juara dan enam nominasi harapan, reporter bB dan bT, sapaan akrab dua media online terkemuka di eks karesidenan Bojonegoro, berhasil meraih tiga hadiah.
    Suara Pembaca & Citizen Jurnalism
    Jumat, 13 Januari 2017 08:00:33 Doa Kebangsaan Dalam Haul Manakib Ansor Gayam Doa Kebangsaan Dalam Haul Manakib Ansor Gayam
    Dalam rangka memperingati haul manakib Syech Abdul Qodir Al Jilani, pengurus Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Gayam mengadakan doa kebangsaan dan pembacaan manaqib di Masjid Ar - Rosyid, Desa Katur, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro.
    Info Tabloid bB
    Jumat, 31 Juli 2015 13:16:10 Tabloid bB Edisi Juli 2015
    Untuk Edisi Juli 2015, redaksi Tabloid blokBojonegoro ingin menyajikan beberapa hal yang baru, terutama di halaman Investigasi. Dengan tema besar “Awasi Air Saat Musim Kering” dikupas secara mendalam mengenai kekeringan yang melanda hampir sebagian wilayah Kabupaten Bojonegoro, terutama yang berada jauh dari aliran sungai bengawan solo. Waduk pacal yang menjadi primadona, sekarang ini ...