21:00 . Ditutup, Pendaftar PPK-PPS Membeludak   |   20:00 . Kejurda Bupati Ngawi, Inkanas Bojonegoro Sabet 28 Medali   |   19:00 . Ada HET Beras, Pedagang Belum Tahu   |   18:00 . Kok Bisa? Ada Calon Panwascam Sertifikasi dan PNS   |   17:00 . Soehadi Moeljono Terpilih Sebagai Ketua HKTI Bojonegoro   |   16:00 . Lagi, Bupati Sebut Namanya Digunakan Lobi Unnes   |   15:00 . Ragu dengan Transparansi Tes Perangkat, Peserta Pilih Mundur   |   14:00 . Hasil Otopsi Tidak Ada Tanda-tanda Penganiayaan   |   13:00 . Ada Kegiatan Bawaslu, Tes Wawancara Panwascam Ditunda   |   12:00 . Warga Caruban Digegerkan Pria Tergeletak di Pinggir Jalan   |   11:00 . Saatnya Santri Jadi Jawaban Masalah Negeri   |   10:00 . Kapolres: Ada Tujuh Oknum ke Unnes, Satu Berinisial HR   |   09:30 . Lagu Subanul Wathon Menggema di Alun-Alun Bojonegoro   |   09:00 . Refleksi, Saatnya Santri Perbanyak Literasi   |   08:00 . Kang Yoto: Jangan Lupakan Sejarah Santri di Indonesia   |  
Sun, 22 October 2017
Jl. Brigjen Sutoyo Gg. Langgar No. 5 Desa Sukorejo, Telp 0353-3412093, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Thursday, 10 August 2017 12:00:33

Serpihan Agresi Militer Belanda II di Tuban-Bojonegoro (8)

Molor 5 Jam, Jembatan Kaliketek Berhasil Dihancurkan

Molor 5 Jam, Jembatan Kaliketek Berhasil Dihancurkan

Untuk menghambat gerak maju pasukan Belanda, salah satunya melewati jembatan Kaliketek, maka pada tanggal 22 Desember 1948 Tentara Genie Pelajar (TGP) mendapat tugas untuk menghancurkan jembatan yang menjadi penghubung antara Kabupaten Bojonegoro dengan Tuban di atas Bengawan Solo.

Reporter: Parto Sasmito, Tim Investigasi

blokBojonegoro.com - Anggota Tentara Genie Pelajar (TGP) seksi 501 waktu itu tidak ada yang bersenjata. Sebab, tugas meraka di Bojonegoro hanya melayani kesatuan-kesatuan mobil dan teritorial yang mebutuhkan botol-botol pembakar atau istilahnya brandflessen.

Kemudian, atas usulan dari Komandan Seksi, Margono dan wakilnya, Joko Basuki yang disetujui oleh Pak Dirman, maka diputuskan TGP bergabung dengan pasukan dari brigader Ronggolawe. Selanjutnya, tugas pasukan tersebut adalah menghancurkan  jembatan-jembatan yang ada di sekitar kota Bojonegoro untuk menghambat pergerakan musuh, yakni pasukan Belanda.

[Baca juga: Peluru Belanda yang Menghujani Montong ]

Dihitung dari banyaknya jembatan yang ada di sekitar kota Bojonegoro, pasukan TGP dibagi menjadi dua kelompok. Di bagian selatan bengawan atau di wilayah kota yang dipimpin Margono dan di bagian utara yang ada di seberang di bawah komando Basuki dengan anggota Joko Mulyono, Joko Sarwono, Suwoto, Sutiarjo dan Suwondo.

Pada tanggal 22 Desember 1948, Letkol (jabatan saat itu) Sudirman memberikan perintah pasukan TGP yang ada di asrama dekat perempatan Bombok, untuk menghancurkan jembatan Kaliketek, paling lambat pukul 21.00 malam hari.

Awalnya agak ragu ketika menerima perintah, karena terus terang aggota TGP belum pernah meledakkan sebuah bom. "Ini merupakan pengalaman pertama," dikisahkan oleh Joko Basuki yang tertuang dalam Pengabdian Selama Perang Kemerdekaan Bersama Brigadir Ronggolawe, Panitia Penyusunan Sejarah Brigade Ronggolawe,1985:240.

Apalagi, lanjut Wakil Komandan Pasukan TGP yang bertugas di utara Bengawan Solo itu, bom-bom sudah terpasang pada tiang - tiang jembatan. Secara teori, mereka tinggal memasang detonator dan menariknya dari tempat terlindung.

