16:00 . Dewan Pengupahan Rencanakan Kenaikan UMK 2023 Sebesar 3,4 Persen   |   13:00 . Desainer Yustin Mariani Bangga Rancangannya Tampil di BNFF   |   20:00 . Minibus Adu Banteng dengan Truk, Satu Orang Meninggal   |   19:00 . Pintu Air Waduk Pacal Macet, BPBD Terus Berkoordinasi BBWS Cegah Potensi Banjir Susulan   |   18:00 . Bupati Anna Resmikan Pasar Burung Bagi Para Bird Lovers   |   16:00 . Student Agency, Tantangan Guru Masa Kini   |   15:00 . Lagi Turun, Harga Antam Dijual Mulai Rp539.500   |   13:00 . Hujan, Ini Tips Saat Berkendara dengan Motor   |   19:00 . Viral Pengantin Nikah Saat Banjir, Netizen: Doa Mantan Terkabulkan   |   18:00 . Viral, Warga Sukosewu Langsungkan Pernikahan di Tengah Banjir   |   15:00 . Ini Tips Tetap Bugar dan Tingkatkan Imun Ala Tirta Ayu Spa   |   13:00 . Pernikahan Dini Marak, APPA dan PA Bojonegoro Bersinergi Bersama   |   11:00 . Inilah Nama Pemenang Fashion Street Fruit and Veggie Competition   |   10:00 . Pemkab Bojonegoro Raih Penghargaan Insan UPG dari KPK   |   09:00 . Teknologi Informasi dan Komunikasi Berkembang, Jurnalis Harus Adaptasi dengan Tantangan   |  
Tue, 29 November 2022
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Kiai Khos, Kiai Noer Alie (Si Singa Karawang-Bekasi)

Melawan Belanda dengan Ilmu Kasat Mata

blokbojonegoro.com | Monday, 17 January 2022 14:00

Melawan Belanda dengan Ilmu Kasat Mata www.wikipedia.org

Reporter: Nidlomatum MR

blokbojonegoro.com - Singa Karawang, julukan yang disematkan untuk seorang pejuang kemerdekaan Indonesia, dari tanah Bekasi, beliau KH. Noer Ali, lahir di Desa Ujung Malang, Bekasi tanggal 15 juli 1914. Ayahnya bernama Anwar bin Layu (seorang petani) dan ibunya bernama Maimunah.

Semenjak masa kanak-kanak beliau mencita-citakan membangun dan mendirikan sebuah perkampungan surga, cita-cita mulia yang terus diperjuangkan hingga akhir hayatnya.

Pendidikan

Diusia dininya beliau belajar membaca Al-Qur’an kepada ayah dan kakak kandungnya, pada usia lima tahun beliau sudah dapat menghafal surat-surat pendek. Lalu beliau mengaji pengetahuan agama kepada Guru Maksum dan Guru Mughni di daerahnya.

Dari kedua gurunya itu beliau mendapatkan berbagai macam pengetahuan dasar tentang ajaran agama Islam. Kemudian, beliau belajar kepada ulama Betawi yang sangat terkenal pada zamannya, yaitu Guru Haji Marzuki.

Kepada Guru Marzuki, beliau belajar berbagai macam pengetahuan selain pengetahuan agama, di antaranya pengetahuan dalam pergaulan bermasyarakat sampai pencak silat dan olah kebatinan. Kiai Noer Ali dikenal sebagai ulama yang cerdas dan sakti mandraguna. Kesaktian yang dipelajarinya itu dikemudian hari berguna dalam perang fisik melawan pasukan Sekutu yang berkeinginan menjajah kembali bumi Indonesia pasca diproklamirkannya kemerdekaan oleh Ir. Soekarno - Hatta.

Semangatnya dalam mengaji dan mendalami pengetahuan ajaran agama Islam tidak pernah luntur sedikit pun, hingga akhirnya beliau pergi menunaikan ibadah haji dan bermukim di Makkah untuk belajar kepada syaikh-syaikh yang mengajar di Masjidil Haram. Kiai Wahab pergi ke Makkah dengan biaya uang hasil pinjaman yang didapatkan oleh ayahnya dari kerabat dan teman-temannya, hutang itu dibayar dengan cara mencicil selama bertahun - tahun.

Tahun 1934 M, beliau berangkat ke Tanah Suci, di sana beliau belajar di Madrasah Darul Ulum selama 6 tahun. Saat itu dia berguru kepada Syaikh Ali al-Maliki, Syaikh Umar Turki, Syaikh umar Hamdan, Syaikh Ahmad Fathani dll. Selama belajar di Makkah, Kiai Noer Ali menjalin persahabatan dengan para pelajar dari Indonesia, di antaranya KH Masturo, KH Sybro Malisi, KH Chasbulloh dan lainnya.

Tak hanya terhenti di Makkah, sewaktu republik ini telah meraih kemerdekaan secara utuh dan pengakuan dari dalam dan luar negeri, beliau masih menyempatkan diri untuk belajar kepada Habieb Ali Al-Habsyi Kwitang, Jakarta Pusat.

Pengabdian

Menurut Kiai Abdullah Rasyid, Kiai Noer Ali adalah salah satu murid dari Habib Ali al-Habsyi dan pelopor pendirian Perkumpulan Pelajar Betawi dan Himpunan Pelajar Indonesia. Kedua organisasi pelajar itu fokus mendiskusikan untuk mencari solusi agar bumi Nusantara terlepas dari jajahan bangsa Belanda.

"Sekembalinya dari Makkah beliau mendirikan Lembaga Pendidikan Pondok Pesantren Attaqwa yang berlokasi di ujung harapan Bekasi, sebagai langkah awal dalam membangun pergerakan yang telah dirancang dan dipersiapkan selama berada belajar dan berdiskusi dengan teman - temannya di Tanah Suci,' ujarnya.

Selain mengajar dan mendidik para santri di pondok pesantrennya, beliau mengajak umat Islam di sekitar tempat tinggalnya untuk mengangkat senjata yang tergabung dalam Laskar Rakyat demi melawan ketidakadilan dan penjajahan yang dilakukan oleh pemerintahan Kolonial Belanda, yang kemudian disusul oleh pendudukan Jepang.

"Setelah Indonesia Merdeka, beliau ditunjuk sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia Cabang Pabelan, dan mengerahkan ribuan massa untuk ikut serta dalam Rapat raksasa di Lapangan Ikada, yang diadakan pada tanggal 19 September 1945 M," kisahnya.

Dalam Laskar Rakyat, Kiai Noer menjadi Komandan Batalyon III Hisbullah Bekasi. Keberanian Kiai Noer Ali diperlihatkan dalam pertempuran pada 29 November 1945 melawan pasukan Sekutu di Sasak Kapuk. Walaupun, pada akhirnya beliau dan pasukkannya dapat dipukul mundur oleh pasukan Sekutu yang bersenjatakan teknologi modern dan canggih.

"Dalam pertempuran itu dapat melihat jelas kesaktiannya, sehingga beliau dijuluki Si Singa Karawang-Bekasi dan Belut Putih karena keberaniannya dalam bertempur serta dapat menghilang dari pandangan kasad mata. Selain bertempur secara fisik, beliau juga melancarkan serangan secara psikologis yaitu dengan memasang bendera merah-putih yang terbuat dari kertas sepanjang jalan Karawang - Bekasi," tutur anak dari murid Habib Ali al-Habsyi ini.

Atas perlawanannya, Tentara Belanda naik pitam dan memburu ke tempat keberadaan K.H. Noer Ali dan TNI di bawah komando Mayor Lukas Kastaryo, hingga sampailah di daerah Rawa Gede tetapi mereka tidak dapat menemukan orang yang dicarinya. Akhirnya, masyarakat daerah tersebut menjadi sasaran amuk oleh Tentara Belanda.

"Karena ketika itu, Kiai Noer Ali menunjukkan ilmu kasad matanya sehingga tidak terlihat oleh Tentara Belanda," tuturnya.

Guru Noer Ali, selain dikenal sebagai komandan perang yang gagah berani, beliau juga seorang politisi yang tangguh dengan menjabat ketua Partai Masyumi Cabang Jatinegara. Pada tanggal 19 April 1950 M, dan beliau meletakkan jabatannya setelah NU keluar dari Partai Masyumi. Beliau juga tercatat sebagai salah satu orang yang mempelopori terbentuknya Pemerintahan Daerah Kabupaten Bekasi.

Bertepatan tanggal 2 Mei 1992 Masehi, Bangsa Indonesia dikejutkan dengan pemberitaan secara Nasional, bahwa kiai yang politisi dan komadan militer itu wafat saat usianya 78 tahun. Jasadnya dikebumikan di Pemakaman Komplek Pondok Pesantren at-Taqwa, Bekasi.

Sebagai penghormatan atas jasa-jasanya untuk keutuhan Republik Indonesia dari penjajahan kembali oleh Pemerintahan Kerajaan Belanda, maka beliau dianugrahi gelar Pahlawan Nasional dengan SK Presiden : Keppres No. 085/TK/2006, Tgl. 3 November 2006, serta namanya diabadikan sebagai nama jalan di Kalimalang, Bekasi. [lis]

 

Tag : Kiai, profil, nur ali



* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat