Reporter: M. Anang Febri
blokBojonegoro.com - Sebanyak 609,4 kilogram sampah terpilah terkumpul dalam setoran perdana Bank Sampah Berkah di Desa Sudu, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro. Capaian tersebut menunjukkan mulai tumbuhnya kesadaran warga untuk memilah sampah dari rumah sekaligus melihatnya sebagai sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.
Setoran perdana yang berlangsung pada Minggu pekan sebelumnya itu diikuti 125 nasabah dari lima wilayah RT. Capaian tersebut kemudian menjadi dasar pendampingan lanjutan untuk memperkuat pengelolaan Bank Sampah Berkah yang digelar di Balai Desa Sudu.
Partisipasi tertinggi tercatat di RT 01/06 dengan 38 nasabah yang menyetorkan 192,9 kilogram sampah. Berikutnya RT 02/06 dengan 33 nasabah dan 159,5 kilogram, RT 02/07 dengan 24 nasabah dan 119,5 kilogram, RT 01/07 dengan 15 nasabah dan 69,5 kilogram, serta RT 03/06 dengan 15 nasabah dan 68 kilogram.
Dalam pendampingan tersebut, warga dan pengurus mendapatkan bimbingan teknis dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bojonegoro dan Yayasan Daya Tumbuh Indonesia (YDTI). Materi yang diberikan mencakup tata kelola administrasi, pencatatan, pemilahan, hingga pemahaman mengenai nilai jual berbagai jenis sampah.

Manager Program YDTI Rudy Susilo mengatakan penguatan kapasitas pengurus menjadi bagian penting agar Bank Sampah Berkah dapat terus berjalan setelah setoran perdana. Menurutnya, pengelolaan sampah tidak cukup hanya dengan mengumpulkan dan menjualnya.
"Pengelolaan sampah tidak berhenti di kumpul dan jual," buka Rudy.
Ia menjelaskan, pengurus perlu memahami tata kelola secara tertib, mulai dari pemilahan berdasarkan kategori, administrasi pencatatan, hingga pemantauan perubahan harga setiap jenis sampah di pasar.
Menurut Rudy, proses pemilahan yang dilakukan sejak dari sumber, terutama rumah tangga, turut menentukan nilai ekonomi sampah yang disetorkan. Sampah yang telah dipilah dengan baik akan membuat proses pengelolaan di bank sampah menjadi lebih efisien.
"Kalau sampah sudah rapi dipilah dari rumah, proses di bank sampah jauh lebih efisien. Jenis sampah yang berbeda memiliki nilai ekonomi yang berbeda pula," jelasnya.
Ia menambahkan, pemahaman dasar mengenai pemilahan dan nilai jual sampah tersebut akan terus diberikan kepada masyarakat. "Pengetahuan dasar inilah yang terus kita edukasikan ke warga," ujar Rudy.
Pengurus Bank Sampah Berkah, Khoirul, optimistis pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan dapat membentuk kebiasaan baru di tengah masyarakat Desa Sudu. Ia berharap kegiatan memilah sampah perlahan tidak lagi dipandang sebatas kewajiban menjaga lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari budaya hidup bersih yang memberikan manfaat ekonomi.
Inisiatif pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Desa Sudu tersebut merupakan bagian dari komitmen keberlanjutan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL).
Pimpinan Program EMCL Almaliki Ukay Sukaya Subqy mengapresiasi antusiasme dan kemandirian warga dalam mengembangkan Bank Sampah Berkah.
"Kami sangat mengapresiasi semangat warga Desa Sudu yang tidak hanya peduli pada kebersihan lingkungan, tetapi juga mau belajar mengelola sampah secara profesional," ujar Almaliki yang akrab disapa Malik.
Menurut Malik, EMCL berkomitmen untuk terus mendukung program pemberdayaan berbasis masyarakat agar memberikan dampak positif secara berkelanjutan. Dukungan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat bagi kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi Banyu Urip.
Dengan pendampingan dan partisipasi warga yang terus berkembang, Bank Sampah Berkah diharapkan tidak berhenti sebagai tempat mengumpulkan sampah.
Lebih dari itu, bank sampah dapat menjadi bagian dari kebiasaan warga dalam menjaga lingkungan sekaligus mengubah sampah terpilah menjadi sumber nilai ekonomi bagi masyarakat Desa Sudu. [feb/mad]