12:00 . Gerbong Mutasi Bergulir, Dua Kabag dan Satu Kasat Diganti   |   09:00 . Momentum 1 Abad NU, MUI Bojonegoro: Ikon Utuhnya NKRI   |   08:00 . JTB Dikembangkan Pertamina EP Cepu Resmi Salurkan Energi Jatim dan Jateng   |   07:00 . 5 Cara Mengatasi Perasaan Insecure agar Lebih Percaya Diri   |   20:00 . Munajat di Makam Syaikhona Kholil Bangkalan   |   19:00 . Ijazahan Manaqib Jawahirul Ma'ani   |   18:00 . Manaqib Taman Sholaya Ziarah dan Ijazahan Jawahirul Ma'ani   |   14:00 . Menteri ESDM: Penerimaan Negara dari Lapangan Gas JTB Rp23,1 Triliun   |   13:00 . Wapres Sampaikan 4 Strategi Tingkatkan Pemanfaatan Migas di Era Transisi Energi   |   12:00 . Tekan Tombol Sirine, Wapres Ma'ruf Amin Resmikan Lapangan Gas JTB   |   11:00 . 4 Pemotor di Sumberrejo Tertabrak Bus Bojonegoro-Surabaya   |   10:00 . Tari Geleng Ro'om Sambut Wapres Ma'ruf Amin   |   08:00 . Sah..! Didik Farkhan Dilantik Jadi Kajati Banten   |   07:00 . 7 Cara Elegan Menyikapi Atasan Toxic, Jangan Buru-buru Resign!   |   06:00 . Inilah Lirik Ulama Bergerak dari Slank   |  
Thu, 09 February 2023
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Panen Telat, Harga Tembakau Anjlok

blokbojonegoro.com | Friday, 01 November 2019 10:00

Panen Telat, Harga Tembakau Anjlok

Reporter: M. Safuan

blokBojonegoro.com - Turunnya harga jual daun tembakau di tingkat petani, diklaim oleh Dinas Pertanian (Disperta) Bojonegoro. Hal itu disebabkan beberapa faktro, diantaranya sudah lewat masa panen tembakau, juga bisa karena ada ulah dari tengkulak.

Kasi Tanaman Rempah dan Empon-empon, Dinas Pertanian (Disperta) Bojonegoro, Bambang Wahyudi mengatakan, tanaman tembakau yang masih ada tinggal di spot-spot tertentu, dimana petani tembakau tersebut saat tanam masuk yang belakangan, padahal panen raya tembakau sendiri sudah lewat beberapa bulan lalu.

"Jadi petani tembakau yang masih memanen saat ini pastinya harganya turun," ujar Bambang sapaan akrabnya.

Selain itu, anjloknya harga tersebut bisa diakibatkan karena adanya permainan  tengkulak, sehingga petani tembakau hanya pasrah saat hasil tembakau dibeli.

Terpisah, Nyaidi, salah satu tengkulak mengaku harga jual daun tembakau turun drastis sejak 1 bulan terakhir. Padahal sebelumya harga jualnya bisa Rp2.700 hingga Rp3.000 perkilo gram. Namun saat ini harga jual tembakau paling mahal hanya sekitar Rp1.200.

"Usai membeli daun tembakau ini langsung dibawa di Kedungadem untuk di oven, sebelum dijual kembali," cakapnya saat ditemui blokBojonegoro.com.

Dari data yang diperoleh blokBojonegoro.com, total luas lahan tembakau yang ada di Bojonegoro tahun 2019 ini 11.210 ribu hektar, jumlah itu tersebar di 18 kecamatan. Rata-rata lahan  tembakau yang ditanam di Bojonegoro ada 3 jenis yakni tembakau Virginia, RAM dan Jawa. [saf/mu]

Tag : tembakau, disperta, harga jual tembakau



* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

  • Tuesday, 24 January 2023 08:00

    Manfaat Belajar Matematika

    Manfaat Belajar Matematika Matematika adalah ilmu pengetahuan yang banyak membahas tentang angka dan bilangan. Materinya yang sulit dipahami dan banyaknya rumus yang harus diingat, membuat tidak semua orang menyukai matematika, bahkan membencinya. Dibutuhkan...

    read more

Lowongan Kerja & Iklan Hemat

  • Friday, 23 December 2022 12:00

    Pengumuman Lelang Terbuka

    Pengumuman Lelang Terbuka Dalam rangka pelaksanaan kegiatan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan, PT. Asri Dharma Sejahtera Tahun 2022, dengan ini tim pengadaan jasa kontruksi melakukan lelang terbuka dengan kualifikasi pekerjaan sebagai berikut...

    read more