19:00 . Ha....Bawang Merah 'Palsu' Sempat Beredar di Bojonegoro   |   18:00 . KPUD: Logistik Pilkada Sudah Tersalurkan ke Tiga Daerah Terpencil   |   17:00 . PPDB Offline Jalur Prestasi Dibuka Hari Ini   |   16:00 . RJJ Segera Mulai Pembukaan Lahan Pipa Gas GPF JTB   |   15:00 . Beredar Bawang Merah Palsu, Masyarakat Harus Jeli   |   14:00 . Ijazah SD Ditandatangani Kasek yang Merangkap, ini Kata Disdik   |   13:00 . Pasca Lebaran, Masyarakat Bojonegoro Ramai-ramai Cari Kerja   |   12:00 . Pipa PDAM di Ngunut Bocor, Distribusi Terganggu   |   11:00 . Cabdindik Bojonegoro Gelar Halal Bil Halal   |   10:00 . Gandeng Muslimat NU, MPR RI Kuatkan 4 Pilar   |   09:00 . Keluar Zona Nyaman, Dulu Model Kini Jadi Perias Profesional   |   08:00 . Hari Tenang, Panwakab Awasi Money Politik   |   07:00 . 7 Bahan Alami untuk Mengatasi Kulit Kepala Kering   |   20:00 . Berat, Inilah Lawan Bojonegoro FC U-17 di Grup J   |   19:00 . Masa Tenang, Satpol PP Bersihkan APK   |  
Tue, 26 June 2018
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Tuesday, 24 April 2018 15:00:18

Sriyati, Perempuan Pande Besi

Berawal dari Kebiasaan, Kini Lihai Jadi Tukang Besi

Berawal dari Kebiasaan, Kini Lihai Jadi Tukang Besi

Reporter: Muhammad Qomarudin

blokBojonegoro.com - Pekerjaan sebagai perajin pande besi biasanya dilakukan oleh kaum lelaki lantaran membutuhkan tenaga yang sangat kuat. Namun, ungkapan tersebut terbantahkan oleh Sriyati, warga Desa Kedaton, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro.

Perempuan 60 tahun ini bisa dikatakan sebagai perempuan tangguh. Sebab dirinya tidak mengenal lelah apalagi berpikir tentang perawatan seperti perempuan masa kini pada umumnya.

Dengan ditemani palu, besi, gerinda dan lain-lainya kegigihan Sriyati tidak kalah dengan tiga pegawai lainnya yang semuanya laki-laki. Bahkan, seolah-olah pekerjaan tersebut menjadi hal yang biasa dikerjakan oleh kaum hawa.

"Saya bekerja sebagai seorang pande besi sekitar 15 tahun lebih lamanya," ungkap Sriyati di sela-sela kesibukannya.

Setelah menikah dengan Masrun (55), Sriyati mulai sering membantu suaminya bekerja sebagai pande besi. Pertama kali membantu suaminya bekerja, ia hanya mendapat bagian membuat alat pertanian, seperti sabit, cangkul, sekrop maupun lainnya. Namun lambat laun kemudian, dirinya mulai bisa mengerjakan semua dari proses awal sampai akhir.

"Mulai pemotongan, pembakaran, pemukulan, gerinda, ngikir, dan nyepuh atau finishing, dan membuat gangang sabit," lanjut perempuan empat anak ini.

Ia juga menjelasakan, setiap pembuatan alat mempunyai cara yang berbeda dan tidak sembarangan memukulnya. Seperti halnya pembuatan pisau harus lima kali pukulan, sabit tujuh kali, dan golok delapan kali pukulan. Sebab, hal tersebut akan mempengaruhi kualitas barang itu jika sudah jadi.

Sriyati rela menjadi seorang pande besi lantaran lebih memilih membantu suaminya yang lebih dulu bekerja sebagai pande besi dan juga sebagai pemilik tempat tersebut. Pria berusia lebih muda lima tahun dari istrinya itu terlihat lihai membuat sejumlah alat pertanian dan bangunan.

"Saya membantu suami saya untuk membiayai anak-anak saya hingga lulus sekolah ya dari hasil kerja keras ini," tuturnya kepada blokBojonegoro.com.

Dalam sehari dari empat pekerja yang ada, usahanya tersebut bisa memproduksi dua puluh lima sabit. Dengan satu unit sabit seharga Rp25.000, golok Rp60.000 dan cangkul Rp80.000. Tetapi harga tersebut dijual untuk eceran dan berbeda lagi jika dijual kepada pedagang.

"Kalau pedagang saya potong Rp20.000 per buah dan bahan bagus, karena bahan-bahanya juga pilihan," tutupnya.[din/lis]


Profil & Humaniora

Video bB

Redaksi

  • Friday, 15 June 2018 01:00:00

    Selamat Hari Raya Idul Fitri

    Selamat Hari Raya Idul Fitri Tak terasa Ramadan begitu cepat waktu berlalu. Masih teringat saat salat Tarawih pertama kita, makan sahur dan berbuka puasa pertama kita.

    read more

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Info Tabloid bB

  • Friday, 31 July 2015 13:16:10

    Tabloid bB Edisi Juli 2015

    Tabloid bB Edisi Juli 2015 Untuk Edisi Juli 2015, redaksi Tabloid blokBojonegoro ingin menyajikan beberapa hal yang baru, terutama di halaman Investigasi. Dengan tema besar “Awasi Air Saat Musim Kering”…

    read more