17:00 . Karangdayu, Pusat Pengasapan Ikan di Bojonegoro Timur   |   16:00 . Beberapa Anggota Baru Perkuat AMSI Jatim   |   15:00 . 1.326 Pendekar Baru Pagar Nusa Dikukuhkan   |   14:00 . Kedepan, Bojonegoro Akan Bangun Kawasan Ekonomi Kreatif   |   13:00 . Gus Nabil: Jika Tidak Mau Sowan Kepada Kiyai, Silahkan Keluar   |   12:00 . 35 Ribu Peserta Akan Ikuti Upacara Hari Santri   |   11:00 . 'Si Gogor' Ikon Bojonegoro Resmi Dilaunching   |   10:00 . Lha...! Sebagian Lahan SMAN 3 Juga Akan Digusur?   |   09:00 . MoU Bersama, Polri Wajib Ikut Awasi Dana Desa   |   08:00 . Sally: Masyarakat Harus Rencanakan Kehamilan   |   07:00 . Penyebab Wanita Malas Berhubungan Seks Saat Mulai Menua   |   06:00 . Pilih Jalan Tengah, Pihak Bank Ganti Rugi   |   20:00 . PKPT At-Tanwir Gelar Makesta di Ponpes Misbahudin   |   19:00 . IDfos: Banyak Celah Kecurangan Seleksi Perangkat Desa   |   18:00 . Petugas Benahi Tiang Listrik dan Kabel di Pasinan   |  
Sat, 21 October 2017
Jl. Brigjen Sutoyo Gg. Langgar No. 5 Desa Sukorejo, Telp 0353-3412093, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Thursday, 09 March 2017 09:00:03

Perempuan, Kesetaraan dan Kesenjangan yang Tak Disadari

Perempuan, Kesetaraan dan Kesenjangan yang Tak Disadari

Oleh: Nidhomatum MR

Peringatan Hari Perempuan Internasional bagi sebagian perempuan menjadi momen untuk menyuarakan tuntutan akan hak mereka. Ya..bagi para aktivis feminis, 8 Maret menjadi wujud pengingat kebangkitan perempuan dari kungkungan budaya patriarki dan tahapan awal menuntut kesetaraan gender sehingga patut diperingati. Banyak hal dipersiapkan mereka menyambut  peringatan rutin tahunan ini.

Sementara, di sisi lain, pada momen Hari Perempuan Internasional kemarin, tak ada sambutan atau hal-hal khusus yang dilakukan ibu-ibu di lingkungan tempat saya tinggal. Mereka tetap melaksanakan aktivitas harian mereka, mulai momong anak, beli sayur, tak ketinggalan "ngrumpi" di forum rumpi pagi ngobrol sana-sini, tanpa membeber spanduk menyuarakan tuntutan. Bahkan mungkin mereka tak ingat kalau tanggal 8 Maret ditetapkan sebagai hari khusus bagi kaumnya.

Jika dulu feminis menyuarakan terkait kesetaraan kesempatan untuk eksis di ranah publik, saat ini sudah bergeser lebih pada masalah penanganan kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang dialami perempuan, masalah pendidikan dan hal lainnya. Maklum, saat ini peningkatan akses perempuan untuk bekerja di ranah publik sudah terbuka lebar sehingga banyak perempuan memilih berkarir dengan segala konsekuensinya.

Terbukanya akses perempuan untuk berkarir tak lantas meninggalkan masalah. Namun, memunculkan masalah-masalah baru pula, di antaranya soal pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) yang dirasa tak lebih baik dibandingkan perempuan berkarir.

Saya teringat, suatu hari, dalam sebuah obrolan di forum rumpi pagi, (biasa, ibu-ibu kompleks yang suka ikut ngrumpi) seorang ibu menceritakan kesehariannya sebagai IRT dengan segala aktivitasnya mulai bangun pagi, mengurus anak, masak, mencuci dan tetek bengek lainnya ala IRT.

