07:00 . Jangan Panik, Ini Sebab Bayi Cegukan dan Cara Menghentikannya   |   20:00 . Pelaksana Desa Dander dan Ngunut Gelar FGD Program Penataan Sumber Air Bagi Masyarakat   |   19:00 . HJB ke-344, Nakes Puskesmas Temayang Terima Penghargaan   |   15:00 . Capaian Kinerja Pemkab Bojonegoro Terus Meningkat   |   14:00 . Beda Indikator, Penilaian Level Covid-19 di Bojonegoro Berbeda   |   12:00 . Hari Jadi Bojonegoro, Kejaksaan Negeri Terima Penghargaan dari Pemkab   |   10:00 . Bupati Beri Penghargaan Instansi, OPD Hingga Instansi Terbaik di Hari Jadi Bojonegoro 343   |   07:00 . Studi Buktikan Lingkungan Hijau dapat Meningkatkan Kesehatan Mental Anak   |   06:00 . 5 Wilayah di Jatim Level 1, ini Aturan Baru dalam PPKM   |   21:00 . Resmikan Wisata Religi, Gus Ali Berziarah ke Makam Yek Ali di Sumberejo   |   20:00 . Peringkat Hasil SKD Pemkab Bojonegoro Masih Tunggu Instruksi BKN Pusat   |   19:00 . KADIN Bojonegoro Goes to Campus, Podcast di 2 Tempat   |   18:00 . Yuk...! Ikuti Webinar Cerdas dan Bijak dalam Bermedia Sosial   |   17:00 . Desa Pilanggede Raih Penghargaan Tropi Proklim Utama dari KLHK   |   16:00 . Naik Tipis! Harga Emas Antam 24 Karat Dijual Rp915.000   |  
Thu, 21 October 2021
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Banjir, Tak Bisa Cari Ikan, Nelayan Cari 'Sarah'

blokbojonegoro.com | Monday, 11 March 2019 09:00

Banjir, Tak Bisa Cari Ikan, Nelayan Cari 'Sarah'

Kontributor: Maulina Alfiyana

blokBojonegoro.com - Akibat debit air bengawan solo naik dan sempat membanjiri beberapa wilayah yang ada di bantaran sungai, membuat aktivitas warga kampung nelayang di Dukuh Kendal, Desa Kabalan, Kecamatan Kanor yang sehari-hari mencari ikan sempat terhenti.

Karena saat air bengawan naik, tidak memungkinkan para nelayan menyisir Bengawan untuk mencari ikan, sehingga aktivitas mencari ikan di kampung nelayan terpaksa berhenti.

Agar asap dapur tetap mengepul, para nelayan mencari alternatif lain untuk mencari pundi-pundi rupiah, yaitu dengan cara mencari sarah (kayu yang hanyut terbawa air bengawan solo). Setelah kayu-kayu tersebut terkumpul banyak, mereka lalu membagi tiap ikat dan menjual kepada masyarakat sekitar.

"Mencari sarah tersebut bisa dikatakan sebagai pengganti mencari ikan yang terhenti selama air Bengawan belum surut," jelas Burhan, salah satu nelayan, Senin (11/3/2019).

Ia menjelaskan, pada waktu air Bengawan Solo sedang meluap banyak sekali sarah yang ikut hanyut, dan memang sudah tradisi para nelayan Dukuh Kendal mencari sarah pada saat banjir tiba.

"Kami mencari sarah cukup di sekitar Bengawan yang melintasi desa, dengan menggunakan perahu yang biasa kami pakai untuk mencari ikan," jelasnya.

Terpisah, salah satu pembeli kayu bakar, Didin mengaku sudah menjadi langganan setiap banjir tiba membeli sarah di nelayan.

"Harganya murah hanya Rp5.000 per ikat, dan kayu pun juga awet ketika dibuat kaya bakar untuk memasak," ucapnya kepada blokBojonegoro. [lin/mu]

Tag : banjir, kampung nelayan, nelayan, pencari ikan, sarah



* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat