19:00 . Tradisi Gumbreg, Usir Tikus Ala Masyarakat Desa Sidorejo   |   18:00 . Basuki Temu Kangen Bersama Alumni SMPN Dander   |   17:00 . Diduga Konsleting Listrik, 3 Rumah Warga Sudu Terbakar   |   16:00 . Persibo, Marwah dan Kebanggaan   |   15:00 . Kang Yoto: PNS Harus Pandai Atur Keuangan   |   14:00 . Ajang Silaturahim, Gebyar Maulid dan Pawai Ta'aruf Meriah   |   13:00 . Kompak, Siswa PSHT Bubulan Kerja Bakti Bangun Jalan   |   12:00 . DPU: Kami Sudah Mengingatkan Rekanan, Tapi Diabaikan   |   11:00 . UN Paket B dan C Diwacanakan Berbasis Komputer Tahun Depan   |   10:00 . Wakapolres Resmi Buka Drumband Competition   |   09:00 . Rawan Bencana, Sekcam Dander Imbau Masyarakat Waspada   |   08:00 . Ribuan Masyarakat Antusias Saksikan Lomba Drumband di GOR Dander   |   07:00 . Bahaya Tersembunyi Diet Rendah Karbo   |   00:00 . Lagu Akad jadi Penutup Acara Jazz Bengawan   |   23:00 . Selain ke PSSI, Manajemen Juga Melapor ke Menpora   |  
Sun, 17 December 2017
Jl. Brigjen Sutoyo Gg. Langgar No. 5 Desa Sukorejo, Telp 0353-3412093, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Wednesday, 04 October 2017 06:00:00

Laporan dari Tiongkok (4)

Berburu Rumah Makan Indonesia di Tiongkok

Berburu Rumah Makan Indonesia di Tiongkok

Pengirim: Didik Farkhan Alisyahdi*

blokBojonegoro.com - Disela-sela mengikuti The 22ND Annual Conference And General Meeting Of The International Association Of Presecutors di Beijing 11-15 September 2017 lalu, saya menyempatkan diri berburu rumah makan Indonesia di Tiongkok. Maklum selama konferensi lidah saya belum bisa sepenuhnya menerima menu lokal. Jadi selalu kangen rawon dan pecel.
 
Hasil perburuan, ternyata tidak banyak orang yang menjual makanan asli Indonesia di daratan Tiongkok. Lebih banyak rumah makan Thailand atau Malaysia. Saya hanya menemukan dua rumah makan Indonesia di Beijing dan satu rumah makan di Shanghai.
 
Ketika di Beijing saya menemukan rumah makan "Nom Nom" dan Resto Padang. Karena keterbatasan waktu, saya hanya sempat makan di Nom-Nom di daerah Liu Dao Kou, distrik Hai Dian. Sementara Resto Padang yang berada daerah San Li Tun di distrik Chao Yang, saya hanya sempat lewat saja.
 
Rumah makan Nom-nom menempati sebuah komplek ruko. Tempatnya kecil hanya bisa menampung maksimal 20 orang. Kalau di Indonesia lebih cocok disebut depot. Karena kelasnya diatas warung, tapi dibawah rumah makan.
 
Di kalangan WNI di Beijing depot Nom-nom sangat terkenal. Terutama mahasiswa asal Indonesia. Dapat dipastikan mereka pernah makan di sana. Maklum disamping enak, harga makanan di Nom Nom cocok dengan kantong mahasiswa. Lebih murah daripada Resto Padang.
 
Saya dan rombongan tahu tempat itu juga karena info sang guide kami, Agris. WNI yang baru saja lulus dari University Of International Business And Economics (UIBE) Beijing. Dia dan teman-teman kuliahnya asal Indonesia adalah pelanggan tetap rumah makan Nom Nom. 
 
Saat saya dan rombongan delegasi Persatuan Jaksa Indonesia (PJI) tiba di depot Nom Nom sekitar jam 16.00. Ternyata tempatnya penuh. Ada sekitar 12 mahasiswa lokal (Tiongkok) selesai menikmati makanan. Begitu saya dan rombongan mau masuk mereka tahu diri dan langsung "bubar". 
 
Bagi saya dan rombongan begitu ketemu masakan Indonesia rasanya langsung nafsu. Bisa dibilang "kemaruk".  Semua menu yang ada langsung dipesan untuk makan bareng-bareng. Mulai dari Soto ayam, bala-bala, ayam geprek, ayam kremes, sampai cap jai dipesan.
 
Rumah makan khas Indonesia itu ternyata dikelola suami istri pasangan gado-gado asal Indonesia dan Singapura. Si istri namanya Cicik bersuamikan warga negara Singapura. Mereka bersatu padu mengelola rumah makan itu. Mereka dibantu dua adik Cicik dari Indonesia. Pasangan itu sehari-hari turut memasak dan melayani pembeli.
 
Saat kami makan, datang sepasang mahasiswa. Si cowok tampang Indonesia sementara si Cewek tampang Lokal. Benar, si cowok rupanya mahasiswa S2 asal Bandung lagi nraktir pacarnya yang asli Mongolia. Saya godain mereka, "Lagi pamer masakan Indonesia ya Mas," kata saya sambil tertawa.
 
Setelah makan di Nom-Nom kami sempatkan lihat Resto Padang. Karena habis makan, saya tidak mampir karena masih kenyang. Hanya lewat saja. Tempatnya lebih berkelas dibanding Nom-nom. "Yang makan di sini orang kelas menengah atas atau businessman yang sedang meeting," kata Agris.
 
Perburuan rumah makan khas Indonesia kembali saya lakukan ketika mampir ke kota Shanghai. Ya, kebetulan kami memilih pulang ke Jakarta lewat rute Beijing-Shanghai-Jakarta. Kami ingin merasakan kereta "cepat" Beijing-Shanghai.
 
Meski hanya sehari di Shanghai, saya dan rombongan langsung menanyakan tempat rumah makan khas Indonesia. Dengan bekal info dari google saya menemukan alamat Rumah makan Bali distro. Ya namanya memang Bali bukan Indonesia Distro. Mungkin pemilihan brand ini karena Bali lebih terkenal dibanding Indonesia.
 
Melihat rumah makan Bali Distro ini, menurut saya sudah katagori kelas Restoran papan atas. Lumayan mewah dan ikonik. Di dalamnya banyak dipajang benda-benda antik se-indonesia. Tapi paling dominan benda-benda khas Bali. Sesuai namanya.
 
Di lantai bawah khusus digunakan untuk cafe Bali. Sementara untuk tempat makan ada di lantai dua. Saat naik tangga lantai dua saya melihat foto dan tanda tangan mantan presiden SBY ditempel di dinding Bali Distro. Saya tidak tahu apakah tanda tangan itu "diteken"  saat peresmian atau saat Pak SBY mampir makan di sini.
 
Makan di Bali distro suasana memang dibuat se-Indonesia mungkin. Musik yang diputar juga lagu-lagu Indonesia. Ada suara padi, Dewa 19, Coklat, Pinkan Mambo dan semua lagu band terkenal Indonesia diputar terus non stop sampai Resto tutup.
 
Soal menu? Wow....semua masakan Indonesia ada. Lengkap. Mulai dari yang populer di Jawa: soto ayam, sate, pecel, nasi uduk, nasi goreng, gado-gado, penyetan, mi godok, lontong sayur, tahu telor, ote-ote, bakwan jagung. Khas bali: ayam atau bebek betutu, empek-empek Palembang atau Batagor Bandung tersedia. Ayo mau pesan semua lagi? Ngga lah he he.
 
Semua pegawai di Bali Distro yang perempuan berkebaya. Yang laki-laki pakai pakaian Bali. Ada pegawai lokal, tapi mayoritas mahasiswa Indonesia yang kuliah di Shanghai ambil part time. Sehingga penampilan pelayan Bali Distro sangat terpelajar.
 
"Saya asal Wonogiri, saat ini menempuh S1 di sini. Sengaja kalau malam ada waktu kosong saya ikut kerja di Bali Distro," kata Suprobo Dewi ketika mengantar pesanan makanan kami sambil menjelaskan tiga temannya yang malam itu kerja juga semuanya mahasiswa.
 
Dari Suprobo Dewi itu saya tahu informasi kalau malam sebelumnya Bali Distro penuh tamu. Ada rombongan 40 Polisi Indonesia yang sedang studi banding ke Shanghai. "Tempat ini jujukan dan tempat berkumpulnya WNI yang berada di Shanghai," jelas Suprobo.
 
Bagaimana rasa masakan Bali Distro? Wow...semuanya enak. Semua yang kami pesan habis tidak tersisa. Bahkan kami tambah pesanan untuk dibungkus. Di Bawa ke Hotel. Untuk apa? Untuk sarapan pagi. Kemaruk memang di negeri orang ketemu makanan Indonesia, he he (Kang DF).
 
*Pengirim: Kepala Kejaksaan Negeri Surabaya

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Video bB

Redaksi

  • Tuesday, 05 December 2017 10:00:00

    Sah, Nevi bT Lepas Lajang

    Sah, Nevi bT Lepas Lajang Keluarga besar blokMedia Group (blokTuban.com dan blokBojonegoro.com) berbahagia pada Senin (4/12/2017) malam. Pasalnya, admin perusahaan yakni Ria Nevitasari telah melepas lajang setelah dipersunting Syaikhul Umam.

    read more

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

  • Monday, 11 December 2017 21:00:18

    KAJAT: Sarana Kembangkan Keilmuan Mahasiswa

    Dalam rangka menambah wawasan keilmuan, Pengurus Himpunan Mahasiswa Program Studi (Himaprodi) Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam (IAI) Sunan Giri Bojonegoro gelar kajian bermanfaat (KAJAT) yang bertempat di Aula PCNU Bojonegoro. Senin, (11/12/2017).

    read more

Info Tabloid bB

  • Friday, 31 July 2015 13:16:10

    Tabloid bB Edisi Juli 2015

    Tabloid bB Edisi Juli 2015 Untuk Edisi Juli 2015, redaksi Tabloid blokBojonegoro ingin menyajikan beberapa hal yang baru, terutama di halaman Investigasi. Dengan tema besar “Awasi Air Saat Musim Kering”…

    read more