"Aku mah apa, hanya seorang IRT yang pure IRT saja, nggak bisa bantu suami cari uang," ujarnya.

Dari apa yang dikatakan, secara tidak langsung dia menyatakan keminderannya sebagai IRT yang bekerja di ranah domestik dengan segala aktivitas hariannya. Dia merasa, peran sebagai IRT tak lebih baik dari perempuan-perempuan yang memilih bekerja sebagai wanita karir. Dan, diakui atau tidak perasaan seperti ini jamak dirasakan oleh mayoritas perempuan IRT di Indonesia.

Dari sini, masalah yang timbul yakni kenyataan konstruksi sosial yang bergeser dengan anggapan bekerja di ranah domestik sebagai IRT lebih inferior dibandingkan pekerjaan sebagai perempuan karir.  Atau, akhirnya muncul perdebatan mengenai pekerjaan yang lebih afdhol antara keduanya (IRT dan karir) yang berujung pada saling menjatuhkan dengan memaksakan ego atas pilihan masing-masing.

Dengan kata lain, realitas yang terjadi banyak perempuan di luar sana yang berijazah tinggi dan memandang remeh perempuan yang menyimpan ijazahnya untuk menjadi ibu rumah tangga? Begitu pula sebaliknya, menganggap mereka yang memilih berkarir berarti meninggalkan tanggung jawab domestik sebagai seorang Ibu.

Padahal, jika ditelaah, semua pekerjaan baik di ranah domestik maupun publik merupakan sebuah pilihan dengan konsekuensi masing-masing. Perempuan yang berkarir memilih meninggalkan anak dengan pengasuh demi meraih mimpinya, sementara perempuan yang memilih menyimpan ijazah mereka beranggapan anak adalah investasi termahal yang mereka miliki. Keduanya bukanlah suatu masalah.

Kesejajaran pekerjaan sebagai IRT dan karir menjadi masalah ketika konstruksi sosial menganggapnya tak sejajar. Apalagi, di Indonesia pemahaman bahwa perempuan karir lebih "wah" dibandingkan kaum hawa yang memilih sebagai IRT sudah menjadi pandangan umum. Sehingga, diakui atau tidak, jika diberi pilihan, tentu menjadi perempuan karir lebih jadi idaman.

Hal ini jelas berbeda dengan konstruksi sosial di Jepang. Di negeri sakura itu, perempuan lebih memilih sebagai IRT. Tak ayal, Pemerintah Jepang berusaha meningkatkan jumlah perempuan karir dengan alasan percepatan pertumbuhan ekonomi. Nyatanya, hal ini terhalang oleh pandangan umum tentang norma yang berlaku pada masyarakat Jepang.

Ruth Benedict dalam The Chrysanthemum and The Sword Patterns of Japanese Culture (1954) mengungkapkan dalam kebudayaan Jepang, status seorang Ibu tidak hanya terkait kepuasan emosi tapi juga mempengaruhi statusnya dalam keluarga dan di masyarakat.  Hal ini juga berlaku dengan bagaimana dia mengurus masalah rumah tangganya. Semakin sukses perempuan Jepang dalam hal kepengurusan rumah tangga, semakin dipandang "wah" oleh masyarakat di sana.

Norma ini masih berlaku, sehingga dari data yang ada pada 2013, sebanyak 41,6% perempuan berusia 20-an tahun yang telah menikah menilai perempuan seharusnya tinggal di rumah dan mengerjakan tugas-tugas rumah tangga. Persentase itu merupakan peningkatan jika dibandingkan 35,7% responden yang berpendapat sama pada 2003. Ditambahkan, dalam survei yang dilakukan diketahui 2/3 responden berpandangan bahwa selayaknya kaum Ibu cuti berkarir hingga Sang Buah Hati berumur tiga tahun. Stigma ini menunjukkan, tingginya tingkat pendidikan wanita Jepang, tidak menjamin mereka akan menekuni karirnya di dunia kerja.

 Peringatan Hari Perempuan Internasional bagi sebagian perempuan menjadi moment untuk menyuarakan tuntutan akan hak mereka. Ya..bagi para aktivis feminis, 8 Maret menjadi wujud pengingat kebangkitan perempuan dari kungkungan budaya patriarki dan tahapan awal menuntut kesetaraan gender sehingga patut diperingati. Banyak hal dipersiapkan mereka menyambut  peringatan rutin tahunan ini.

Sementara, di sisi lain, pada moment Hari Perempuan Internasional kemarin, tak ada sambutan atau hal-hal khusus yang dilakukan ibu-ibu di lingkungan tempat saya tinggal. Mereka tetap melaksanakan aktivitas harian mereka, mulai momong anak, beli sayur, tak ketinggalan "ngrumpi" di forum rumpi pagi ngobrol sana-sini, tanpa membeber spanduk menyuarakan tuntutan. Bahkan mungkin mereka tak ingat kalau tanggal 8 Maret ditetapkan sebagai hari khusus bagi kaumnya.

Jika dulu feminis menyuarakan terkait kesetaraan kesempatan untuk eksis di ranah publik, saat ini sudah bergeser lebih pada masalah penanganan kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang dialami perempuan, masalah pendidikan dan hal lainnya. Maklum, saat ini peningkatan akses perempuan untuk bekerja di ranah publik sudah terbuka lebar. Sehingga, banyak perempuan memilih berkarir dengan segala konsekuensinya.

Terbukanya akses perempuan untuk berkarir tak lantas meninggalkan masalah. Namun, memunculkan masalah-masalah baru pula, di antaranya soal pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) yang dirasa tak lebih baik dibandingkan perempuan berkarir.

Saya teringat, suatu hari, dalam sebuah obrolan di forum rumpi pagi, (biasa, ibu-ibu kompleks yang suka ikut ngrumpi) seorang ibu menceritakan kesehariannya sebagai IRT dengan segala aktivitasnya mulai bangun pagi, mengurus anak, masak, mencuci dan tetek bengek lainnya ala IRT.

"Aku mah apa, hanya seorang IRT yang pure IRT saja, nggak bisa bantu suami cari uang," ujarnya.

Dari apa yang dikatakan, secara tidak langsung dia menyatakan keminderannya sebagai IRT yang bekerja di ranah domestik dengan segala aktivitas hariannya. Dia merasa, peran sebagai IRT tak lebih baik dari perempuan-perempuan yang memilih bekerja sebagai wanita karir. Dan, diakui atau tidak perasaan seperti ini jamak, dirasakan oleh mayoritas perempuan IRT di Indonesia.

Dari sini, masalah yang timbul yakni kenyataan konstruksi sosial yang bergeser dengan anggapan bekerja di ranah domestik sebagai IRT lebih inferior dibandingkan pekerjaan sebagai perempuan karir.  Atau, akhirnya muncul perdebatan mengenai pekerjaan yang lebih afdhol antara keduanya (IRT dan karir) yang berujung pada saling menjatuhkan dengan memaksakan ego atas pilihan masing-masing.

Dengan kata lain, realitas yang terjadi banyak perempuan di luar sana yang berijazah tinggi dan memandang remeh perempuan yang menyimpan ijazahnya untuk menjadi ibu rumah tangga? Begitu pula sebaliknya, menganggap mereka yang memilih berkarir berarti meninggalkan tanggung jawab domestik sebagai seorang Ibu.

Padahal, jika ditelaah, semua pekerjaan baik di ranah domestik maupun publik merupakan sebuah pilihan dengan konsekuensi masing-masing. Perempuan yang berkarir memilih meninggalkan anak dengan pengasuh demi meraih mimpinya, sementara perempuan yang memilih menyimpan ijazah mereka beranggapan anak adalah investasi termahal yang mereka miliki. Keduanya bukanlah suatu masalah.

Kesejajaran pekerjaan sebagai IRT dan karir menjadi masalah ketika konstruksi sosial menganggapnya tak sejajar. Apalagi, di Indonesia pemahaman bahwa perempuan karir lebih "wah" dibandingkan kaum hawa yang memilih sebagai IRT sudah menjadi pandangan umum. Sehingga, diakui atau tidak, jika diberi pilihan, tentu menjadi perempuan karir lebih jadi idaman.

Hal ini jelas berbeda dengan konstruksi sosial di Jepang. Di negeri sakura itu, perempuan lebih memilih sebagai IRT. Tak ayal, Pemerintah Jepang berusaha meningkatkan jumlah perempuan karir dengan alasan percepatan pertumbuhan ekonomi. Nyatanya, hal ini terhalang oleh pandangan umum tentang norma yang berlaku pada masyarakat Jepang.

Ruth Benedict dalam The Chrysanthemum and The Sword Patterns of Japanese Culture (1954) mengungkapkan dalam kebudayaan Jepang, status seorang Ibu tidak hanya terkait kepuasan emosi tapi juga mempengaruhi statusnya dalam keluarga dan di masyarakat.  Hal ini juga berlaku dengan bagaimana dia mengurus masalah rumah tangganya. Semakin sukses perempuan Jepang dalam hal kepengurusan rumah tangga, semakin dipandang "wah" oleh masyarakat di sana.

Norma ini masih berlaku, sehingga dari data yang ada pada 2013, sebanyak 41,6% perempuan berusia 20-an tahun yang telah menikah menilai perempuan seharusnya tinggal di rumah dan mengerjakan tugas-tugas rumah tangga. Persentase itu merupakan peningkatan jika dibandingkan 35,7% responden yang berpendapat sama pada 2003. Ditambahkan, dalam survei yang dilakukan diketahui 2/3 responden berpandangan bahwa selayaknya kaum Ibu cuti berkarir hingga Sang Buah Hati berumur tiga tahun. Stigma ini menunjukkan, tingginya tingkat pendidikan wanita Jepang, tidak menjamin mereka akan menekuni karirnya di dunia kerja.

Terakhir, dengan perbandingan antara dua kebudayaan yang ada, sebenarnya masalah perdebatan terkait lebih baik mana antara perempuan IRT dan perempuan karir tergantung bagaimana stigma masyarakat melabeli keduanya. Yang jelas, jangan sampai perjuangan kesetaraan atas dominasi laki-laki, ternyata secara  tanpa disadari malah menciptakan kesenjangan atas kaumnya sendiri (dengan perdebatan yang berkepanjangan antara IRT dan karir). Salam.

Ilustrasi: futuready.com
 


Kolom

Video bB

Redaksi

  • Friday, 25 August 2017 14:30:19

    Jambore Nasional Revolusi Mental di Solo

    GM bB Hadir Diundang Kajari Surabaya

    Jambore Nasional Revolusi Mental di Solo, Jawa Tengah yang dimulai Jumat (25/8/2017) berlangsung meriah. Bahkan, jalanan di kota asal Presiden Republik Indonesia Joko Widodo tersebut sampai macet total.

    read more

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

  • Wednesday, 04 October 2017 06:00:00

    Laporan dari Tiongkok (4)

    Berburu Rumah Makan Indonesia di Tiongkok

    Berburu Rumah Makan Indonesia di Tiongkok Disela-sela mengikuti The 22ND Annual Conference And General Meeting Of The International Association Of Presecutors di Beijing 11-15 September 2017 lalu, saya menyempatkan diri berburu rumah makan Indonesia di Tiongkok. Maklum selama konferensi lidah saya belum bisa sepenuhnya menerima menu lokal. Jadi selalu kangen rawon…

    read more

Info Tabloid bB

  • Friday, 31 July 2015 13:16:10

    Tabloid bB Edisi Juli 2015

    Tabloid bB Edisi Juli 2015 Untuk Edisi Juli 2015, redaksi Tabloid blokBojonegoro ingin menyajikan beberapa hal yang baru, terutama di halaman Investigasi. Dengan tema besar “Awasi Air Saat Musim Kering”…

    read more