19:00 . Tingkatkan Militansi, PAC IPNU-IPPNU Kepohbaru Gelar Diklatama   |   18:00 . Relawan: Optimis Menang, Jokowi - Amin Pilihan Tepat   |   17:00 . Disdik Anggarkan Rp32 M untuk 3.400 GTT   |   16:00 . BEM UNUGIRI Gelar Pemilihan Duta Kampus   |   15:00 . Ketua TKD Jatim Deklarasikan Kemenangan Jokowi - Amin di Bojonegoro   |   14:00 . Berikut Klarifikasi Kemenag RI   |   13:00 . Dari Hobi, Ingin Buat Tempat Edukasi Bonsai   |   12:00 . Waspada Berita Hoax, Bupati: Harus Ditindak Tegas   |   11:00 . Tak Hanya Bojonegoro, Kekeliruan Soal SKI Seluruh Indonesia   |   10:30 . Tabrak Truk, Pengendara Motor Meniggal Dunia   |   10:00 . Tak Sempat Lihat Konser Letto, Ini Dia ......   |   09:00 . Desa Rendeng Siap Gelar Festival Gerabah Kedua   |   08:00 . Target 10 Besar, KONI Bojonegoro Bakal Andalkan 6 Cabor   |   07:00 . Mengapa Kita Cocok Berteman dengan Orang - Orang Tertentu   |   00:00 . Keceriaan Pletonic Sambut Letto   |  
Sun, 24 March 2019
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Monday, 11 March 2019 15:00

Waspada Demam Berdarah

Jumlah Kasus DB Menurun, Dinkes: Harus Tetap Waspada

Jumlah Kasus DB Menurun, Dinkes: Harus Tetap Waspada

Kontributor: Wahyudi

blokBojonegoro.com - Kasus Demam Berdarah (DB) dari bulan Januari hingga Februari 2019 mengalami penurunan. Dari angka 223 kasus 4 orang diantaranya meninggal, di bulan Februari menurun hingga 58 kasus.

Kasi Pengendalian Penyakit Menular, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bojonegoro, Whenny Dyah P mengatakan, bahwa Dinkes mencatat selama Februari 2019 ada 281 kasus DB dan 1 orang meninggal dunia.

"Menurun hingga 58 kasus dan satu orang meninggal dunia," kata Whenny Dyah P.

DB di Bojonegoro menyerang hampir semua kalangan, dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa. Januari lalu, ada 223 kasus 4 orang diantaranya meninggal. "Sedangkan Februari mengalami penurunan," ucapnya.

Meski demikian, phaknya terus mewaspadai kemungkinan terjadi lonjakan DB. Dinkes terus melakukan gerakan pencegahan bersama masyarakat dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M plus.

"Menguras atau membersihkan penampungan air minum, drum dan bak-bak air lainnya. Menutup, yaitu menutup rapat-rapat penampungan air," terangnya.

Tak hanya itu, bisa memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk dan menaburkan bio larvasida atau obat cair anti nyamuk di penampungan air.

Gerakan PSN dengan cara 3M Plus ini, terus lakukan bersama-sama masyarakat. Dimungkinkan, penularan DB dari nyamuk Aedes Aegypti dapat ditanggulangi, karena untuk mencegah perkembangbiakannya.

"Kalau melakukan PSN dengan cara 3M plus tersebut, bisa mencegah perkembangan nyamuk," tuturnya.

Ia menambahkan, pihaknya juga melakukan fogging di beberapa wilayah yang banyak penderita DB nya. Namun, fogging sendiri sifatnya hanya untuk pemberantasan nyamuk dewasa bukan untuk jentik-jentik nyamuk. [yud/ito]

Tag : kasus, db, bojonegoro, dinkes

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

  • Monday, 18 February 2019 08:00

    Petani Kalitidu Menyemai Refugia

    Petani Kalitidu Menyemai Refugia Mengendalikan OPT padi dengan cara menanam Refugia juga dilakukan petani di Desa Pumpungan Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro, Jawa Timur....

    read more

Lowongan Kerja & Iklan Hemat

  • Wednesday, 24 October 2018 09:00

    LoKer dan Iklan Baris di bB

    Lebih Mudah dan Tepat untuk Promosi

    Lebih Mudah dan Tepat untuk Promosi Untuk mengakomodir permintaan dari masyarakat luas, terutama pembaca setia blokBojonegoro.com, redaksi menyediakan kanal khusus untuk informasi lowongan kerja (LoKer) dan iklan baris....

    read more