18:00 . Workshop Peningkatan Mutu dan Peran Komite Sekolah Diikuti 152 Peserta   |   14:00 . PPKD Gelar Raker Tahun 2021 di Toyoaji   |   12:00 . PK Ditolak, Persibo Bojonegoro Tuntut Keadilan Lewat PSSI Pusat   |   08:00 . Kabar Gunung Semeru, Presiden akan Relokasi Warga   |   07:00 . 2 Kesalahan Pola Asuh yang Sering Dilakukan Orangtua Zaman Now   |   22:00 . Mendag Lutfi: Bisnis Waralaba Sukses Beradaptasi di Masa Pandemi Covid-19, Menjadi Tuan Rumah dan Kuasai Pasar Negeri   |   21:00 . Satpol PP Bojonegoro Raih Penghargaan dari Kemendagri   |   20:00 . Pemkab Bojonegoro Gelar Sosialisasi Pemekaran Desa Sukorejo   |   19:00 . Persibo Ajukan PK, Laga Mitra Surabaya kontra Deltras Sidoarjo Ditunda   |   18:30 . Selamat..! Ponpes Attanwir Dapat Penghargaan Eco Pesantren dari Gubernur Jatim   |   18:00 . Awas...!! Tanggul Bengawan Solo Ambles   |   16:00 . Media Gathering EMCL, Ajak Wartawan Menjadi Konten Kreator di Medsos   |   15:00 . Menjelang Nataru, Harga Daging Ayam di Bojonegoro Naik   |   14:00 . Grafik Harga Emas UBS Hari ini Terpantau Naik   |   12:00 . Pemkab Bojonegoro Ikuti Penilaian Evaluasi Program Menuju Smart City 2021   |  
Wed, 08 December 2021
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Bukan Cuma Fisik, Anak Yang Aktif Olahraga Ternyata Juga Kurangi Risiko Gangguan Jiwa

blokbojonegoro.com | Wednesday, 29 September 2021 07:00

Bukan Cuma Fisik, Anak Yang Aktif Olahraga Ternyata Juga Kurangi Risiko Gangguan Jiwa

Reporter: -

blokBojonegoro.com - Anak yang aktif ikut kegiatan olahraga bukan cuma baik bagi kesehatan fisiknya, tapi juga  mampu menurunkan risiko penyakit gangguan jiwa. Hal ini terungkap lewat studi yang dipimpin oleh Psiko Edukator Université de Montréal Marie-Josée Harbec.

Studi yang terbit di Journal Of Developmental & Behavioral Pediatrics ini, mengatakan bahwa anak laki-laki yang aktif secara fisik pada masa remaja awal dapat mengurangi tekanan emosional.

“Kami ingin mengklarifikasi hubungan timbal balik jangka panjang pada anak usia sekolah, dengan partisipasi olahraga yang dapat menurunkan gejala depresi hingga kecemasan,” ungkap mahasiswa doktoral UdeM Linda Pagani.

“Kami juga ingin memeriksa apakah hubungan ini bekerja secara berbeda, pada anak laki-laki dan perempuan berusia 5-12 tahun,” ungkap Harbec, rekan studi dari rumah sakit anak CHU Ste-Justine.

Harbec menambahkan, ada bukti luas pada aktivitas fisik pada masa anak-anak, di mana ini dapat berimplikasi pada kesehatan mental serta fisik mereka.

Selain itu, para peneliti juga meneliti kebiasaan olahraga dan aktivitas fisik yang dilaporkan oleh anak berusia 5-12 tahun. Serta orangtua mereka yang melihat gejala tekanan emosional anak dari usia 6-19 tahun, yang dilaporkan oleh guru mereka.

“Kami menemukan bahwa laki-laki berusia 5 tahun yang tidak pernah berolahraga, mungkin di usia 6-10 tahun, terlihat tidak bahagia dan lelah. Dan sulit mengalami bersenang-senang, mudah menangis, dan mengalami rasa takut,” ungkap Pagani.

“Selain itu, anak laki-laki menunjukkan tingkat gejala dan depresi lebih tinggi ketika kurang aktif secara fisik pada usia 12 tahun. Tapi untuk anak perempuan, kami tidak menemukan perubahan yang signifikan,” ungkap Pagani lebih lanjut.

Di samping itu, survei ini dilakukan pada orangtua dari 690 anak laki-laki dan 748 anak perempuan, di mana survei ini telah diamati para peneliti tahun lalu lewat aktivitas fisik anak. Data ini dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin, untuk mengidentifikasi hubungan antara aktivitas fisik dan tekanan emosional.

“Tujuan kami adalah untuk menghilangkan kondisi anak dan keluarga yang sudah ada sebelumnya, yang dapat memberikan gambaran berbeda pada hasil kami. Seperti temperamen anak, pendidikan orangtua, serta pendapatan keluarga,” ucap Pagani.

Anak laki-laki yang terlibat aktif olahraga di sekolah memiliki manfaat yang baik buat mereka. Mulai dari mengembangkan keterampilan hidup, mengambil inisiatif, terlibat dalam kerja tim, hingga membangun hubungan dengan teman serta pelatih.

Sedangkan untuk anak perempuan, risiko depresi dan kecemasan disebut memiliki faktor yang berbeda. Bahkan, laki-laki lebih mudah mendapatkan bantuan emosional lewat keluarga, teman, penyedia kesehatan, serta dukungan psikologis.  

“Karena anak perempuan lebih banyak mengalami tekanan emosional dibanding laki-laki, risiko terkait gender ini telah menyebabkan identifikasi dini dan intervensi untuk anak perempuan,” simpul Harbec.

*Sumber: suara.com

 

Tag : pendidikan, kesehatan, risiko gangguan jiwa



* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

  • Monday, 06 December 2021 12:00

    Peduli untuk Mahameru, BMG Buka Donasi

    Peduli untuk Mahameru, BMG Buka Donasi Gunung Semeru atau dikenal dengan Mahameru, yang ada di Kabupaten Lumajang Jawa Timur, dilaporkan meletus pada Sabtu, 4 Desember 2021 sekitar pukul 15.00 WIB....

    read more

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat

  • Wednesday, 10 November 2021 10:00

    BMG Buka Lowongan Wartawan bB

    BMG Buka Lowongan Wartawan bB Perkembangan blokMedia Group (blokBojonegoro media dan blokTuban media) semakin pesat dengan pembaca yang terus meningkat untuk wilayah Bojonegoro dan sekitarnya. Hal itu membuat manajemen melakukan pembenahan, termasuk menambah jumlah reporter...

    read more