Oleh: Ayu Nilna Amelia Ahmadillah dan Azmil Muhibbatul Bariroh*
blokBojonegoro.com - Setiap hari, sekolah menjadi tempat lahirnya berbagai kebiasaan kecil yang sering kali dianggap sepele. Bungkus makanan yang tertinggal setelah jam istirahat, penggunaan plastik sekali pakai, pemborosan energi, hingga kurangnya kepedulian terhadap kebersihan lingkungan sekolah merupakan gambaran sederhana bagaimana manusia memperlakukan alam. Persoalan tersebut mungkin tampak kecil dibandingkan isu perubahan iklim global, tetapi krisis besar selalu berawal dari kebiasaan kecil yang berlangsung terus-menerus.
Krisis iklim hari ini tidak hanya berbicara tentang kenaikan suhu bumi, perubahan cuaca ekstrem, atau kerusakan ekosistem. Lebih dari itu, krisis iklim mencerminkan cara manusia memandang alam. Ketika bumi hanya dipahami sebagai objek yang dapat dimanfaatkan tanpa batas, maka kerusakan lingkungan menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.
Selama ini, persoalan lingkungan sering ditempatkan sebagai isu sains dan teknologi. Perhatian banyak diarahkan pada pengurangan emisi karbon, energi terbarukan, dan inovasi teknologi hijau. Semua itu tentu penting, tetapi persoalan ekologis tidak hanya membutuhkan solusi teknis. Krisis lingkungan juga membutuhkan perubahan cara berpikir dan nilai yang menjadi dasar perilaku manusia.
Di sinilah pendidikan memiliki peran penting. Sekolah bukan hanya tempat membentuk peserta didik yang unggul secara akademik, tetapi juga ruang membangun karakter dan cara pandang terhadap kehidupan. Akan tetapi, pendidikan lingkungan masih sering berhenti pada aspek pengetahuan. Peserta didik mampu menjelaskan pencemaran lingkungan dan perubahan iklim, tetapi belum selalu memahami bahwa menjaga bumi merupakan bagian dari tanggung jawab moral manusia.
Persoalan mendasarnya bukan sekadar keterbatasan materi pembelajaran, melainkan adanya jarak antara pengetahuan dan nilai yang membentuk perilaku. Sebagaimana dikemukakan David Orr dalam Earth in Mind: On Education, Environment, and the Human Prospect (1994), pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga harus membangun kesadaran etis tentang bagaimana manusia berhubungan dengan lingkungan.
Karena itu, pendidikan lingkungan tidak cukup hanya menjawab pertanyaan tentang apa yang terjadi pada bumi, tetapi juga harus menjawab pertanyaan yang lebih mendalam: mengapa manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaganya?
Pertanyaan tersebut membawa kita pada pentingnya Pendidikan Agama Islam berbasis ekoteologi. Pendidikan Agama Islam memiliki peran besar dalam membangun karakter peserta didik melalui nilai keimanan, akhlak, dan tanggung jawab sosial. Namun, di tengah meningkatnya krisis ekologis, pendidikan Islam perlu memperkuat satu dimensi penting yang selama ini belum banyak mendapatkan perhatian, yaitu hubungan manusia dengan alam.
Pendidikan agama selama ini lebih banyak menekankan hubungan manusia dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan manusia dengan sesama (hablum minannas). Kedua aspek tersebut merupakan fondasi penting dalam kehidupan seorang muslim. Akan tetapi, krisis ekologis menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan alam (hablum minal alam) juga perlu menjadi bagian dari pembentukan kesalehan peserta didik.
Dalam perspektif Islam, manusia bukan pemilik mutlak bumi, melainkan khalifah fil ardh yang memiliki amanah untuk menjaga keseimbangan kehidupan. Alam bukan sekadar sumber daya yang dapat dieksploitasi, tetapi bagian dari ciptaan Allah yang memiliki nilai dan harus dihormati.
Seyyed Hossein Nasr melalui Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (1968) menjelaskan bahwa krisis lingkungan modern tidak hanya disebabkan oleh persoalan teknis, tetapi juga berakar dari perubahan cara pandang manusia terhadap alam yang semakin eksploitatif.
Sementara itu, Yusuf al-Qaradawi melalui Ri‘ayat al-Bi’ah fi Shari‘at al-Islam (2001) menempatkan pemeliharaan lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab moral Islam karena keberlangsungan kehidupan manusia bergantung pada keseimbangan alam.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan bukan berada di luar wilayah pendidikan agama. Menjaga bumi bukan hanya tindakan sosial, tetapi juga bagian dari pengamalan iman. Oleh karena itu, tantangan Pendidikan Agama Islam bukan sekadar memberikan pemahaman keagamaan tentang lingkungan, tetapi bagaimana nilai tersebut mampu membentuk perilaku ekologis peserta didik.
Ketika kepedulian terhadap lingkungan belum dipahami sebagai bagian dari keberagamaan, pendidikan agama berisiko menghasilkan kesalehan yang kuat dalam dimensi ritual dan sosial, tetapi belum sepenuhnya tercermin dalam relasi manusia dengan alam. Karena itu, konsep khalifah, amanah, mizan, dan larangan melakukan fasad fil ardh perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pada titik inilah paradigma Integrated Twin Towers yang dikembangkan oleh Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) menjadi relevan. Twin Towers menawarkan gagasan bahwa ilmu keislaman dan ilmu modern tidak boleh berjalan secara terpisah, tetapi harus berdialog untuk menjawab persoalan manusia secara lebih utuh.
Dalam konteks Pendidikan Agama Islam berbasis ekoteologi, ilmu keislaman memberikan fondasi nilai tentang tanggung jawab manusia terhadap bumi. Sementara ilmu modern memberikan pemahaman empiris mengenai perubahan iklim, keseimbangan ekosistem, serta berbagai strategi penyelesaian persoalan lingkungan.
Integrasi keduanya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya bertanya tentang bagaimana manusia memahami alam, tetapi juga bagaimana manusia bertanggung jawab terhadap alam. Nilai agama memberikan alasan mengapa bumi harus dijaga, sedangkan sains memberikan cara bagaimana bumi dapat dijaga.
Penerapan pendidikan ekoteologi di sekolah dapat dimulai melalui berbagai langkah sederhana. Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, siswa dapat memahami ayat-ayat tentang tanggung jawab manusia terhadap bumi sekaligus melakukan refleksi terhadap perilaku ekologis mereka. Dalam pembelajaran IPA, siswa dapat melakukan audit sampah sekolah, menghitung penggunaan energi, atau membuat proyek pengelolaan lingkungan.
Mata pelajaran lain juga memiliki ruang untuk berkontribusi. IPS dapat membahas dampak sosial perubahan iklim, sedangkan Bahasa Indonesia dapat menjadi ruang bagi siswa untuk menyampaikan gagasan lingkungan melalui tulisan dan kampanye publik. Dengan demikian, nilai agama dan ilmu pengetahuan tidak berhenti sebagai teori, tetapi hadir dalam pengalaman nyata peserta didik.
Sekolah juga perlu membangun budaya ekologis melalui program nyata seperti bank sampah, pengurangan plastik sekali pakai, penghematan energi, penghijauan, dan proyek lingkungan berbasis siswa. Namun, perubahan tersebut tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ia membutuhkan keteladanan guru dan komitmen seluruh warga sekolah.
Pada akhirnya, sekolah bukan hanya tempat untuk mengajarkan bagaimana manusia memahami dunia, tetapi juga bagaimana manusia bertanggung jawab terhadap dunia yang ditempatinya. Krisis iklim memang merupakan persoalan global, tetapi perubahan dapat dimulai dari ruang kelas, dari kebiasaan kecil, dan dari cara pendidikan membentuk cara pandang generasi berikutnya terhadap alam.
Pendidikan Agama Islam berbasis ekoteologi menawarkan pesan penting bahwa keberagamaan tidak berhenti pada hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama manusia, tetapi juga tercermin dari bagaimana manusia memperlakukan bumi sebagai amanah-Nya. Melalui integrasi nilai Islam dan ilmu pengetahuan sebagaimana semangat Twin Towers UIN Sunan Ampel Surabaya, sekolah dapat menjadi ruang lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas memahami alam, tetapi juga bijaksana dalam menjaganya.
Sebab, masa depan bumi tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang mampu diciptakan manusia, tetapi juga oleh nilai yang membimbing manusia dalam menggunakan teknologi tersebut. Pertanyaan terbesar pendidikan hari ini bukan sekadar apakah manusia mampu menguasai bumi, melainkan apakah manusia masih memiliki kebijaksanaan untuk merawatnya. [mad]
* Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya