18:00 . Sempat Tertunda Akibat Pandemi, Turnamen Sablon Cup III Kembali Digelar   |   17:00 . HUT AMPI Ke-44, Pengurus DPD AMPI Bojonegoro Resmi Dikukuhkan   |   16:00 . Begini Cara Mendaftar MyPertamina dengan Ponsel   |   10:00 . Puskesmas Tanggapi Curhatan Warga di Instagram Terkait Penanganan Sang Kakek   |   09:00 . Ruwatan Massal di Bojonegoro Kembali Digelar, Ini Jadwalnya   |   08:00 . 74 Polisi di Bojonegoro Naik Pangkat   |   07:00 . Menabung Saja Tidak Cukup, Ini Tips Ajarkan Anak Kelola Uang dengan Tepat   |   06:00 . Berani Bermimpi dan Gigih Menjemput Masa Depan   |   22:00 . Mendag Zulhas: Perjanjian Indonesia–UAE CEPA Ditandatangani, Upaya Tingkatkan Ekspor   |   21:00 . Roadshow, PMI Bojonegoro Lakukan Pembinaan dan Orientasi Pengurus Kecamatan   |   20:00 . Gubernur Lantik Komite Komunikasi Digital (KKD) Jatim   |   19:00 . Perangi Hoaks, Gubernur Jatim Lantik Komite Komunikasi Digital   |   18:00 . Program Agrosilvopastura, PEPC Inisiasi Kesadaran Kolektif Masyarakat Lestarikan Lingkungan   |   12:00 . Momen Hari Bhayangkara, Bupati Anna Ucapkan Selamat Kepada Pejuang Indonesia   |   11:00 . Negara Hadir, Pemerintah Bayar Kompensasi Rp64.5 T, Perkuat Arus Kas Pertamina, Proteksi Daya Beli Masyarakat   |  
Sat, 02 July 2022
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Kisah Cinta Pandangan Pertama Kiai Wahid Hasyim

blokbojonegoro.com | Wednesday, 02 February 2022 17:00

Kisah Cinta Pandangan Pertama Kiai Wahid Hasyim

 

Oleh: Nidlomatum MR

blokbojonegoro.com - Kiai Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur merupakan putra pertama dari Kiai Abdul Wahid Hasyim dan Nyai Sholihah Wahid. Ada kisah cerita cinta unik dari pertemuan kedua orang tua Gus Dur hingga berlabuh pada mahligai pernikahan. 

Dulu, tradisi menikahkan anak perempuan di usia cukup muda menjadi hal yang lazim dilakukan, termasuk dialami Nyai Sholihah yang akrab disapa Neng Waroh. Tak ayal ketika Neng Waroh menginjak umur 14 tahun, dia sudah dijodohkan dengan laki-laki pilihan guru ayahnya, KH.Hasyim Asy'ari. Kiai Hasyim memilih Abbdurahim, putra dari Kiai Cholil Singosari untuk menjadi suaminya.

Sebagai putri yang patuh dan tak ingin mengecewakan dan mempermalukan orangtuanya, ia menerima pinangan laki-laki pilihan Sang Kiai. Akad nikah dilaksanakan bertepatan dengan bulan Rajab, sebagai bulan yang diutamakan. Namun, pernikahan itu hanya seumur jagung, lantaran kurang lebih satu bulan pasca akad nikah, tepatnya bulan Sya'ban suami Neng Waroh wafat. Neng Waroh pun berstatus seorang janda.

Suatu hari, setelah kurang lebih sekitar dua tahun pasca suaminya wafat, Neng Waroh mendapat amanat dari ibunya untuk hadir ta'ziah ke salah satu kerabat Kiai Hasyim yang meninggal. Waktu itu, Neng Waroh datang diantar seorang sopir bernama Jayus.

Sesampainya di rumah duka, dan usai ta'ziyah, Neng Waroh bergegas pulang dan menuju tempat parkir mobil. Ketika itu, dia ragu mana mobil kakeknya yang dikemudikan Jayus. Tanpa pikir panjang, Neng Waroh langsung masuk mobil yang sudah ada sopir di dalamnya.

Ketika masuk, Neng Waroh seketika itu duduk di kursi belakang mobil tanpa melihat ke tampat kemudi. Saat duduk, baru tersadar ternyata yang duduk di kemudi bukanlah Jayus, Sang Sopir tapi orang lain. Seketika itu pula, Neng Waroh kaget dan pipinya memerah karena malu seraya ngelonyor pergi menjauhi mobil yang baru saja ditumpanginya.

Ternyata, Neng Waroh salah memasuki mobil yang dikemudikan Wahid Hasyim, putra dari Kiai Hasyim Asy'ari, orang yang dulu memilihkan jodoh untuknya. Melihat, Neng Waroh, yang malu-malu, Wahid Hasyim terpesona dalam pandangan pertama. Ia pun langsung menanyakan siapa gerangan yang salah memasuki mobilnya kepada Jayus. Dari Jayus lah, Wahid Hasyim tahu soal Neng Waroh, putri Kiai Bisri Syansuri.

Usai mendapat informasi itu, selang beberapa hari, Wahid Hasyim seorang diri datang ke rumah Kiai Bisri dengan maksud melamar Neng Waroh. Usai Wahid Hasyim pulang, Neng Waroh diberitahu perihal lamaran itu. Ia hanya menjawab dengan diam yang dimaknai " ya" oleh kedua orang tuanya.

Sementara itu, Wahid yang belum berani memberitahukan isi hati kepada orang tuanya bercerita kepada kakak kandungnya Aisyah. Dengan menceritakan peristiwa lamaran kepada Mbak Yu-nya, dia berharap Aisyah bisa menyampaikan hal itu kepada Nyai Hasyim.

Alhasil, pendekatan yang dilakukan kakaknya berhasil. Lantaran pertimbangan waktu yang berdekatan dengan bulan Ramadan, pernikahan keduanya dilaksanakan pada tanggal 10 Syawal 1356 Hijriyah saat Neng Waroh berusia 16 tahun. Mahligai rumah tangga Kiai Wahid dengan Neng Waroh yang usai menikah lebih akrab dikenal dengan nama Nyai Sholihah berlangsung selama 15 tahun. Tepatnya tahun 1953, Kiai Abdul Wahid Hasyim meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil di Jawa Barat. [lis]

 

 

Tag : Kisah, cinta, Wahid Hasyim



* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat