08:00 . Belum Berijin dan Jual Miras, Dua Karaoke di Mojoranu Diamankan   |   07:00 . Waspada, Pemberian MPASI Kurang Tepat Bisa Berisiko Stunting   |   19:00 . 3 Orang Sembuh, Tambahan 2 Positif Covid-19   |   18:00 . Hadirkan Hotspot Area Untuk Akses Jangkauan Informasi yang Luas   |   17:00 . Gotong Royong Masyarakat Samin yang Masih Terjaga   |   16:00 . Pandemi, Apakah Pentol Sejati Terdampak?   |   15:00 . Siap Jaga Kyai Dan NKRI, Santri IPSPN-NU Dikukuhkan   |   13:00 . 852 Modin Wanita Dapat Insentif Rp125 Ribu Tiap Bulan   |   12:00 . MTQ di Bojonegoro Dilaksanakan 15 Oktober Mendatang   |   10:00 . Perlancar Aliran Sungai, Pemkab dan Koramil Kerja Bakti   |   08:00 . Angin Kencang Akibatkan Rumah Rusak dan Pohon Tumbang   |   07:00 . Berikut Ciri-Ciri Sakit Jantung   |   23:00 . Makin Maju, Pesantren Mahasiswa Attanwir Diresmikan   |   22:00 . Intip Museum Pertanian di Wisata Edukasi Pejambon   |   21:00 . Wisata Edukasi Pejambon Diresmikan Menteri Desa   |  
Mon, 28 September 2020
Jl. KS Tubun, Gang Srinayan No. 3 Kel. Mojokampung Kota Bojonegoro, Email: blokbojonegoro@gmail.com

Monday, 20 July 2020 07:00

Waspadai Gangguan Menstruasi Lebih Dini dan Berkepanjangan

Waspadai Gangguan Menstruasi Lebih Dini dan Berkepanjangan

Reporter: -

blokBojonegoro.com - Pada periode usia remaja awal, siklus menstruasi atau haid sering tidak teratur mulai saat pertama haid sampai 12-18 bulan setelahnya. Keadaan ini disebabkan karena belum matangnya sistem HPO-axis (hipotalamus-hipofisis-ovarium axis).

Penelitian yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan panjang rata-rata siklus pertama haid adalah 34 hari atau 40 persen, siklus yang lebih lama dari 40 hari ataupun kurang dari 20 hari (10 persen).

Siklus gangguan haid dapat relatif panjang untuk 5-7 tahun pertama, setelah itu semakin berkurang secara bertahap panjang dan menjadi lebih reguler. Rata-rata interval siklus menstruasi reguler adalah sekitar 28 hari.

Menurut, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi RSIA Cahaya Bunda Cirebon, dr. Noviani Riandatari, SpOG, prevalensi adanya siklus anovulasi yang ditandai dengan adanya gangguan haid, lebih tinggi terjadi pada wanita di bawah usia 20 tahun dan di atas usia 40. 

"Hal ini dapat disebabkan karena mekanisme kontrol alami (HPO axis) tidak berjalan baik, sehingga pertumbuhan dan perkembangan struktur endometrium menjadi tidak stabil," katanya, Sabtu (18/7/2020).

Noviani menjelaskan, tanpa pengobatan atau koreksi terhadap penyebab gangguan anovulasi, dapat terjadi perdarahan berat yang berulang atau berkepanjangan. Meskipun sebagian besar wanita dengan perdarahan anovulatoir dapat dikelola secara efektif pada pasien rawat jalan, perdarahan akut mungkin memerlukan rawat inap dan pengobatan darurat.

"Rawat inap diindikasikan untuk wanita dengan perdarahan aktif dengan hemodinamik tidak stabil dan atau disertai gejala anemia karena penyakit kronis lain," terangnya.

Perdarahan haid disebut abnormal apabila terjadi perdarahan akut dan banyak merupakan perdarahan menstruasi dengan jumlah darah haid lebih dari 1 tampon per jam dan atau disertai dengan gangguan hipovolemik, perdarahan bersifat ireguler, perdarahan haid yang lama (lebih dari 12 hari), perdarahan antara 2 siklus haid dan pola perdarahan lain yang ireguler. 

"Menoragia merupakan perdarahan menstruasi dengan jumlah darah haid lebih dari 80 cc atau lamanya lebih dari 7 hari pada siklus yang teratur," imbuhnya.

Disebutkan pula bahwa, apabila perdarahan abnormal haid tidak diobati dapat menyebabkan infertilitas. Infertilitas didefinisikan sebagai suatu keadaan tidak hamil setelah menikah 1 tahun dengan frekuensi berhubungan intim yang teratur. 

"Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan perdarahan haid yang lebih banyak dari seharusnya berasal dari adanya kelainan pada rahim. Kelainan tersebut dapat berupa adanya massa tumor jinak berupa polip maupun mioma pada rahim, maupun massa tumor akibat proses keganasan. Adanya massa ini akan menyebabkan hasil pembuahan sulit menempel dan tumbuh pada dinding rahim," tuturnya.

Penyebab lainnya, dapat berupa gangguan hormonal yang menyebabkan sel telur tidak tumbuh dan pecah (ovulasi) dengan baik. Keadaan ini dapat menyebabkan tidak terjadinya pembuahan, yang berarti pula tidak terjadi kehamilan.

"Perdarahan karena efek samping kontrasepsi dapat pula terjadi pada pengguna progestin (PKK), suntikan depo medroksi progesteron asetat (DMPA) atau AKDR. Perdarahan pada pengguna PKK dan suntikan DMPA kebanyakan terjadi karena proses perdarahan sela. Infeksi Chlamydia atau Neisseria juga dapat menyebabkan perdarahan pada pengguna PKK. Sedangkan pada pengguna AKDR kebanyakan perdarahan terjadi karena endometritis. Apabila keadaan ini tidak segera dikenali dan ditangani dengan proporsional, maka infertilitas dapat terjadi," pungkasnya.

*Sumber: kumparan.com

Tag : pendidikan, kesehatan


* Ingin Beli / Transaksi, Klik di Bawah Ini

Logo WA Logo Telp Logo Blokbeli

Loading...

PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Gunakanlah bahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.

Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.




blokBojonegoro TV

Redaksi

  • Saturday, 22 August 2020 20:00

    Duet Wens-Komang Nahkodai AMSI 2020-2023

    Duet Wens-Komang Nahkodai AMSI 2020-2023 Asosiasi Media Siber Indonesa (AMSI) kembali mempercayakan tampuk kepemimpinan kepada Wensesleus Manggut (Pemred Merdeka.com), sebagai Ketua Umum dan Wahyu Dhyatmika/Komang (Pemred Tempo), sebagai Sekretaris Jenderal periode 2020-2023 pada kongres kedua...

    read more

Suara Pembaca & Citizen Jurnalism

Lowongan Kerja & Iklan Hemat