21:00 . Pengunjung BNFF Tumpah Ruah   |   18:00 . STIKES Rajekwesi Bojonegoro Borong Dua Juara   |   16:00 . Strategi Pertamina Menjaga Pasokan Energi Nasional   |   15:00 . SHU Pertamina Gelar Media Gathering Regional Indonesia Timur   |   14:00 . Pemdes Berharap Ada Bantuan Makanan dan Bahan Pokok untuk Warganya   |   13:00 . Kado Hari Guru Nasional, FTBM Bojonegoro Launching 11 Buku Karya Guru PAUD Bojonegoro   |   12:00 . Berlangsung Khidmat, STAI Attanwir Gelar Wisuda 145 Mahasiswa   |   11:00 . Pengguna Jalan Dihimbau Pilih Jalur Alternatif   |   10:00 . Jalan Nasional Bojonegoro-Babat Terendam Banjir, Macet Mengular   |   09:00 . Kolaborasi Stakeholder, Pemkab Bojonegoro Raih Penghargaan dari Kemenkes   |   21:00 . Malam Ini Debit Air Waduk Pacal dan Bengawan Solo Meningkat   |   20:00 . Inisiasi Pengembangan Vinglish Melalui Riset   |   19:00 . Live : Bojonegoro Fashion Street and Veggie   |   18:00 . Pahlawan Perjuangan di Bojonegoro, Abadi Dalam Nama Jalan dan Fasum   |   17:00 . Aneka Olahan Jambu dan Mawar Desa Kalangan Juga Dipamerkan di Bojonegoro Fashion Street Fruit and Veggie   |  
Sun, 27 November 2022
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Tips Kelola Keuangan saat Lebaran Agar Tak Bengkak

blokbojonegoro.com | Tuesday, 03 May 2022 13:00

Tips Kelola Keuangan saat Lebaran Agar Tak Bengkak

Reporter: Lizza Arnofia

blokBojonegoro.com - Sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia untuk melakukan silaturahmi saat hari lebaran tiba. Dimana, kegiatan mudik, berbelanja kebutuhan lebaran (sandang dan pangan) serta memberi uang untuk anak-anak (angpau) sudah seperti menjadi hal wajib untuk dilakukan.

Meskipun mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR) menjelang hari lebaran, apabila tidak dikelola dengan baik, tentu akan mengakibatkan defisit keuangan. Terlebih lagi, di momen hari lebaran sudah dianggap sebagai ajang balas dendam untuk memuaskan jiwa bagi konsumtif masyarakat.

"Mentang-mentang mendapatkan THR muncul keinginan untuk membeli segala macam barang. Sehingga mengakibatkan pengeluaran menjadi membengkak dan tidak terkendali," tutur
Dosen Akuntansi STIE Cendekia Bojonegoro, Dina Alafi Hidayatin.

Mungkin, saat ini kebiasaan tersebut perlu dipertimbangkan lagi dengan merubah pola pikir, yang awalnya THR dianggap sebagai dana untuk melampiaskan jiwa konsumtif, maka perlu dirubah menjadi THR sebagai dana untuk berinvestasi.

THR bisa sendiri dikategorikan sebagai pemasukan tambahan di luar gaji tetap yang cenderung dibayarkan secara berkelanjutan setiap satu tahun sekali. Seharusnya, kondisi ini bisa dimanfaatkan secara bijak dengan mengalokasikan sebagian untuk dana investasi.

Tentunya momen lebaran tidak akan menimbulkan defisit keuangan yang selama ini dikhawatirkan oleh masyarakat. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya defisit keuangan saat merayakan lebaran, antara lain membuat anggaran keuangan, fungsinya dibuatnya anggaran sebagai perencanaan dan pengendalian.

"Dengan membuat anggaran tentu dapat diprediksi lebih awal apa saja yang akan dibeli, serta disesuaikan dengan pendapatan yang diperoleh," paparnya.

Selanjutnya, bentuk pengendalian melalui anggaran dilakukan dengan membelanjakan dana sesuai dengan anggaran yang sudah dibuat. Hindari membeli barang di luar anggaran yang sudah disusun, sehingga pengeluaran tidak membengkak.

Poin penting jangan lupakan satu hal, yaitu menganggarkan dana untuk zakat dan shodaqoh, serta pisahkan antara kebutuhan dan keinginan, kemudian tentukan persentase masing-masing pos pengeluaran.

"Alokasikan sebagian dana untuk keperluan investasi. Misal memisahkan uang gaji dengan uang THR. Mengapa perlu memisahkan uang gaji dan uang THR? Uang gaji sejatinya digunakan untuk memenuhi kebutuhan rutin bulanan, sedangkan uang THR digunakan untuk memenuhi kebutuhan hari raya idul fitri," papar Dina Alafi Hidayatin.

Dengan demikian, kedua uang tersebut harus digunakan sebagaimana fungsinya. Sebab memisahkan antara keduanya dapat membantu mengendalikan pengeluaran agar tidak melebihi jumlah pendapatan yang diterima.

Untuk menentukan skala prioritas sendiri. Dosen Akuntansi STIKEA Cendekia berpesan agar masyarakat membelanjakan dana kebutuhan sesuai skala prioritas. Misal lebih memprioritaskan zakat dari pada membeli pakaian mewah. Pengeluaran untuk kebutuhan yang berada di urutan prioritas teratas intinya dipenuhi terlebih dahulu.

Hal ini dilakukan sebagai bentuk pengendalian, apabila ada kebutuhan mendadak yang tidak terduga dan tidak diprediksi, paling tidak kebutuhan yang penting sudah terpenuhi terlebih dahulu, tidak mudah tergiur diskon. Seperti yang diketahui, momen lebaran seringkali dimanfaatkan oleh produsen untuk mengobral diskon.

"Sebagai konsumen yang bijak alangkah baiknya untuk tidak serta merta mudah tertarik maupun membeli tanpa pertimbangan, tetap berpatokan pada anggaran dan skala prioritas yang sudah disusun sebelumnya. Manfaatkan harga diskon untuk membeli barang-barang yang ada didaftar anggaran," imbuhnya.

Memberikan angpau sesuai dengan kemampuan. Baik kepada keponakan, sanak saudara atau tetangga merupakan tradisi yang dilakukan pada saat silaturrahmi di hari Raya Idul Fitri. Tidak perlu merasa gengsi, berikan angpau sesuai kemampuan.

"Tradisi ini hakikatnya dilakukan untuk memberikan semangat kepada anak-anak dalam rangka memperkenalkan zakat dan budaya silaturrahmi. Ada kewajiban bagi umat muslim untuk memberikan 2,5% dari penghasilan untuk zakat kepada yang membutuhkan," tambahnya.

Namun saat ini tradisi seperti ini tengah bergeser, angpau tidak hanya diberikan kepada masyarakat kurang mampu tetapi kepada siapa saja yang datang berkunjung untuk silaturrahmi. Jadi yang terpenting bukan jumlah besaran isi amplop tetapi lebih ke niat untuk saling berbagi.

"Mengalokasikan sebagian dana THR untuk investasi. THR hanya didapatkan satu tahun sekali, seharusnya bisa dipergunakan dengan bijak dan efektif. Hindari menggunakan THR untuk foya-foya memuaskan gaya atau gengsi," pesannya.

Dengan mengalokasikan sebagian dana THR melalui investasi, dana THR tidak akan mengalami defisit. Justru menjadi berlipat ganda, saat ini investasi dapat dilakukan melalui beragam cara. Baik melalui investasi emas, saham, obligasi, reksa dana hingga membuka bisnis rumahan dan lain sebagainya.

"Demikian beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam mengelola keuangan pada saat lebaran tiba. Intinya lebaran memang hari istimewa yang sudah selayaknya untuk dirayakan, tetapi kembali ke hakikatnya sesuatu yang berlebihan selalu tidak baik. Melalui usaha untuk merubah pola pikir dengan mengalokasikan dana lebaran secara bijak, momen lebaran menjadi lebih berkah dan bermakna," pungkasnya. [liz/mu]

Tag : lebaran, mengelola keuangan



* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat