12:00 . PA Batasi Semua Pelayanan Selama Pandemi Covid-19   |   11:00 . Petugas Gabungan Patroli Bubarkan Kerumunan   |   10:00 . Tren Air Bengawan Solo Naik Cukup Cepat   |   09:00 . Efek Corona Omzet Pedagang Jamu Tradisional dan Rempah Meroket   |   08:00 . Update Grafik Perkembangan Covid-19 di Jawa Timur dan Bojonegoro Per 4 April   |   07:00 . Baru Selesai Belanja, Ini Tips agar Bahan Makanan Keluarga Terhindar dari Corona   |   06:00 . Selamat Jalan, Pak Armin...   |   21:00 . Kawal Dana di Desa, Siagakan Ribuan Relawan   |   20:00 . Warga Bubulan ini Pernah Temukan Koin Cina Kuno Saat Mencangkul di Ladang   |   19:00 . Pencarian Korban Tenggelam di Kedungbondo Kembali Dihentikan   |   18:00 . Ahbabul Mustofa Semprot Disinfektan Sampai Bagikan Sembako   |   17:00 . Terus Menurun, Total Ada 56 Orang ODP di Bojonegoro   |   16:00 . Masa Belajar di Rumah Siswa Diperpanjang   |   14:00 . Petugas Gabungan Semprot Disinfektan Hingga Pelosok Bojonegoro   |   13:00 . Timsar Perluas Pencarian Korban Hingga Bengawan Solo   |  
Sun, 05 April 2020
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Friday, 06 September 2019 16:00

Ketua DPRD Bojonegoro 2019-2024

Patuh Kyai, Ingin Dirikan Pondok Sendiri

Patuh Kyai, Ingin Dirikan Pondok Sendiri

Reporter: M. Yazid

blokBojonegoro.com - Menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bojonegoro, tidak terlintas dalam benak Imam Solihin. Apalagi menduduki jabatan ketua di gedung rakyat yang ada di jalan Trunojoyo Bojonegoro.

Sebab warga asli Desa Turi Kecamatan Tambakrejo Bojonegoro ini, setiap harinya disibukkan dengan kegiatan keagamaan dan bercita-cita mempunyai pondok pesantren sendiri.

Imam Solihin dua periode menjadi anggota DPRD Kabupaten Bojonegoro, bahkan untuk periode 2019-2024 diamanahi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), menduduki kursi ketua dewan, meski namanya tidak masuk usulan lima nama ke DPP PKB. Pasalnya partainya mendapatkan 10 kursi pada Pileg 2019, sehingga PKB berhak menempatkan wakilnya menjadi ketua DPRD Kabupaten Bojonegoro.

Diceritakan Imam, sejak kecil ia dibesarkan dari keluarga santri, karena orang tuanya lama menimba ilmu (ngaji) di pondok dan mengabdi untuk kyainya.

"Sejak saya kecil sering diajak 'sowan' (silaturrohim) ke kyai-kyainya bapak," kenang Imam Solihin mengawali pembicaraan dengan blokBojonegoro.com.

Saat itu lanjut Imam mengenang, banyak hal yang diajarkan mulai perilaku sabar dan patuh pada kyai. Sehingga saat tamat SDN Turi 1, ia belajar melanjutkan ke MTs Negeri Bojonegoro, dan mondok di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Rosyid. Ketika hidup mandiri di pondok, ia merasa terlatih bersusah payah dan belajar mendalami agama.

Kemudian Imam kecil melanjutkan ke Madrasah Aliyah (MA) Denanyar Jombang, sekaligus memperdalam ilmu agama disana sekitar 5 tahun. "Saat di Denanyar juga ngodam (ikut kyai) seperti bapak dulu. Mulai belanja, mengepel sampai jaga toko, saya lakukan waktu di pondok," ceritanya sambil tersenyum mengingat masa lalunya.

Selama di Jombang, Imam sempat masuk bangku kuliah di PGRI Jombang sampai dua kali. Pasalnya perkuliahan terbengkalai karena disamping kuliah juga bekerja, sehingga ia harus mendaftar kedua kalinya menjadi mahasiswa baru di kampus yang sama, tapi tidak sampai lulus.

Usai belajar di Jombang, pria kelahiran 4 Juni 1973 pulang ke Desa Turi Kecamatan Tambakrejo, sebelum memilih merantau ke Cirebon pesisir, tepatnya di Desa Gebang Kulon Kecamatan Babalan Kabupaten Cirebon, sekitar beberapa tahun.

Waktu merantau itu ia 'babat alas' di daerah pesisir pantai. Termasuk upayanya mendirikan lembaga pendidikan yang digunakan belajar para anak-anak pesisir. Selain itu Imam sempat menjadi mahasiswa di Universitas Gunung Jati, tapi tidak sampai lulus.

"Di Ceribon dulu menjadi guru, karena senang dunia pendidikan, akhirnya mendirikan lembaga pendidikan dan santrinya waktu itu ada sekitar 150 anak," ungkapnya menceritakan kala itu.

Ditambahkan, sepulangnya dari Cirebon, Imam menghabiskan waktu belajar berorganisasi di Ansor, dengan menjadi ketua PR GP Ansor NU Desa Turi dan pengurus PAC GP Ansor NU Tambakrejo. Selain itu ia juga berjualan pakaian di pasar seputaran Kecamatan Tambakrejo, Ngraho dan sekitarnya sesuai pasaran (hari saat pasar ramai menurut penanggalan jawa) setempat.

Terjun di politik tidak pernah Imam bayangkan. Sebab saat itu ada rapat MWC NU Tambakrejo menginginkan dirinya maju menjadi Caleg PKB mewakili dapil Bojonegoro IV. Merasa tidak paham politik dan bingung, ia tidak pantas menjadi Caleg dan Imam mencari sosok yang pantas menerima amanah kyai tersebut.

"Dulu menjadi Caleg karena disuruh kyai-kyai MWC masuk PKB, waktu itu Ahmad Solikhudin selaku suriah MWC NU Tambakrejo yang mengamanahi," imbuhnya.

Padahal pertama kali menjadi Caleg ia hanya punya modal uang pribadi sekitar Rp60 juta. "Uang itu sudah habis dibuat membuat tim," tuturnya sambil tersenyum merasa tidak percaya bisa menjadi anggota DPRD.

Karena itu amanah para kyai, ia dengan yakin maju menjadi Caleg PKB pada tahun 2014. Hasilnya Imam terpilih menjadi anggota DPRD yang pertama pada tahun 2014-2019, dengan memperoleh dukungan sebanyak 3.301 suara. "Dulu pemula tidak ada rasa takut kalah, karena berjuang disuruh kyai," jelasnya.

Namun periode kedua pada Pileg 2019, ia berfikir matang apakah selama menjadi wakil rakyat sudah memenuhi keinginan rakyat, terutama Dapil Bojonegoro IV. Dan bersyukur, ia bisa terpilih kembali dengan mengantongi  6.654 suara.

Meskipun menjadi anggota DPRD Kabupaten Bojonegoro, anak kedua dari empat bersaudara ini masih menyempatkan diri mengikuti rutinan di luar agenda dewan. Beberapa rutinan yang istiqomah (selalu) diikuti di antaranya setiap Selasa Kliwon ngaji warisan orang tua di musholanya sendiri, kalau Selasa Legi mengaji di Malingmati Kecamatan Tambakrejo, Sabtu Kliwon ikut ngaji rutinan di Kendal dan mengaji thoriqoh.

"Cita-cita saya pingin punya pondok sendiri dan sudah saya siapkan tanah. Ingin diiringi anak ngaji kalau meninggal nanti dan bapak saya ingin anaknya jadi santri atau kyai," tutupnya sangat berharap cita-citanya terwujud. [zid/mu]

Biodata diri:
- Nama: Imam Solihin
- TTL: Bojonegoro, 04 Juni 1973
- Alamat: Desa Turi Kecamatan Tambakrejo Kabupaten Bojonegoro

- Istri:
Pertama: Umi Khabibah (Kharidzoh/Almarhumah)
Kedua: Dzurrotun Nikmah

- Anak:
Ahmad Muhammad Irsyad Al-Haq
Ahmad Muhammad Jauhar Baihaqi

- Saudara:
Imam Maliki
Siti Umu Kalsum
Nurwahyudi

- Pendidikan formal:
SDN Turi 1 Kecamatan Tambakrejo
MTs Negeri Bojonegoro
MA Denanyar Jombang

- Pendidikan Non Formal:
Ponpes Al-Rosyid Dander Bojonegoro
Ponpes Denanyar Jombang

- Pengalaman Organisasi:
GP Ansor
MWC NU Tambakrejo.

Tag : dprd bojonegoro, ketua dprd, imam sholihin


* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

  • Monday, 30 March 2020 12:00

    Menguntungkan, Warga Purwosari Panen Waluh

    Menguntungkan, Warga Purwosari Panen Waluh Petani Desa Tinumpuk, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro berhasil menanam waluh (labu kuning) tumpangsari dengan pohon pisang di tegalannya. Suparno bisa memanen waluh muda 40 buah setiap hari, karena sayuran...

    read more

Lowongan Kerja & Iklan Hemat