19:00 . Ha....Bawang Merah 'Palsu' Sempat Beredar di Bojonegoro   |   18:00 . KPUD: Logistik Pilkada Sudah Tersalurkan ke Tiga Daerah Terpencil   |   17:00 . PPDB Offline Jalur Prestasi Dibuka Hari Ini   |   16:00 . RJJ Segera Mulai Pembukaan Lahan Pipa Gas GPF JTB   |   15:00 . Beredar Bawang Merah Palsu, Masyarakat Harus Jeli   |   14:00 . Ijazah SD Ditandatangani Kasek yang Merangkap, ini Kata Disdik   |   13:00 . Pasca Lebaran, Masyarakat Bojonegoro Ramai-ramai Cari Kerja   |   12:00 . Pipa PDAM di Ngunut Bocor, Distribusi Terganggu   |   11:00 . Cabdindik Bojonegoro Gelar Halal Bil Halal   |   10:00 . Gandeng Muslimat NU, MPR RI Kuatkan 4 Pilar   |   09:00 . Keluar Zona Nyaman, Dulu Model Kini Jadi Perias Profesional   |   08:00 . Hari Tenang, Panwakab Awasi Money Politik   |   07:00 . 7 Bahan Alami untuk Mengatasi Kulit Kepala Kering   |   20:00 . Berat, Inilah Lawan Bojonegoro FC U-17 di Grup J   |   19:00 . Masa Tenang, Satpol PP Bersihkan APK   |  
Tue, 26 June 2018
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Thursday, 17 May 2018 09:00:03

Teroris 'Di Dalam Rumah Kita'

Teroris 'Di Dalam Rumah Kita'

Oleh: Ichwan Arifin*

Saat Al Qaeda melakukan aksi teror di berbagai belahan dunia, sebagian dari kita mungkin menganggap peristiwa itu nun jauh di sana. Saat Al Qaeda surut dan berganti dengan “Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL)” atau “Islamic State of Iraq and Syria (ISIS)”, pandangan itu relatif tidak berubah.

Masyarakat terhenyak saat terjadi serangkaian aksi teror bom di Indonesia mulai dari JW Marriot, 2003 kemudian bom di Kedubes Australia, Bom Bali I & II, JW Marriot dan Ritz Carlton hingga Bom Thamrin Jakarta, 2016. Semua pihak prihatin, pemimpin politik, agama dan kelompok masyarakat lainnya, mengecam dan mengutuk keras.

Namun, sebagian lain secara tidak sadar masih menganggap teror tersebut seolah terjadi “di halaman rumah”, dan tidak akan sampai “ke dalam rumah”. Setelah aksi teror mereda, seakan usai sudah keprihatinan tersebut. Namun melihat serangkaian aksi teror baru-baru ini, semua pihak harus memaknai bahwa terorisme itu sudah berada “di dalam rumah kita”.  

Belum hilang rasa pedih atas gugurnya 5 anggota Polri dalam kerusuhan napi teroris (napiter) di rumah  tahanan (rutan) cabang Salemba, Kompleks Mako Brimob Jakarta pada 8-10 Mei 2018, susulan aksi teror terjadi di Surabaya. Pada 13 Mei, tiga gereja menjadi sasaran teror bom bunuh diri, menelan korban tewas hingga 10 orang, luka-luka sebanyak 40 orang.

Kita kembali terhenyak, Surabaya selama ini dikenal sebagai kota bisnis yang damai menjadi sasaran teror. Lebih menghentakkan, aksi bom bunuh diri diduga dilakukan oleh satu keluarga. Lebih memprihatinkan lagi, kali ini melibatkan perempuan dan anak-anak. Belum hilang rasa kaget, menyusul ledakan di rumah terduga teroris di Sidoarjo, dan serangan bom ke kantor Polrestabes Surabaya, 14 Mei.

Selama ini, pemerintah dan aparatusnya telah bekerja keras memberantas terorisme, baik melalui tindak persuasif seperti program de-radikalisasi dan represif, seperti penangkapan pelaku teror. Lepas dari perdebatan efektifitas dan hasilnya, terorisme seperti patah tumbuh hilang berganti.

Dari sisi teori, beragam pakar terorisme melakukan analisis. Diantaranya menengarai perubahan pola dari aksi teror sistematik, dikendalikan oleh satu jaringan dengan struktur komando hirarkis (misalnya bom Bali), berubah menjadi aksi tunggal dilakukan sel-sel teroris yang bergerak lepas.

Fenoma ini dikenal dengan istilah “Leaderless Resistance atau Phantom Cell Structure”. Pelakunya disebut “Lone Wolf”, kelompok tersebut bisa “berbaiat” pada ideologi atau pemimpin yang sama, namun memiliki kemandirian dalam melakukan aksi. Hal yang kadang tidak disadari, sel-sel tersebut dapat saja menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari.

Apa yang mesti dilakukan sebagai masyarakat awam? Pertama, menjadi konsumen informasi yang cerdas. Saat ini, kemajuan teknologi membuat arus informasi sedemikian deras dan dapat diakses dengan mudah oleh setiap orang. Namun, limpahan informasi tidak selalu sejalan dengan limpahan pengetahuan.

Di sana juga banyak informasi palsu dan sengaja disebarkan. Penyesatan informasi menjadi bagian aksi teror. Karena itu, setiap informasi perlu diverifikasi dan diselami kebenarannya.  

Ke dua, menghindarkan tumbuhnya fanatisme buta pada suatu ajaran (agama, ideologi, dan sebagainya) dan kepatuhan absolut pada pemimpin. Misalnya, bagi kalangan tertentu kepatuhan dan keyakinan kebenaran atas ajaran agama menjadi ukuran keimanan, namun menjadi kontraproduktif bagi relasi antar masyarakat ketika keyakinan pribadi tersebut dipaksakan pada orang lain. 

Dalam konteks ini, termasuk menyikapi para pendapat para tokoh.  Tidak semua komentar dan pendapat para tokoh didasarkan kajian dan data memadai. Komentar “asal bunyi” lebih didorong motif kepentingan pragmatis daripada ungkapan rasa keprihatinan maupun kritik konstruktif.

Sikap ini perlu ditanamkan sejak dini. Pelaku teror tidak tumbuh secara instan, namun hasil indoktrinasi intensif berkelanjutan, melalui lembaga pendidikan formal, informal dan interaksi di komunitas-komunitas tertentu. Benih-benih radikalisme bomber Surabaya sudah muncul sejak sekian tahun silam.

Terakhir, kita perlu memahami bahwa Indonesia beserta kota dan kampungnya serta kehidupannya adalah rumah kita. Konsep tersebut menumbuhkan kesadaran diri untuk menjaga dan merawatnya, tidak hanya bersifat bangunan fisik namun juga interaksi sosial.

Bukan lantas menumbuhkan kecurigaan, namun berupaya lebih mengenal tetangga dan komunitas dimana kita tinggal. Mencegah aksi teror berulang adalah tanggungjawab kita semua. Partisipasi masyarakat dapat dimulai dengan melakukan hal diatas. Sebagaimana dikemukakan Noam Chomsky, “everybody’s worried about stopping terrorism. Well, there’s a really easy way; stop participating in it.”

*Penulis merupakan Ketua Gerakan Kibar Indonesia.
 


Kolom

Video bB

Redaksi

  • Friday, 15 June 2018 01:00:00

    Selamat Hari Raya Idul Fitri

    Selamat Hari Raya Idul Fitri Tak terasa Ramadan begitu cepat waktu berlalu. Masih teringat saat salat Tarawih pertama kita, makan sahur dan berbuka puasa pertama kita.

    read more

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Info Tabloid bB

  • Friday, 31 July 2015 13:16:10

    Tabloid bB Edisi Juli 2015

    Tabloid bB Edisi Juli 2015 Untuk Edisi Juli 2015, redaksi Tabloid blokBojonegoro ingin menyajikan beberapa hal yang baru, terutama di halaman Investigasi. Dengan tema besar “Awasi Air Saat Musim Kering”…

    read more