Dengan modal nekat,  sekelompok anggota berangkat ke jembatan Kaliketek sebelum magrib untuk mengetahui letak bom dan memasang detonator.  Ada seorang anggota, Joko Sarwono yang dikenal paling pintar dan suka menjadi pahlawan, turun memasang detonator tersebut, kemudian pen diikat dengan kawat penarik. Kemudian, anggota lainnya turut membantu aktivitas tersebut.

kaliketek1

Pada saat mereka sedang bekerja memasang detonator, datang juga satu regu yang dipimpin oleh Sersan Sidiq yang bertugas mengawal. Sekitar pukul 20.00 WIB, pengerjaan pertama selesai dilakukan. Dipastikan daerah di sekitar sudah diamankan, selanjutnya oleh regu Sidiq kawat pemicu ledakan bom ditarik. Namun, sialnya kawat tersebut putus.

Di dalam kegelapan, terpaksa Joko Basuki beserta anggotanya kembali bekerja dengan menggunakan senter, mencari di mana tempat putusnya kawat. Karena mereka yang bertanggung jawab penghancuran Jembatan Kaliketek. Terlebih, sekitar pukul 23.00 WIB Letnan Satu (Lettu) Suyitno datang melakukan pemeriksaan.

Anggota dari Joko Basuki memberikan jawaban bahwa malam itu juga jembatan pasti putus dan hancur. Meski sempat molor 5 jam dari waktu yang diperintahkan, akhirnya sekitar pukul 02.00 WIB dini hari, dengan usaha keras Jembatan Kaliketek berhasil dihancurkan bersama dengan beberapa buah lokomotif masuk ke dasar sungai Bengawan Solo. Sehingga bisa menghambat laju pasukan Belanda.

Kondisi jembatan yang dulu dihancurkan sempat diperbaiki lagi dan dipakai jalur kereta. Saat ini, jembatan tersebut terlihat mangkrak, dan menyisakan bekas rel kereta.

Kepala Urusan Tata Usaha dan Umum Desa Banjarsari, Widodo kepada blokBojonegoro.com menjelaskan, menurut cerita orang-orang tua dulu, Jembatan Kaliketek sudah 2 kali dihancurkan. Yang pertama sekitar tahun 1942 dan selanjutnya tahun 1948 masa agresi militer Belanda 2.

"Namun kembali dibangun lagi tahun berapa itu nggak tahu, karena sumbernya belum jelas. Pada waktu dulu, jembatan Kaliketek hanya satu saja. Yakni jalur kereta di tengah dengan kanan dan kirinya adalah aspal," jelas Widodo. [ito/mu]

Keterangan:

1. Foto Jembatan Kaliketek dalam keadaan hancur. Beberapa buah lokomotif diterjunkan ke dalam sungai

2. Foto Jembatan Kaliketek saat ini.

3. Sumber: Pengabdian Selama Perang Kemerdekaan Bersama Brigade Ronggolawe. Oleh: Pantia Penyusunan Sejarah Brigade Ronggolawe.


Investigasi

Video bB

Redaksi

  • Friday, 25 August 2017 14:30:19

    Jambore Nasional Revolusi Mental di Solo

    GM bB Hadir Diundang Kajari Surabaya

    Jambore Nasional Revolusi Mental di Solo, Jawa Tengah yang dimulai Jumat (25/8/2017) berlangsung meriah. Bahkan, jalanan di kota asal Presiden Republik Indonesia Joko Widodo tersebut sampai macet total.

    read more

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

  • Sunday, 22 October 2017 09:00:03

    Hari Santri Nasional 22 Oktober

    Refleksi, Saatnya Santri Perbanyak Literasi

    Refleksi, Saatnya Santri Perbanyak Literasi Sabtu malam, (21/10/3017), Pimpinan Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sunan Giri Bojonegoro mengadakan "Refleksi Hari Santri" di Pondok Pesantren (PONPES) Al-Ubaidillah, Des Sambiroto, Kecamatan Kapas.

    read more

Info Tabloid bB

  • Friday, 31 July 2015 13:16:10

    Tabloid bB Edisi Juli 2015

    Tabloid bB Edisi Juli 2015 Untuk Edisi Juli 2015, redaksi Tabloid blokBojonegoro ingin menyajikan beberapa hal yang baru, terutama di halaman Investigasi. Dengan tema besar “Awasi Air Saat Musim Kering”…

    read more