13:00 . Pelantikan Pj. Sekda Baru, Diundur   |   10:00 . Jadi Duta BUMN, Siswa SMAN 1 Bubulan Wakili Jatim ke Gorontolo   |   09:00 . M. Fauzan Bersiap Ikuti Pra PON   |   08:00 . Didukung Seluruh PAC, Abidin-Rory Nahkodai PDIP Bojonegoro   |   07:00 . Waspada Orang Tua, Tipe Anak Ini Sering Dibully   |   06:00 . Full Sandur dan Kalongking Meriahkan Tiff - Lakon Pamer Bojo   |   22:00 . Tari Polandia Bikin Ramai Suasana   |   21:00 . Kepala Barkowil Akan Dilantik Pj Sekda Bojonegoro   |   20:00 . Rancaknya Tari Asal Negara Bulgaria   |   19:00 . Tingkatkan Jiwa Wirausaha, Mahasiswa IKIP PGRI Bojonegoro Gelar Bazar   |   18:00 . DPMD Berikan Pembinaan untuk Kades se Kabupaten Bojonegoro   |   17:00 . Kandang Terbakar, 2 Ekor Sapi Berhasil Diselamatkan   |   16:00 . Ramai Gerakan Selamatkan Aset Negara   |   15:00 . Deklarasi Penyelamatan Aset Negara   |   14:00 . Tatap Liga 3 Jawa Timur, Bojonegoro FC Jadwalkan Lawan PSM Madiun   |  
Fri, 19 July 2019
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Friday, 16 November 2018 07:00

6 Cara Menghadapi Perilaku Agresif Anak

6 Cara Menghadapi Perilaku Agresif Anak

Reporter: -

blokBojonegoro.com - Sebagai orangtua, kita pasti akan menghadapi perilaku agresif anak, seperti tantrum, berteriak-teriak, dan menangis jika keinginannya tidak dipenuhi.

Sikap agresif sebenarnya merupakan bagian dari proses belajar anak untuk mengendalikan dirinya. Namun, bagaimana kita mengetahui jika perilaku itu adalah bagian dari proses belajarnya atau sudah berlebihan?

Menurut psikolog anak Emily Mudd, merupakan hal yang umum jika anak di bawah tiga tahun mengalami perilaku agresif.

"Pada tahap ini, anak-anak cenderung menggunakan ekspresi fisik dari rasa frustrasinya  karena mereka belum memiliki kemampuan bahasa untuk mengekspresikan diri," ucap Mudd.

Misalnya saja, anak mendorong temannya di taman. Perilaku itu tidak bisa disebut agresi kecuali itu sudah berpola.

Pada saat anak sudah cukup besar untuk mengomunikasikan perasaannya secara verbal, biasanya usia 7 tahun, perilaku agresif itu akan berkurang.

Yang harus diwaspadai adalah jika anak masih kasar dan agresif, misalnya membahayakan dirinya atau orang lain. Gejala lain yang harus diperhatikan adalah anak sulit berteman atau mengalami kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah.

Sikap tersebut bisa saja merupakan tanda gangguan tumbuh kembang, seperti ADHD, autisme, atau kecemasan. Untuk memastikannya, konsultasikan dengan dokter.

Mudd merekomendasikan kepada orangtua untuk melakukan enam hal berikut demi mencegah perilaku agresi pada anak.

1. Tetap tenang

Ketika seorang anak mengekspresikan banyak emosi dan orangtua menghadapinya dengan emosi, agresi anak akan semakin meningkat.

Sebagai gantinya, cobalah untuk memberi contoh cara mengatur emosi pada anak. Ajak anak menarik napas, duduk, lalu setelah agak tenang ungkapkan apa keinginannya.

2. Jangan menyerah pada tantrum

Ketika anak mulai menunjukan perilaku tantrum, jangan menyerah. Beri waktu agar anak lebih tenang dan memeluknya. Jangan langsung menuruti kemauan anak ketika ia tantrum di tempat umum.  Cara ini mengajari anak jika apa yang diperbuatnya merupakan perilaku yang tak pantas.

3. Hargai perilaku baik anak

Hargai perilaku yang baik, bahkan ketika anak kita tidak melakukan apa pun yang luar biasa.

Misalnya, saat sang anak kita ajak menghadiri makam malam dan ia tak menyebabkan masalah, katakan, “Mama sangat suka bagaimana kamu bersikap saat makan malam”.

Kita tak perlu memberinya hadiah. Pujian sudah memberi kekuatan besar untuknya.

4. Bantu anak belajar mengekspresikan emosi

Kita bisa membantu anak mengekspresikan emosi dengan mengatakan kata-kata seperti, "Ibu tahu kamu benar-benar marah sekarang" saat anak mulai memuncak emosinya.

Cara ini membantunya memahami apa yang dirasakan dan mendorongnya untuk mengekspresikan emosi dengan kata-kata bukan dengan cara fisik.

5. Ketahui pola anak identifikasi pemicunya

Langkah ini bisa kita lakukan dengan mengidentifikasi kapan si kecil biasanya mengalami tantrum.

Misalnya, jika hal itu terjadi setiap pagi sebelum sekolah, berusahalah menyusun rutinitas pagi.

Uraikan tugas menjadi langkah sederhana, dan beri peringatan waktu, seperti “Kami akan berangkat dalam 10 menit”.

Tetapkan sasaran, seperti membuatnya ke sekolah tepat waktu selama empat hari dari lima hari. Kemudian berikan hadiah kepada anak ketika dia memenuhi tujuan tersebut.

6. Temukan imbalan yang sesuai

Jangan fokus pada hadiah berupa materi atau uang. Sebagai gantinya, cobalah memberi hadiah seperti setengah jam waktu khusus bersama ibu atau ayah, ajak anak makan menu favoritnya, atau menonton film bersama.

Jika anak sedang belaajr untuk mengendalian diri, gabungkan strategi ini dalam pola pengasuhan untuk membantunya mengendalikan perilaku agresif.

Jika situasinya tampak tidak terkendali, ingatlah bahwa kita bukan satu-satunya yang berjuang dengan perilaku anak. Jangan sungkan untuk meminta bantuan psikolog anak untuk memecahkan masalah emosional dan perilaku.

*Sumber: kompas.com

Tag : pendidikan, kesehatan

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

  • Wednesday, 17 July 2019 22:00

    KKM MI Kapas Gelar Bimtek K13 Revisi Tahun 2018

    KKM MI Kapas Gelar Bimtek K13 Revisi Tahun 2018 Kelompok Kerja Madrasah (KKM) MI Kecamatan Kapas melaksanakan Bimbingan Teknis K13 Revisi Tahun 2018 yang akan berlangsung selama 4 hari dari tanggal 17 hingga 20 Juli 2019. Kegiatan ini berlangsung...

    read more

Lowongan Kerja & Iklan Hemat