09:00 . Masuk Hari Kelima, Pendaftar CPNS 2019 Tembus 2,3 Juta Orang   |   08:00 . Awal Musim Hujan, Waspada DBD   |   07:00 . Sejarah di Balik Tradisi Bertekuk Lutut saat Melamar Kekasih   |   18:00 . Ribuan Kuntul Putar-Putar Cari Rumah   |   17:00 . PCNU Siapkan Strategi Tanggulangi Bencana   |   14:00 . Di Bojonegoro, Lulusan PGMI Tak Bisa Daftar CPNS   |   13:00 . Menarik Mocaf Produk Disabel dan Eksotis Waduk Bendo   |   12:00 . Job Fair di IKIP PGRI Bojonegoro, Buka 7.000 Peluang Kerja   |   11:00 . Eksotis Waduk Grobogan   |   10:00 . Dari Dunia Modeling, Kenalkan Tengul di Event Wajah Pesona Indonesia   |   09:00 . Bupati-Menhub Sepakat untuk Mudahkan Transportasi di Bojonegoro   |   08:00 . 5 Hari Dibuka, 830 Peserta CPNS Sudah Daftar   |   07:00 . Istri Malas Berhubungan Intim, Bisa Jadi Karena 5 Hal ini   |   17:00 . Dana Tak Terduga untuk Bantuan Bencana Rp1,3 M   |   16:00 . Rp750 Juta, Disperta Buat Sumur Bor di 5 Titik Tahun 2020   |  
Sun, 17 November 2019
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Sunday, 01 September 2019 16:01

Tim PPKD Bojonegoro Telusuri Oklik

Pagebluk, Awali Sejarah Kesenian Oklik Bojonegoro

Pagebluk, Awali Sejarah Kesenian Oklik Bojonegoro

Kontrributor: Mokhamad Arifin

blokBojonegoro.com - Kesenian oklik bisa dibilang sudah biasa terdengar di telinga masyarakat Bojonegoro, bahkan akhir-akhir ini ramai dibuat festival. Ternyata kesenian oklik memiliki sejarah panjang hingga bertahan sampai saat ini. Tim PPKD Bojonegoro tengah menelusuri keberadaan oklik yang khas itu.

Pegiat sekaligus pelaku dan pewaris kesenian oklik generasi ke tiga dari Desa Sobontoro, Kecamatan Balen, Darminto membeberkan sejarah awal nama dan kesenian yang saat ini dipopulerkan di Kabupaten Bojonegoro.

Bahwa, diambilnya istilah oklik atau tongklik bermula saat terjadi masa pagebluk di zaman Belanda. Saat itu, banyak masyarakat yang terserang penyakit mematikan. Saking mematikannya, dikatakan jika ada warga yang sakit saat pagi hari, maka sorenya sudah bisa dipastikan meninggal dunia.

"Ditambah banyak pencuri dan perampok, sehingga timbul kekhawatiran warga setempat akan meninggal,"tuturnya.

Hingga akhirnya ada salah satu warga yang memutuskan untuk mencari "Srono"  atau obat pagebluk dengan bertapa selama 1 bulan. Dari pertapaan, satu warga tersebut mendapatkan 6 jawaban untuk memutus berlangsungnya masa pagebluk.

Keenam wejangan yang diterima yakni agar seluruh warga membuat bunyi-bunyian dari bambu, kemudian dipukuli mengelilingi kampung, lalu disarankan untuk membersihkan kali, menanam kunir, mendirikan "Cakruk" atau pos kampling terakhir disuruh membuat lampu "Teng" atau teplok.

"Tidak pikir panjang, warga langsung membuat semua yang disarankan oleh satu warga sepulang dari bertapa," imbuhnya.

Tanpa pola, waktu itu warga hanya membuat tong-tongan dari bambu. Ada yang dikasih lubang ada juga yang tidak, asalkan menghasilkan bunyi. Akhirnya pencuri dan perampok dan pagebluk tidak pagi berlangsung alias berhenti.

Kegiatan masih berlanjut Meskipun pagebluk sudah hilang hingga akhirnya dibuat media berkumpul di Cakruk. Berlanjut sampai menjadi kebiasaan tiap malam dibunyikan, untuk patroli kemudian. Berkembang ada yang joget kemudian nembang kemudian dibuatkan cerita pahlawan dan perjuangan.

"Istilah nama oklik sendiri diambil dari hasil bunyi bambu yang dipukul, tong-tong-klek,"cerita laki-laki 62 tahun tersebut.

Seiring berjalanya waktu, dari ritual pengusir pagebluk hingga menjadi kebiasaan warga, kemudia berkembang menjadi tontonan rakyat. Bekembang suatu irama bunyi dan kostum oklik, yakni ada irama sesek, lambat, cuekan dengan kostum kaos putih, jarik ditalikan, baju hitam tanpa dikancing, komprang dan udeng saat pementasan.

Terdapat perbedaan istilah juga antara oprak dan oklik, kalau oprak itu dilakukan saat bulan puasa, patrol bahasa sekarang atau patroli. Sedangankan oklik merupakan pertunjukan yang ditonton dengan 6 pemain disertai irama bunyi dan kostum.

Saat ini, tidak lagi banyak pegiat seni oklik yang murni. Semua jenis oklik yang berkembang di masyarakat sudah memiliki banyak modifikasi, sudah sangat berbeda dari segi filosofis dan budaya dari saat munculnya kesenian oklik itu sendiri.

"Tinggal saya yang tersisa, semuanya sudah tua dan punya cucu. Yang masih bisa dikunjungi saat ini ada Sukri, Wartam, Mence dan Kasiran, mereka satu tim dulu dengan saya," pungkasnya kepada blokBojonegoro.com. [fin/ito]

Tag : Oklik, bojonegoro, sejarah, sobontoro, balen

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat